Batu Khan

Ikhtisar

Michael Goodyear
oleh , diterjemahkan oleh Christo Sylvano
diterbitkan pada 04 Oktober 2019
X
translations icon
Tersedia dalam bahasa lain: Bahasa Inggris, Prancis, Turki
Batu Khan (by Vikiçizer, CC BY-SA)
Batu Khan
Vikiçizer (CC BY-SA)

Batu Khan (1205-1255) adalah cucu dari Genghis Khan dan sang pendiri Gerombolan Emas. Batu adalah seorang komandan Mongol yang terlatih dan telah memenangkan beberapa pertempuran dari Cina hingga ke Persia, meskipun prestasinya yang terkenal melibatkan kampanye besar-besaran bangsa Mongol ke wilayah Eropa dari tahun 1236-1241, dimana mereka menghancurkan pasukan dari Rusia, Polandia, dan Hungaria, juga lainnya. Batu kelak akan berperan sebagai penentu Khan Agung bagi Kekaisaran Mongol, dan untuk sementara waktu, menjadi orang paling kuat di kekaisaran tersebut.

Lahir di Atas Pelana

Batu lahir sekitar tahun 1205, bertepatan dengan waktu dimana Temujin diproklamirkan sebagai Genghis Khan dan menyatakan bahwa dirinya adalah penguasa seluruh suku Mongol (1206-1227). Batu adalah putra Jochi, putra tertua Genghis, sehingga dia dilahirkan dalam tingkatan tertinggi masyarakat Mongol. Namun, Jochi lahir setelah klan musuh menculik istri Genghis, Borte, sehingga Genghis tidak yakin apakah Jochi memang putranya. Walau begitu, Batu tetap dianggap sebagai cucu dari Khan Agung.

Sisihkan pariwara

Advertisement

BATU MEMILIKI POTENSI UNTUK MEMERINTAH WILAYAH TERBESAR DI DALAM KEKAISARAN MONGOL.

Kehidupan Batu tidaklah mudah meskipun dia dilahirkan sebagai bangsawan Mongol. Bangsa Mongol adalah sekelompok suku nomaden yang tersebar di sepanjang stepa dan gemar berpindah-pindah saat musim berganti. Mereka tinggal di tenda berbahan yurt yang mudah dipindahkan. Anak-anak bangsa Mongol belajar menunggang kuda sedari kecil, kemudian diikuti dengan belajar memanah dan bergulat. Ciri khas yang masih memiliki nilai di dalam masyarakat Mongol hingga saat ini, turut membantu menciptakan mesin perang menakutkan yang Genghis bawa ke seluruh belahan dunia. Karena didikan semacam itu, Batu pun menjadi penunggang kuda yang handal serta ahli di dalam seni perang Mongol ketika dia tumbuh dewasa.

Warisan Barat

Ketika Kekaisaran Mongol semakin bertambah besar dibawah kepemimpinan Genghis Khan yang juga menaklukkan bagian utara Cina dan seluruh Asia Tengah, hingga menyentuh pinggiran Eropa dan Timur Tengah, dia pun mempersiapkan beberapa wilayah untuk keempat putranya. Sesuai tradisi Mongol, anak tertua mendapatkan wilayah yang paling jauh dari tanah kelahirannya, sehingga Jochi mendapatkan seluruh wilayah dari Sungai Ural hingga ke, menurut sejarawan Persia Juvaini, "arah sejauh kaki kuda-kuda Tartar (Mongol) melangkah" (42). Jochi meninggal di tahun yang sama dengan Genghis dan dewan keluarga bangsawan atau kurultai kemudian menyusun pembagian wilayah pada tahun 1229.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Genghis Khan's Empire
Kekaisaran Genghis Khan
Arienne King (CC BY-NC-SA)

Setelah kematian Jochi di tahun 1227, Batu dan kakaknya, Orda, membagi wilayah Jochi untuk diri mereka sendiri. Orda pun setuju jika Batu menjadi penerus Jochi sehingga dia mengambil wilayah yang berdekatan dengan tanah kelahirannya, sedangkan Batu mengambil seluruh wilayah di bagian barat Volga. Walaupun pasukan Mongol pernah mengembara jauh ke dalam Volga, tetapi hanya sedikit wilayah yang tunduk pada kekuasaan mereka. Batu memiliki potensi untuk memerintah wilayah terbesar di dalam Kekaisaran Mongol, tetapi untuk saat ini, masih berpotensi saja.

Potensi ini kemungkinan tidak bisa terwujud di tahun 1229. Menurut adat, Genghis memberikan sebagian besar prajuritnya kepada putra bungsunya, dan ketiga putranya yang lain hanya memiliki masing-masing 4,000 prajurit. Kurultai memilih putra ketiga Genghis, Ogedei (1229-1241) sebagai Khan Agung yang baru, dan Ogedei Khan tampaknya bersikukuh untuk menaklukkan sisa wilayah di bagian utara Cina. Batu pun ikut dalam kampanye perang ini yang akhirnya menghancurkan wilayah Jurchen Jin di tahun 1234. Pada kurultai berikutnya, Ogedei membuktikan bahwa dirinya memang putra sejati ayahnya. Pasukan Mongol yang mematikan tidak hanya menyerang satu musuh saja, tetapi mereka membuka banyak medan perang di seluruh dunia. Sasaran selanjutnya adalah Dinasti Song di bagian selatan Cina, kemudian Korea, lalu yang penting bagi Batu, juga Eropa.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Menuju ke Barat

LEBIH DARI 100,000 PRAJURIT YANG HENDAK MENUJU KE WILAYAH BATU DIKUMPULKAN & MENJADIKAN MONGOL SEBUAH NAMA YANG TIDAK AKAN PERNAH DILUPAKAN OLEH EROPA.

Odegei memberi perintah pada Batu untuk memulai kampanye perang di Eropa. Lebih dari 100,000 prajurit dikumpulkan untuk menuju ke wilayah Batu dan menjadikan Mongol sebuah nama yang tidak akan pernah dilupakan oleh Eropa. Subutai berada di antara mereka. Subutai adalah salah satu dari keempat orloks, atau panglima tertinggi Genghis Khan. Dalam The Secret History of the Mongols, keempat orloks disamakan dengan "empat anjing perang Temujin," yang memangsa daging dan melepaskan malapetaka kemana pun mereka pergi. Subutailah sebenarnya yang menjadi komandan untuk kampanye perang ke barat ini. Bukan hanya karena pengalamannya dalam memimpin yang patut untuk ditiru, tetapi juga karena dia telah memenangkan peperangan di Rusia pada masa Genghis Khan. Selama kampanye perang Mongol melawan Kekaisaran Khwarezmia, Subutai dan Jebe, salah satu dari "anjing perang" Genghis, memimpin serangan kavaleri besar-besaran dari Azerbaijan hingga ke pegunungan Kaukasus dan masuk ke dalam wilayah Rusia. Serangan tersebut membinasakan pasukan dari Georgia dan menciptakan penjarahan pada seluruh pedesaan di sepanjang stepa Rusia. Pada tahun 1223, bangsa Cuman dan para pemimpin konfederasi Rusia bekerja-sama untuk menghentikan serangan mematikan tersebut. Di Pertempuran Sungai Kalka, pasukan penyerang Mongol menghancurkan pasukan Rusia dan membunuh Mstislav III dari Kiev (1212-1223). Pada kampanye perang ini, Subutai akan menggunakan pengalaman tersebut, tidak lagi untuk menyerang seperti yang dilakukannya pada tahun 1223, tetapi untuk menaklukkan secara penuh.

Beberapa sepupu Batu juga ikut di dalam kampanye perang ini. Putra Ogedei, Kadan, sang pewaris wilayah Ogedei, memimpin sebuah divisi selama kampanye berlangsung. Penerus sang Khan Agung, Guyuk (1246-1248) dan Mongke (1251-1259) juga ikut dalam kampanye ini. Sama seperti kampanye perang Genghis Khan, kampanye perang melawan Eropa juga melibatkan seluruh keluarga. Dan, kampanye ini adalah kampanye terbesar dan terakhir yang melibatkan seluruh wilayah gabungan dari Kekaisaran Mongol.

Membuka Jalan dengan Mayat & Api

Wilayah di Eropa yang terpecah-belah mempersenjatai para pasukan wajib militer dan para ksatria mereka dengan zirah serta pelindung tubuh, untuk menghadapi pasukan mematikan yang memiliki komandan cakap dan pemanah berkuda menakutkan. Kisah tentang pasukan yang menjelma sebagai amarah tuhan dan telah menumbangkan kaisar Cina serta raja Persia, begitu juga dengan pengalaman langsung dari para penyintas Pertempuran Sungai Kalka, telah sampai ke Barat. Para raja dan pangeran Eropa mungkin punya gambaran tentang kengerian apa saja yang akan mereka hadapi, tetapi pada kenyataannya, mereka tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Pada tahun 1236, pasukan Mongol berhasil melintasi Volga. Volga Bulgaria berhasil ditaklukkan dalam setahun, begitu juga dengan bangsa Kipchak dan Alan. Dengan terusirnya bangsa semi-nomaden, maka wilayah Eropa Kristen terbuka lebar. Kemudian, Batu mengirimkan utusannya untuk menuntut aliansi dari para pangeran Rusia. Saat mereka menolak, kota-kota pun dikepung dalam beberapa hari sebelum dijarah. Ketika Raja Yuri II (1212-1216, 1218-1238) menolak untuk menyerah pada tahun 1238, pasukannya pun dihancurkan, kotanya dimusnahkan, dan keluarganya dibantai. Wilayah Rusia yang tersisa juga bernasib sama, kecuali Smolensky (karena memberikan upeti) dan Novgorod (karena jarak yang jauh). Kemudian, di tahun yang sama, Batu menjarah kota besar Kiev, ibukota dari agama Orthodox Rusia lalu menyerang lewat Krimea. Lebih banyak kota-kota di Rusia yang jatuh pada tahun berikutnya, diikuti dengan kejatuhan kota Halych yang tangguh pada tahun 1240.

The Mongols Sack Suzdal
Pasukan Mongol Menjarah Suzdal
Unknown Artist (Public Domain)

Meskipun kampanye perang selama tiga tahun di Rusia memang mengesankan, tetapi tidak sebanding dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pasukan Mongol masih bersemangat, utuh, dan siap untuk menjarah lebih banyak. Di hadapan mereka terbentang kerajaan-kerajaan Eropa abad pertengahan yang sebenarnya: ksatria berzirah, para prajurit Salib dari Baltik, dan beberapa kerajaan Eropa yang begitu luas. Walaupun kekuatan militer di wilayah Polandia, Bohemia, Jerman, dan Hungaria mungkin lebih kuat, tetapi mereka pun terpecah-belah layaknya para penguasa di Rusia. Jika saja pasukan Mongol menyerang wilayah ini satu-persatu secara bersamaan, maka mereka bisa menang dengan mudah. Nyatanya, mereka tidak perlu mengerahkan seluruh kekuatan untuk mewujudkan kemenangan ini.

Batu dan Subutai mengirimkan mata-mata ke Eropa untuk mendapatkan informasi bagi operasi mereka selanjutnya. Subutai yang memang ahli dalam strategi, membagi pasukan Mongol menjadi tiga unit dan merancang serangan dari tiga arah, bukan untuk satu musuh tapi untuk seluruh Eropa. Namun, dua serangan tersebut hanyalah untuk menarik perhatian Eropa, sedangkan serangan ketiga sekaligus yang terbesar untuk melawan kekuatan paling tangguh di Eropa Timur.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Walaupun sebagai umpan, keduanya berhasil menghancurkan Eropa tenggara dan timur laut. Kelompok pertama dipimpin oleh Khadan dan Baidar, keduanya putra Ogedei. Mereka menyerang Polandia dan membinasakan pasukan Henry II yang Alim, seorang Adipati Silesia (1238-1241) serta Grand Master Ksatria Teutonik di Pertempuran Legnica (Leignitz) pada tahun 1241. Pasukan mereka kemudian meluluhlantakkan pedesaan Polandia juga mengganggu pasukan Bohemia yang terdekat untuk mencegah mereka bergerak ke selatan. Kelompok kedua yang dipimpin oleh Guyuk melewati Pegunungan Karpatia menuju Transylvania, dimana mereka mengalahkan pasukan setempat lalu menyerang pedesaan.

The Mongol Invasion of Hungary
Invasi Mongol ke Hungaria
Dencey (Public Domain)

Kelompok ketiga sekaligus pasukan utama kampanye ini, dipimpin langsung oleh Batu dan Subutai. Mereka bergerak mengikuti sungai Danube untuk menghadapi musuh terkuat saat itu yang mampu mereka jangkau, Hungaria. Hungaria menampung para pengungsi Cuman yang melarikan diri dari Mongol, dan hal itu membuat mereka langsung menjadi musuh bangsa Mongol. Pasukan Raja Bela IV (1235-1270) menghadapi Batu dan Subutai di Pertempuran Mohi (Muhi saat ini, disebut juga sebagai Pertempuran Sungai Sajo) pada tahun 1241. Seperti yang sudah-sudah, pasukan Mongol dapat membantai pasukan Hungaria.

Raja Bela pun kabur ke Kroasia dengan pasukan Mongol yang terus-menerus mengejarnya. Pasukan Mongol menghancurkan Hungaria serta kemungkinan besar membunuh 15-20% populasi disana. Dengan jatuhnya Eropa Timur dan pasukan Mongol yang telah sampai ke Adriatik, wilayah Eropa yang tersisa pun terbuka lebar bagi gerombolan Mongol. Tepat pada saat itu, semuanya ditarik mundur. Kabar datang dari Mongolia: Ogedei telah wafat.

Pencipta Khan

Kematian Khan Agung memaksa hukum Mongol, Yasa, mengadakan kurultai keluarga bangsawan di tanah air mereka. Seluruh pangeran, yang kebanyakan sedang berkampanye di Eropa, kembali pulang untuk menentukan penerus Ogedei. Sebagai penerus cabang keluarga Jochi, Batu bisa menuntut haknya. Khatun Agung Toregene, janda Ogedei dan ibu dari Guyuk, mengundang Batu untuk kembali. Namun, Batu merasa jika itu adalah jebakan sehingga dia tetap berada di wilayahnya, membuat kurultai tertunda untuk beberapa tahun. Pada akhirnya, Guyuk diproklamirkan sebagai Khan Agung yang berikutnya di tahun 1246.

BATU MENJADI PENGUASA DE FACTO ATAS SELURUH WILAYAH KEKAISARAN MONGOL BAGIAN BARAT.

Sementara itu, Batu tidak tinggal hanya sebagai seorang penakluk, tetapi juga sebagai seorang penyelenggara pemerintahan. Batu menjadi penguasa de facto atas wilayah Kekaisaran Mongol bagian barat. Dia menerima generasi baru para pangeran Rusia sebagai vasal Gerombolan Emas. Dia juga menunjuk pejabat dan gubernur Mongol untuk wilayah Eropa, Kaukasus, serta Persia. Namun, Guyuk mulai mencurigai Batu dan bergerak ke barat dengan sebuah pasukan. Sorkhokhtani Beki, janda dari Tolui, putra termuda Genghis, memperingatkan Batu bahwa Guyuk menyasar dirinya. Ketika Guyuk memanggil Batu untuk pulang, Batu menunda-nunda dan membuat berbagai alasan sampai Guyuk wafat.

Sorkhokhtani Beki telah membuat keputusan yang cerdas. Batu berterima kasih padanya dan putranya pun bersekutu dengan Batu. Tiba-tiba saja, Batu mengadakan kurultai di Rusia, bukan di Mongolia seperti yang tradisi inginkan. Kurultai pertama ini menawarkan posisi Khan Agung kepada Batu, tapi dia menolaknya. Sebaliknya, dia mendukung Mongke. Cabang keluarga Jochi dan Tolui setuju, kemudian Batu mengadakan kurultai kedua di Mongolia. Dua cabang keluarga lainnya, Ogedei dan Chagatai, menolak untuk datang. Mongke diangkat sebagai Khan Agung keempat pada tahun 1251, lalu Batu pun memaksakan sebuah keputusan untuk menghukum keluarga Ogedei dan Chagatai dengan mengeksekusi Buri, kepala keluarga Chagatai. Mongke memang seorang Khan Agung, tapi Batu yang menciptakannya.

Berdirinya Gerombolan Emas

Di puncak ketenarannya, Batu mencoba untuk menyatukan cengkeramannya di Rusia. Dia memadamkan pemberontakan beberapa pangeran Rusia dan menempatkan mereka di bawah penjajahan yang lebih mengekang. Batu mendirikan kota Sarai yang berada di dekat Volga sebagai pusat pemerintahan untuk Gerombolan Emas. Upeti terus berdatangan dari wilayah taklukkan dan menjadi sumber kampanye, penyerangan, dan penaklukkan selanjutnya. Sejak saat inilah, para keturunannya akan terus-menerus memerintah Rusia dari wilayah stepa hingga ke generasi yang akan datang.

Saat Batu wafat di tahun 1225, Gerombolan Emas diwariskan pada putranya, Sartuq (1256). Gerombolan Emas tetap berkuasa di Rusia selama dua abad, kekaisaran Mongol di Rusia pun tetap bertahan hingga Ivan si Kejam (1533-1584) memerintah di abad ke-16, dan di Krimea saat mendekati abad ke-19. Selama hidupnya, Batu telah mengembara dari Cina hingga ke Hungaria dan meninggalkan warisan sekaligus jejak terbesar bagi bangsa Mongol dan Rusia.

Sisihkan pariwara

Advertensi

Tentang Penerjemah

Christo Sylvano
An English-Indonesian freelance translator who has been working as Adjunct English Lecturer in University of Palangka Raya, Indonesia. I possess a passion with ancient warfare history and cultural heritage in Southeast Asia.

Tentang Penulis

Michael Goodyear
Michael adalah sarjana Sejarah, Bahasa-bahasa Timur Dekat, dan Peradaban dari Universitas Chicago, dimana dia belajar mengenai sejarah Bizantium. Dia juga memiliki gelar J.D (Juris Doktor) dari Fakultas Hukum, Universitas MIchigan.

Kutip Karya Ini

Gaya APA

Goodyear, M. (2019, Oktober 04). Batu Khan [Batu Khan]. (C. Sylvano, Penerjemah). World History Encyclopedia. Diambil dari https://www.worldhistory.org/trans/id/1-18504/batu-khan/

Gaya Chicago

Goodyear, Michael. "Batu Khan." Diterjemahkan oleh Christo Sylvano. World History Encyclopedia. Terakhir dimodifikasi Oktober 04, 2019. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-18504/batu-khan/.

Gaya MLA

Goodyear, Michael. "Batu Khan." Diterjemahkan oleh Christo Sylvano. World History Encyclopedia. World History Encyclopedia, 04 Okt 2019. Web. 09 Des 2022.