Perang Revolusi Perancis

Harrison W. Mark
oleh , diterjemahkan oleh Callysta Pasaribu
dipublikasikan pada
Translations 6
bookmark_addbookmark_addedSimpan Artikel printCetak picture_as_pdfPDF
Map of the French Revolution and Wars 1789-99 (by Simeon Netchev, CC BY-NC-ND)
Peta Revolusi Prancis dan Perang 1789-1799 Simeon Netchev (CC BY-NC-ND)

Perang Revolusi Prancis (1792-1802) adalah serangkaian konflik yang muncul dari ketegangan seputar Revolusi Prancis (1789-1799). Perang ini terjadi antara Prancis Revolusioner dan beberapa kekuatan Eropa, terutama Austria, Prusia, Rusia, Spanyol, dan Inggris Raya. Sepuluh tahun konflik menghasilkan kemenangan Prancis dan kebangkitan Napoleon.

Perang Revolusi sering dibagi menjadi dua tahap: Perang Koalisi Pertama (1792-1797) dan Perang Koalisi Kedua (1798-1802). Perang ini awalnya dilakukan untuk membela Revolusi Prancis; namun, segera berubah menjadi perang penaklukan. Pada tahun 1802, Republik Prancis telah menaklukkan Negara-negara Rendah, Italia utara, dan sebagian Rhineland. Beberapa wilayah ini dimasukkan langsung ke Prancis, sementara yang lain diubah menjadi negara klien Prancis yang dikenal sebagai 'republik saudara'.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Perang-perang tersebut juga menyebabkan munculnya Jenderal Napoleon Bonaparte (1769-1821) yang populer, yang merebut kendali Prancis pada tahun 1799 dan memimpin Prancis meraih kemenangan melawan Koalisi Kedua. Perjanjian Amiens, yang ditandatangani pada 25 Maret 1802, menandai berakhirnya Perang Revolusi, tetapi permusuhan akan kembali meletus, memulai Perang Napoleon (1803-1815). Meskipun Perang Napoleon merupakan kelanjutan dari konflik Revolusi, perang ini dikategorikan secara terpisah karena, alih-alih berpusat pada Revolusi, perang ini disebabkan oleh ambisi kekaisaran Napoleon, yang menobatkan dirinya sebagai kaisar pada tahun 1804.

Beberapa konflik lain berkembang karena Perang Revolusi; ini termasuk Revolusi Haiti (1791-1804), dan Perang Quasi (1798-1800) antara Prancis dan Amerika Serikat. Periode Perang Revolusi juga mencakup beberapa pemberontakan dan perang saudara Prancis, termasuk Perang di Vendée (1793-1796), Chouannerie (1794-1800), dan Pemberontakan Federalis (1793). Pertempuran laut juga terjadi di Karibia dan India, tempat pihak-pihak yang bertikai memiliki koloni.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Asal-usul: 1789-1792

PADA BULAN AGUSTUS 1791, penguasa-penguasa AUSTRIA DAN PRUSIA MENYERUKAN KEKUATAN-KEKUATAN EROPA UNTUK BERSATU MELAWAN PRANCIS YANG REVOLUSIONER.

Revolusi Prancis dimulai pada 5 Mei 1789, ketika Majelis Perwakilan Rakyat (Estates-General) tahun 1789 berkumpul di Versailles untuk membahas krisis keuangan yang akan datang. Namun, kebuntuan terjadi ketika Golongan Ketiga (rakyat jelata) menolak untuk melakukan pemungutan suara, karena khawatir bahwa dua golongan atas (pendeta, bangsawan) akan selalu mengalahkan mereka dalam pemungutan suara. Ketegangan terus meningkat hingga Golongan Ketiga memisahkan diri dari proses tersebut dengan membentuk Majelis Nasional; upaya Raja Louis XVI dari Prancis (berkuasa 1774-1792) untuk memulihkan ketertiban dengan memanggil tentara ke wilayah Paris malah menjadi bumerang ketika ribuan warga Paris yang marah menyerbu benteng Bastille pada 14 Juli. Majelis Nasional menghapus feodalisme dalam Dekrit Agustus, dan, pada 5-6 Oktober, Pawai Perempuan ke Versailles memaksa raja untuk menerima monarki konstitusional dan kembali ke Paris sebagai tahanan virtual.

Para raja Eropa menyaksikan semua ini dengan perasaan gelisah. Setiap kali Revolusi mencapai kemajuan, revolusi tersebut menjadi semakin radikal, dan banyak yang percaya bahwa hanya masalah waktu sebelum revolusi itu meluas ke luar perbatasan Prancis. Pada Agustus 1791, raja Austria dan Prusia mengeluarkan Deklarasi Pillnitz bersama, menyerukan kekuatan-kekuatan Eropa untuk bersatu melawan Prancis Revolusioner. Meskipun ini dimaksudkan hanya untuk menakut-nakuti para revolusioner agar mengejar kebijakan yang kurang radikal, hal itu justru memiliki efek sebaliknya, meyakinkan orang Prancis bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan Revolusi mereka adalah melalui perang. Pada akhir tahun 1791, faksi pro-perang, kaum Girondin, telah memperoleh kekuasaan di Paris; pemimpin mereka, Jacques-Pierre Brissot, menyerukan 'perang salib universal' untuk membawa pencapaian pencerahan Revolusi kepada rakyat Eropa yang tertindas dengan kekuatan bayonet. Pada tanggal 20 April 1792, Majelis Legislatif Prancis secara resmi menyatakan perang terhadap Austria.

Sisihkan pariwara
Advertensi
Declaration of Pillnitz
Deklarasi Pillnitz Johann Heinrich Schmidt (Public Domain)

Brunswick Menginvasi: 1792

Brissot dan para pengikutnya telah menjanjikan perang yang cepat, di mana tentara-warga negara Prancis akan dengan mudah mengalahkan tentara-tentara budak dari Eropa yang despotik, tetapi hal ini tidak terjadi. Pada hari-hari pertama perang, Prancis dengan cepat dikalahkan oleh pasukan Austria yang profesional dalam pertempuran kecil di Quiévrain dan Marquain. Setelah satu kekalahan, tentara Prancis yang tidak disiplin menghukum mati komandan mereka, Théobald Dillon. Keadaan menjadi lebih suram setelah komandan pasukan Prancis, Marquis de Lafayette, meninggalkan posnya dan ditangkap oleh Austria dalam perjalanannya ke Amerika Serikat.

Pada bulan Mei, Prusia bergabung dalam perang sebagai sekutu Austria, membentuk Koalisi Pertama. Pasukan invasi berkumpul di sepanjang Sungai Rhine, dipimpin oleh Charles William Ferdinand, Adipati Brunswick. Namun, invasi Prusia dimulai dengan lambat, karena sifat Brunswick yang berhati-hati dan disentri yang melanda barisan Prusia. Pada tanggal 25 Juli, para penyerbu mengeluarkan manifesto Brunswick, yang berjanji akan menghancurkan Paris jika keluarga kerajaan Prancis celaka. Karena panik, warga Paris menyalahkan raja mereka atas invasi Prusia. Pada tanggal 10 Agustus, ribuan warga Paris membantai Pengawal Swiss raja dalam Penyerbuan Istana Tuileries, yang menyebabkan Louis XVI dan keluarganya dipenjarakan.

Storming of the Tuileries
Penyerbuan Tuileries Jean Duplessis-Bertaux (Public Domain)

Pasukan Prusia terus maju, merebut benteng-benteng penting Prancis di Longwy (23 Agustus) dan Verdun (2 September). Hal ini membuka jalan lebar menuju Paris, dan warga Paris, sekali lagi diliputi rasa takut, menyerang penjara-penjara kota, membantai 1.100 tahanan kontra-revolusioner dalam Pembantaian September. Namun, bersamaan dengan histeria paranoid, rakyat Prancis juga diliputi tekad untuk mempertahankan tanah air mereka. Mereka didorong oleh para pemimpin revolusioner seperti Georges Danton, yang berjanji bahwa dengan "keberanian, keberanian lagi, keberanian selamanya, Prancis akan diselamatkan!" (Bell, 130). Memang, tampaknya keberanian akan menyelamatkan Prancis ketika, di luar dugaan, pasukan Prancis yang compang-camping di bawah pimpinan jenderal Charles-François Dumouriez dan François-Christophe Kellermann menghentikan invasi Prusia di Pertempuran Valmy (20 September). Kemenangan ajaib Prancis memastikan kelangsungan Revolusi tetapi juga memicu 23 tahun peperangan abadi yang tidak akan berakhir hingga Pertempuran Waterloo pada tahun 1815.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Tanah Air dalam Bahaya: 1792-93

Setelah Valmy, Brunswick bernegosiasi untuk mundur dan memimpin pasukan Prusia kembali ke Jerman, memungkinkan Dumouriez untuk melakukan serangan dan menginvasi Belanda Austria (Belgia). Dumouriez memenangkan Pertempuran Jemappes (6 November) dan menduduki Belgia pada akhir tahun. Di tempat lain, Jenderal Prancis Adam Philippe de Custine menduduki beberapa kota di sepanjang Sungai Rhine dan maju hingga Frankfurt, sementara pasukan Prancis lainnya merebut Nice dan Savoy. Di Paris, keberhasilan di Valmy mendorong Konvensi Nasional untuk memproklamirkan Republik Prancis hanya sehari setelah pertempuran, dan semangat nasionalis terus tumbuh. Danton mengumumkan bahwa sudah menjadi takdir Prancis untuk berekspansi hingga perbatasannya menyentuh Sungai Rhine.

Para revolusioner Prancis menjadi begitu berani sehingga mereka mengadili Louis XVI dan mengeksekusinya pada 21 Januari 1793. Hal ini mengejutkan sebagian besar Eropa, dengan Perdana Menteri Inggris William Pitt Muda menyebutnya sebagai "tindakan paling keji dan mengerikan yang pernah dilihat dunia" (Schama, 687). Britania mulai memobilisasi pasukannya, tetapi Prancis mendahuluinya dengan menyatakan perang terhadap Britania dan Republik Belanda pada bulan Februari; Spanyol, Portugal, dan Napoli bergabung dengan Koalisi Pertama sekitar waktu yang sama. Dumouriez diperintahkan untuk menyerang Belanda tetapi dihentikan oleh pasukan Austria yang dipimpin oleh Pangeran Josias dari Saxe-Coburg-Saalfeld pada Pertempuran Neerwinden (18 Maret 1793). Pasukan Dumouriez segera dipaksa untuk bertahan dan diusir dari Negara-negara Rendah; Dumouriez sendiri membelot ke pihak Austria pada tanggal 6 April. Sementara itu, Prusia telah mengusir Custine dari Rhineland dan mengepung Mainz yang diduduki Prancis (14 April hingga 23 Juli).

Battle of Neerwinden, 1793
Pertempuran Neerwinden, 1793 Johann Nepomuk Geiger (Public Domain)

Semua ini menimbulkan kekhawatiran di Paris, tetapi krisis memburuk ketika perselisihan antara berbagai faksi revolusioner meletus menjadi perang saudara. Pada Maret 1793, para petani di wilayah Vendée yang konservatif bangkit memberontak setelah Paris memperkenalkan tindakan wajib militer massal; para pemberontak Vendée mengambil alih perjuangan royalis dan membentuk diri mereka menjadi Tentara Katolik dan Kerajaan yang dipimpin oleh Jacques Cathelineau yang berani. Pada bulan Juni, beberapa kota memberontak melawan pemerintah Jacobin yang ekstremis dalam pemberontakan federalis. Salah satu kota federalis, Toulon, adalah rumah bagi seluruh Armada Mediterania Prancis, yang memberikan pukulan besar bagi upaya perang Prancis ketika Toulon mengizinkan armada Inggris-Spanyol memasuki pelabuhannya pada bulan Agustus. Semua perselisihan internal ini terjadi pada saat Spanyol mendorong melintasi Pyrenees ke Prancis selatan sementara tentara Austria pimpinan Coburg mengepung beberapa benteng penting di Prancis timur laut; tampaknya hanya masalah waktu sebelum Republik Prancis yang masih muda itu tercekik di buaiannya.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Tak lama setelah pengkhianatan Dumouriez pada April 1793, Danton mengatur pembentukan Komite Keamanan Publik, yang bertugas untuk mengungkap pengkhianatan. Seiring memburuknya krisis selama musim panas, komite tersebut mengumpulkan kekuasaan diktator. Pada bulan September, komite tersebut dikendalikan oleh faksi radikal Jacobin yang disebut Gunung, yang pemimpinnya, Maximilien Robespierre, dengan kejam memburu tersangka pengkhianat dan kontra-revolusioner selama sepuluh bulan Masa Teror. Selama waktu ini, antara 300.000-500.000 warga Prancis ditangkap di seluruh negeri; 16.594 di antaranya dipenggal setelah diadili, 10.000 lainnya meninggal di penjara, dan ribuan lainnya dibunuh dalam pembantaian di luar hukum. Pemberontakan Lyon, misalnya, berakhir dengan pembantaian brutal terhadap pemberontak federalis kota itu, sementara sekitar 10.000 pemberontak Vendean dan Katolik dibunuh dalam peristiwa tenggelam di Nantes.

Drownings at Nantes
Kasus tenggelam di Nantes Joseph Aubert (Public Domain)

Korban terkenal dari Teror tersebut termasuk Danton, Brissot, dan banyak mantan pemimpin revolusioner lainnya yang telah menjadi ancaman bagi kekuasaan Robespierre. Namun, pembelotan Lafayette dan Dumouriez menyebabkan Komite juga memperketat pengawasan terhadap pasukan. Perwakilan Jacobin dikirim untuk mengawasi para jenderal dan melaporkan setiap tanda pengkhianatan; bahkan kekalahan di medan perang dapat diartikan sebagai sabotase yang disengaja dan mengakibatkan eksekusi. Terlepas dari keberhasilannya sebelumnya, Jenderal Custine dipenggal karena kehilangan Rhineland, sementara Jenderal Nicolas Houchard dieksekusi setelah kemenangannya di Pertempuran Hondschoote karena gagal memanfaatkan kemenangan tersebut. Setidaknya 84 jenderal Prancis dan puluhan perwira dieksekusi selama Teror; ancaman guillotine yang membayangi memberi pasukan Prancis dorongan ekstra untuk meraih kemenangan.

Jalan Menuju Kemenangan (1793-1797)

Pada Agustus 1793, menteri perang Prancis Lazare Carnot menerapkan levée en masse, yang secara efektif menyatakan perang total; setiap warga negara Prancis diharapkan untuk berkontribusi dalam upaya perang dan semua laki-laki antara 18 dan 25 tahun memenuhi syarat untuk wajib militer. Prancis mampu mengerahkan 14 pasukan dan sekitar 700.000 tentara pada September 1794. Para rekrutan Prancis mengimbangi kurangnya disiplin dan pelatihan mereka dengan élan atau semagngat revolusioner mereka; pertempuran sering dimenangkan oleh gelombang serangan bayonet yang gila-gilaan yang dilakukan oleh pasukan Prancis yang fanatik. Sebaliknya, negara-negara koalisi terpecah oleh poin-poin perselisihan di tempat lain di Eropa, yaitu pembagian Polandia yang sedang berlangsung, yang menyebabkan ketidakpercayaan timbal balik dan kerja sama yang kurang efektif.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Pada akhir tahun 1793, Prancis memenangkan serangkaian kemenangan melawan tentara Anglo-Belanda-Austria pimpinan Coburg di Pertempuran Hondschoote (8-9 September) dan Pertempuran Wattignies (15-16 Oktober). Setelah kedua pasukan menetap di markas musim dingin, Prancis melancarkan kampanye tahun berikutnya dengan kemenangan di Pertempuran Tourcoing (17-18 Mei 1794), dan di Pertempuran Fleurus (26 Juni). Fleurus menandai kekalahan terakhir pasukan multinasional Coburg dan bisa dibilang merupakan pertempuran yang menentukan dalam perang tersebut, karena setelah itu Prancis terus meraih kemenangan. Pasukan Katolik dan Kerajaan dikalahkan di Pertempuran Nantes (14 Juni 1793) di mana pahlawan royalis Cathelineau terbunuh; setelah itu pasukan Republik Prancis melintasi Vendée dalam kampanye hukuman, membakar tanaman dan desa, dan membunuh sebanyak 50.000 penduduk Vendée. Pemberontakan Federalis berakhir pada akhir tahun 1793, dan Prancis terbukti menang dalam Pengepungan Toulon yang vital, mengusir armada Inggris-Spanyol. Serangkaian kemenangan Prancis ini meniadakan kebutuhan akan kediktatoran Komite Keamanan Publik, yang menyebabkan jatuhnya Maximilien Robespierre (28 Juli 1794) dan pergeseran konservatif Reaksi Thermidorian.

Robespierre Taken to the Guillotine
Robespierre Dibawa ke Guillotine Alfred Mouillard (Public Domain)

Sementara itu, pasukan Prancis menguasai Belanda pada tahun 1795 dan mendirikan Republik Batavia sebagai negara klien pertama dari banyak negara klien lainnya. Prusia dan Spanyol menarik diri dari perang, dan Jenderal Prancis Lazare Hoche berhasil memukul mundur pendaratan pasukan Inggris dan emigran Prancis di Pertempuran Quiberon (23 Juni hingga 21 Juli 1795). Namun, puncak dari tahap perang ini tidak diragukan lagi terjadi di Italia, di mana seorang jenderal kelahiran Korsika berusia 26 tahun bernama Napoleon Bonaparte meraih serangkaian kemenangan gemilang melawan tentara Austria. Jenderal Bonaparte telah memenangkan hati pasukannya dengan gaya kepemimpinannya yang energik, setelah mengalahkan Austria di Pertempuran Lodi (10 Mei 1796), Pertempuran Arcole (15-17 November 1796), dan Pertempuran Rivoli (14 Januari 1797). Kampanye Italia Napoleon memaksa Austria untuk menyerah, menandatangani Perjanjian Campo Formio pada Oktober 1797; hal itu juga melambungkan Bonaparte yang sebelumnya tidak dikenal menjadi bintang terkenal.

Koalisi Kedua (1798-1802)

Pada awal tahun 1798, setiap negara telah berdamai dengan Republik Prancis, kecuali Inggris Raya. Berharap untuk mematahkan kekuatan Inggris di Mediterania dan meraih kejayaan bagi dirinya sendiri di Timur, Jenderal Bonaparte mengusulkan ekspedisi militer ke Mesir; sebuah koloni Mesir akan menambah kas Prancis yang sedang kesulitan dan dapat mengancam kekuatan Inggris di India. Setelah menerima izin dari pemerintah Republik, Direktorat Prancis, Bonaparte berlayar ke Mesir pada bulan Juni dengan memimpin 38.000 orang. Ia merebut pulau Malta sebelum mendarat di Alexandria, Mesir. Bonaparte kemudian memimpin pawai melalui gurun Mesir, mengalahkan pasukan Mamluk dalam Pertempuran Piramida (21 Juli), dan merebut Kairo.

Sisihkan pariwara
Advertensi
Napoleon in Egypt
Napoleon di Mesir Jean-Léon Gérôme (Public Domain)

The French navy that had transported Bonaparte was waiting in Aboukir Bay, where it was attacked by a British fleet under Rear-Admiral Horatio Nelson on 1 August 1798. The ensuing Battle of the Nile resulted in the complete destruction of the French fleet, trapping Bonaparte's army in Egypt. Nelson's victory emboldened France's enemies to form a Second Coalition, this time including Russia, Austria, and Naples (but excluding Prussia, who remained neutral, and Spain, now a French ally). The Austrians won several initial victories in the Rhineland, while a Russo-Austrian force under the celebrated Russian General Alexander Suvorov reclaimed much of northern Italy. The French reacted to this threat by implementing mass conscription again.

Meanwhile, Bonaparte had been defeated by an Anglo-Ottoman force at the Siege of Acre (1799). Abandoning his army in Alexandria, he returned to France where he seized power in the Coup of 18 Brumaire and ended the French Revolution. Now serving as First Consul of the French Republic, Bonaparte led an army across the Alps and into Italy, where he won a major victory over the Austrians at the Battle of Marengo (14 June 1800). Austrian military power was further broken by the French victories at the Second Battle of Zurich (25-26 September 1799) and the Battle of Hohenlinden (3 December 1800).

Napoleon Crossing the Alps, Belvedere Version
Napoleon Menyeberangi Pegunungan Alpen, Versi Belvedere Jacques-Louis David (Public Domain)

Ketika Prancis mulai menang, Koalisi Kedua runtuh. Tsar Paul I dari Rusia berselisih dengan sekutunya dan menarik Rusia keluar dari perang pada tahun 1800. Paul menjadi marah ketika kapal-kapal Inggris mulai menyita kapal-kapal netral sebagai bagian dari blokade Inggris terhadap Prancis; sebagai tanggapan, tsar membentuk Liga Netralitas Bersenjata. Terdiri dari Denmark, Swedia, Prusia, dan Rusia, liga tersebut mengancam Inggris dengan perang jika serangan terhadap kapal-kapal netral terus berlanjut. Paul juga melakukan pembicaraan dengan Prancis tentang potensi aliansi Prancis-Rusia tetapi dibunuh pada Maret 1801. Liga Netralitas Bersenjatanya runtuh sebulan kemudian ketika Inggris menghancurkan armada Denmark pada Pertempuran Kopenhagen Pertama (2 April).

Perdamaian Amiens

Pada tahun 1801, Austria menandatangani Perjanjian Lunéville dan keluar dari perang, mengukuhkan perolehan wilayah Prancis di Italia. Inggris awalnya bertekad untuk terus berperang dan mengalahkan sisa-sisa tentara Mesir Bonaparte di Pertempuran Alexandria (21 Maret 1801), merebut kota itu enam bulan kemudian. Namun, Inggris akhirnya berdamai dengan Prancis, membuat perjanjian damai dengan Perjanjian Amiens (25 Maret 1802). Meskipun perjanjian itu hanya berlaku selama satu tahun, perjanjian itu menandai berakhirnya Perang Revolusi. Serangkaian konflik berikutnya, yang dimulai pada Mei 1803 dan berakhir pada Juni 1815, merupakan Perang Napoleon.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Pada akhir Perang Revolusi, Prancis menguasai Negara-negara Rendah, tepi kiri Sungai Rhine, dan hampir seluruh Italia. Prancis telah menciptakan beberapa republik saudara termasuk Republik Batavia (Belanda), Republik Cisalpina (Italia utara), dan Republik Helvetia (Swiss), di antara yang lainnya; Setelah penobatan Napoleon I sebagai Kaisar Prancis pada tahun 1804, republik-republik ini diubah menjadi kerajaan klien atau langsung dimasukkan ke dalam Kekaisaran Prancis.

Napoleon in Coronation Robes
Napoleon Sedang Memakai Jubah Penobatan François Gérard (Public Domain)

Konflik Lainnya

Beberapa konflik lain terkait dengan Perang Revolusi. Misalnya, para budak di koloni Prancis Saint-Domingue terinspirasi oleh cita-cita Revolusi Prancis untuk memberontak melawan tuan mereka pada tahun 1791. Hal ini berkembang menjadi Revolusi Haiti, ketika mantan budak berhasil menangkis beberapa invasi Eropa. Setelah dua belas tahun pertumpahan darah, Haiti akhirnya meraih kemerdekaannya pada tahun 1804, satu-satunya negara yang didirikan oleh pemberontakan budak.

Konflik terkait lainnya adalah Perang Quasi (1798-1800) antara Prancis dan Amerika Serikat, yang dimulai setelah Amerika Serikat menolak untuk membayar kembali pinjaman Prancis yang diambil selama Perang Kemerdekaan Amerika (1775-1783). Hal ini menyebabkan serangkaian pertempuran antara kapal-kapal Prancis dan Amerika. Perang tersebut, yang menandai salah satu ujian pertama Angkatan Laut Amerika, mereda ketika negosiasi diplomatik menghasilkan perdamaian pada Konvensi 1800. Pemulihan hubungan baik Prancis-Amerika membuka jalan bagi Pembelian Louisiana (1803).

Sisihkan pariwara
Advertensi

Pertanyaan & Jawaban

Apa itu Perang Revolusi Prancis?

Perang Revolusi Prancis (1792-1802) adalah konflik yang dipicu oleh Revolusi Prancis (1789-1799). Perang ini diperjuangkan oleh Prancis Revolusioner melawan beberapa kekuatan Eropa, terutama Austria, Prusia, Rusia, dan Inggris. Perang ini mengakibatkan munculnya Napoleon dan menyebabkan Perang Napoleon.

Apa yang mengakhiri Perang Revolusi Prancis?

Perang Revolusi Prancis biasanya dikatakan telah berakhir pada tahun 1802 dengan Perjanjian Amiens, namun, pertempuran berlanjut hingga tahun 1815 dalam kategori Perang Napoleon.

Berapa banyak perang revolusioner yang terjadi di Prancis?

Prancis mengalami dua perang revolusioner: Perang Koalisi Pertama (1792-1797) dan Perang Koalisi Kedua (1798-1802). Namun, ada beberapa perang tambahan yang terkait dengan Revolusi Prancis, termasuk Perang di Vendée, Pemberontakan Federalis, Revolusi Haiti, dan Perang Quasi.

Apa penyebab Perang Revolusi Prancis?

Perang Revolusi Prancis disebabkan oleh permusuhan yang muncul antara Prancis dan para raja Eropa akibat Revolusi Prancis.

Tentang Penerjemah

Tentang Penulis

Sitasi Karya Ini

Gaya APA

Mark, H. W. (2026, September 22). Perang Revolusi Perancis. (C. Pasaribu, Penerjemah). World History Encyclopedia. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-21075/perang-revolusi-perancis/

Gaya Chicago

Mark, Harrison W.. "Perang Revolusi Perancis." Diterjemahkan oleh Callysta Pasaribu. World History Encyclopedia, September 22, 2026. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-21075/perang-revolusi-perancis/.

Gaya MLA

Mark, Harrison W.. "Perang Revolusi Perancis." Diterjemahkan oleh Callysta Pasaribu. World History Encyclopedia, 22 Sep 2026, https://www.worldhistory.org/trans/id/1-21075/perang-revolusi-perancis/.

Sisihkan pariwara