Kekaisaran Mongol

Ikhtisar

Mark Cartwright
dengan , diterjemahkan dengan Hendri Elvira
diterbitkan pada 11 November 2019
X
Mongol Warriors in Battle (by Unknown Artist, Public Domain)
Prajurit Mongol dalam Pertempuran
Unknown Artist (Public Domain)

Kekaisaran Mongol (1206-1368) didirikan oleh Genghis Khan (masa kekuasaan 1206-1227), ia adalah Khan Agung pertama atau 'penguasa dunia' dari bangsa Mongol. Genghis membentuk kekaisaran dengan menyatukan suku-suku nomaden di padang rumput Asia dan menciptakan pasukan yang sangat efektif dengan kavaleri yang cepat, lincah, dan sangat terkoordinasi. Pada akhirnya, kekaisaran ini mendominasi Asia dari Laut Hitam hingga ke semenanjung Korea.

Penunggang kuda dan pemanah yang andal, bangsa Mongol terbukti tak terbendung di Asia Tengah dan sekitarnya, mengalahkan pasukan di Iran, Rusia, Eropa Timur, Tiongkok, dan banyak tempat lainnya. Keturunan Genghis masing-masing memerintah bagian dari kekaisaran - terdapat empat kekhanan - yang paling kuat adalah Dinasti Yuan Mongol di Tiongkok (1271-1368), yang didirikan oleh Kubilai Khan (masa berkuasa 1260-1279). Pada akhirnya, bangsa Mongol menjadi bagian dari masyarakat yang menetap sehingga mereka mudah tertekan dan banyak yang beralih dari kepercayaan spiritual tradisional ke agama Buddhisme Tibet atau Islam. Ini adalah gejala umum dari bangsa Mongol yang tidak hanya kehilangan sebagian dari identitas budaya mereka, tetapi juga kehebatan militer mereka yang terkenal karena keempat kekhanan tersebut semuanya menyerah pada perselisihan dinasti yang merusak dan pasukan dari lawan mereka. Meskipun tidak terkenal karena menciptakan keajaiban arsitektur atau institusi politik yang bertahan lama, bangsa Mongol telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap budaya dunia yang pada akhirnya menghubungkan dunia timur dan barat melalui perluasan rute perdagangan, kedutaan diplomatik dan pergerakan misionaris serta pelancong dari Eurasia ke Asia Timur.

Sisihkan pariwara
Advertensi
TENGRI, DEWA 'LANGIT BIRU', DIANGGAP OLEH PARA ELIT SUKU TELAH MEMBERIKAN HAK ILAHI PADA BANGSA MONGOL UNTUK MENGUASAI SELURUH DUNIA.

Pengembara di Padang Rumput Asia

Bangsa Mongol adalah pengembara di padang rumput Asia yang menggembalakan domba, kambing, kuda, unta, dan yak. Suku-suku ini berpindah-pindah sesuai dengan musim dan tinggal di perkemahan-perkemahan sementara yang terbuat dari tenda-tenda melingkar atau yurt (ger). Iklim Mongolia sering kali ekstrem dan karena itu, pakaian yang digunakan harus hangat, tahan lama, dan praktis. Kain felt dari wol domba dan bulu binatang merupakan bahan yang paling umum digunakan untuk membuat pakaian yang nampak serupa, baik untuk laki-laki, maupun perempuan: sepatu bot tanpa hak, celana panjang longgar, jubah jaket panjang (deel) yang dikenakan dengan ikat pinggang kulit, dan topi berbentuk kerucut dengan penutup telinga, sedangkan pakaian dalam terbuat dari katun atau sutra.

Traditional Yurts
Yurt Tradisional
Michael Chu (CC BY-NC-ND)

Makanan bangsa Mongol sebagian besar berbahan dasar susu dengan keju, yoghurt, mentega, dan dadih susu kering (kurut) sebagai makanan pokok. Minuman beralkohol ringan, kumis, dibuat dari susu kuda betina yang seringnya diminum secara berlebihan. Kawanan ternak menjadi sangat berharga sebagai sumber susu, wol, dan bahkan kotoran yang berkelanjutan untuk bahan bakar, daging biasanya diperoleh melalui perburuan dan buah-buahan dan sayuran liar dikumpulkan melalui pencarian makanan. Untuk persediaan musim dingin dan menyediakan daging untuk pesta khusus seperti pada pertemuan suku yang tidak terjadwal secara tetap, maka perburuan khusus diadakan. Pada acara-acara ini, sebuah strategi yang dikenal sebagai nerge digunakan di mana para penunggang kuda meliputi area padang rumput yang luas dan secara perlahan-lahan menggiring hewan buruan - apa pun, mulai dari marmot hingga serigala - ke area yang makin kecil sehingga mereka dapat dengan mudah dibunuh oleh para pemanah yang berkuda. Teknik, pelaksanaan, dan disiplin para nerge akan membantu bangsa Mongol dengan baik ketika mereka berperang. Sebagian besar ciri khas kehidupan sehari-hari abad pertengahan di dunia Mongol masih dilanjutkan hingga saat ini oleh para pengembara padang rumput di seluruh Asia.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Meskipun kehidupan nomaden pada umumnya membuat laki-laki berburu dan perempuan memasak, pembagian kerja tidak selalu begitu jelas, dan sering kali kedua jenis kelamin dapat melakukan tugas-tugas yang lain, termasuk menggunakan busur dan berkuda. Para perempuan memelihara hewan, mendirikan dan mengemasi perkemahan, mengemudikan gerobak suku, menjaga anak-anak, menyiapkan bahan makanan, dan menjamu para tamu. Perempuan memiliki lebih banyak hak daripada kebanyakan budaya kontemporer Asia lainnya dan dapat memiliki dan mewarisi properti. Beberapa perempuan, bahkan memerintah sebagai bupati pada masa-masa di antara masa pemerintahan Khan Agung. Bidang lain dalam kehidupan Mongol di mana perempuan terlibat secara aktif adalah agama.

Keyakinan Agama

Agama bangsa Mongol tidak memiliki teks suci atau upacara tertentu, melainkan merupakan perpaduan antara animisme, pemujaan leluhur, dan kepercayaan spiritual tradisional. Contohnya, seperti elemen api, tanah, dan air, situs geografis yang mengesankan seperti gunung, dan fenomena alam seperti badai dianggap memiliki roh. Dukun-dukun, yang bisa terdiri dari laki-laki dan perempuan, dianggap mampu, dalam keadaan kesurupan, berkomunikasi dengan roh-roh ini dan melakukan perjalanan di dunia mereka, membantu menemukan jiwa-jiwa yang tersesat dan meramalkan kejadian-kejadian di masa depan.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Agama-agama lain juga hadir di antara bangsa Mongol, terutama Kristen Nestorian, dan sejak abad ke-14, agama Buddha Tibet (Lamaisme) menjadi populer, mungkin berkat unsur-unsur kepercayaan tradisionalnya. Islam juga dianut secara luas di kekhanan-kekhanan barat. Di atas semua itu, ada kepercayaan yang meluas terhadap dua dewa utama, yaitu: Dewi Bumi atau Dewi Ibu, yang dikenal sebagai Etugen (Itugen), yang melambangkan kesuburan, dan Tengri (Gok Monggke Tenggeri), 'Langit Biru' atau 'Surga Abadi'. Dewa yang terakhir ini dipandang sebagai dewa pelindung dan yang terpenting, ia dianggap oleh para elit suku sebagai dewa yang memberikan hak ilahi kepada bangsa Mongol untuk menguasai seluruh dunia. Genghis Khan dan para penerusnya akan mempraktikkan ide ini dengan sangat baik dengan menaklukkan hampir seluruh benua Asia dan menciptakan kekaisaran terbesar yang pernah ada dalam sejarah.

GENGHIS KHAN MEMPERLUAS WILAYAH KEKUASAANNYA MELALUI PERPADUAN DIPLOMASI, PEPERANGAN, & TEROR YANG KEJAM.

Landasan dari Genghis Khan

Suku-suku nomaden Mongol saat itu, terbiasa dengan kehidupan yang sulit, memiliki mobilitas tinggi dan dilatih sejak kecil untuk menunggang kuda dan memanah. Kualitas-kualitas ini akan membuat mereka menjadi prajurit yang sangat baik yang mampu bertahan dalam perang yang panjang dan rumit, menjangkau wilayah yang luas dalam waktu yang singkat, dan bertahan hidup hanya dengan perbekalan yang sangat minim. Bahkan, peran perempuan dan tugas-tugas mereka dalam pembuatan perkemahan dan transportasi membantu pasukan Mongol karena mereka menyediakan dukungan logistik yang sangat penting bagi para prajurit yang juga suami mereka. Genghis Khan mungkin adalah pemimpin Mongol pertama yang menyadari bahwa jika saja berbagai suku dan klan dapat bersatu, bangsa Mongol dapat menguasai dunia.

Genghis, yang lahir dengan nama Temujin sekitar tahun 1162, berhasil mengatasi masa kecilnya yang keras akibat pengabaian dan kemiskinan, dan menjadikan dirinya sebagai komandan militer yang cakap untuk Toghril, kepala suku Kerait. Kehidupan dan masa-masa Genghis diceritakan dalam The Secret History of the Mongols, sebuah kronik abad ke-13 yang merupakan sumber primer terbaik untuk kekaisaran awal. Selama sekitar 10 tahun dari tahun 1195 hingga 1205, Genghis menjadi seorang pemimpin dengan kemampuannya sendiri dan secara perlahan memperluas wilayah kekuasaannya melalui perpaduan antara diplomasi, peperangan, dan teror yang kejam - bagi banyak prajurit, hal ini sering kali menjadi pilihan antara bergabung dengan pemimpin muda tersebut atau dieksekusi. Suku-suku seperti Tartar (nama yang secara keliru diberikan oleh orang Barat pada abad pertengahan kepada bangsa Mongol itu sendiri), Kereyid, Naiman, dan Merkid dibawa ke dalam barisan. Pada akhirnya, pada tahun 1206 dalam sebuah pertemuan akbar yang dihadiri oleh seluruh pemimpin suku (kurultai), Genghis Khan (alias Chinggis Khan) secara resmi diakui sebagai Khan Agung atau 'penguasa dunia' dari bangsa Mongol.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Map of the Mongol Empire
Peta Kekaisaran Mongol
Arienne King (CC BY-NC-SA)

Khan berusaha untuk lebih mempersatukan wilayah kekuasannya dengan bersikeras bahwa bahasa Mongol yang hanya lisan dibuat menjadi bahasa tertulis menggunakan aksara Turki Uighur dan dengan memperkenalkan kode hukum yang berkelanjutan, yaitu Yasa. Komunikasi sangat terbantu dengan berdirinya Yam, sebuah jaringan pos-pos peristirahatan yang dapat digunakan oleh para pembawa pesan untuk mendapatkan pasokan saat mereka berkuda melintasi negara. Kekaisaran sudah dimulai dengan sungguh-sungguh, tetapi itu akan menjadi jauh lebih besar.

Ekspansi: Tiongkok Utara & Persia

Para pemimpin suku Mongol secara tradisional telah mencapainya dan kemudian mempertahankan posisi kekuasaan mereka dengan mendistribusikan rampasan perang di antara para pengikut setia mereka, demikian pula halnya dengan Genghis. Pasukan Mongol terdiri dari 10.000 orang pasukan inti, yang merupakan pengawal pribadi sang khan, yaitu kesikten. Para anggota elit ini juga akan memegang posisi administratif utama di seluruh kekaisaran. Pasukan tambahan diperoleh melalui wajib militer suku-suku Mongol dan kontingen dari sekutu serta wilayah-wilayah yang telah ditaklukkan. Senjata utama untuk serangan adalah kavaleri ringan dengan para penunggangnya yang ahli menembakkan busur komposit Mongol yang kuat. Kuda-kuda Mongol merupakan aset lainnya, baik karena kekuatan dan staminanya, tetapi juga karena jumlahnya yang banyak, memungkinkan para penunggang kuda untuk menunggang kuda hingga 16 kuda cadangan yang berarti sebuah pasukan dapat melakukan perjalanan jarak yang sangat jauh dengan kecepatan tinggi.

Target pertama Genghis setelah menjadi Khan Agung adalah negara Jin (alias Dinasti Jin Jurchen, 1115-1234) di Tiongkok utara. Kecepatan kavaleri Mongol dan taktik teror ketika berhadapan dengan kota-kota yang direbut menuai hasil, dan negara Jin yang terpecah belah secara internal terpaksa mundur ke selatan. Sasaran yang sama adalah negara Tangut, Xi Xia (alias Hsi-Hsia, 1038-1227), juga di Tiongkok utara dan demikian pula tidak mampu menghentikan kemajuan tak kenal lelah Genghis di seluruh Asia Timur. Sasaran ketiga dalam periode ini adalah Dinasti Song Tiongkok (alias Sung, 960-1279). Lebih kaya dan lebih kuat daripada tetangganya, Song terbukti lebih tangguh meskipun Genghis telah menjarah banyak kota mereka, namun saatnya akan tiba. Pada tahun 1219, bahkan Korea utara telah diserang ketika Genghis mengejar suku-suku Khitan yang menyusahkan telah melarikan diri ke sana.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Bust of Genghis Khan
Patung Dada Genghis Khan
Jim Garamone (Public Domain)

Tampaknya ia berniat untuk mendapatkan gelarnya sebagai 'penguasa dunia', Genghis sekarang mengalihkan perhatiannya ke Asia barat. Dari tahun 1218, Kekaisaran Khwarazm Persia diserang. Pasukan Mongol yang terdiri dari 100.000 orang menyapu bersih semua pendatang, merebut kota-kota penting, seperti Bukhara dan Samarkand. Pada tahun 1221, Mongol menyerbu Afghanistan utara, pada tahun 1223 pasukan Rusia dikalahkan di Kalka, dan kemudian laut Kaspia sepenuhnya dikepung ketika pasukan kembali pulang. Kaum Muslim di wilayah tersebut sekarang memiliki gelar baru untuk Genghis, yaitu 'Yang Terkutuk.' Kota-kota telah dihancurkan hingga ke dasarnya, warga sipil dibantai, dan bahkan sistem irigasi pun dirusak. Dunia Asia telah berubah drastis dalam waktu kurang dari dua dekade. Genghis Khan meninggal pada tanggal 18 Agustus 1227 karena penyakit yang tidak diketahui, namun para penerusnya akan memastikan tatanan dunia baru Mongol akan jauh bertahan lebih daripada penciptanya.

Ogedei Khan Menyerang Eropa

Genghis telah menetapkan bahwa kekaisarannya akan dibagi di antara empat putranya, Jochi, Chagatai (Chaghadai), Tolui (Tului), dan Ogedei, dengan masing-masing memerintah sebuah kekhanan (meskipun Jochi akan mendahului ayahnya yang meninggal pada tahun 1227). Ogedei menjadi Khan Agung yang baru (masa kekuasaan 1229-1241) dan dengan demikian menjadi penguasa seluruh bangsa Mongol. Kekaisaran yang bersatu akan bertahan hingga tahun 1260 Masehi ketika empat kekhanan menjadi sepenuhnya otonom (lihat di bawah).

Ogedei Khan selanjutnya mengonsolidasikan aparat negara Mongol dengan menunjuk anggota pengawal kekaisaran dan menteri sebagai gubernur regional (daruqachi), melakukan sensus dan memberlakukan sistem pajak yang tepat (berbeda dengan sekedar penyitaan properti). Pada tahun 1235, sebuah ibu kota dipilih, yaitu Karakorum (Qaraqorum) di Mongolia. Jaringan Yam diperluas, sumur-sumur dilindungi di sepanjang rute perdagangan, dan para pedagang yang melakukan perjalanan diberi perlindungan militer.

Dalam hal penaklukan, Ogedei melanjutkan apa yang telah ditinggalkan oleh pendahulunya dan dengan bantuan jenderal berbakat Subutai (alias Sube'etei, 1176-1248), yang dikenal sebagai salah satu dari 'Empat Anjing Perang' khan, yang berperang melawan Jin pada tahun 1230-1. Ibu kota Jin, Kaifeng, jatuh pada tahun 1233, dan perang pada tahun 1234 menyebabkan kaisar Jin, Aizong (masa kekuasaan 1224-1234) bunuh diri, serta keruntuhan total dan akhir dari negara Jin. Korea juga berulang kali diserbu pada periode ini.

Mongol Warrior Reconstruction
Rekonstruksi Prajurit Mongol
William Cho (CC BY-SA)

Dari tahun 1235 Subutai mengoordinasikan perang di seluruh Asia Tengah, merebut kota-kota seperti Tiflis (Tbilisi). Dari tahun 1236 hingga 1242, pasukan beranggotakan 150.000 orang yang diorganisir dalam lima divisi terpisah kemudian berbaris melewati Kazakhstan/Uzbekistan untuk menyerang Eropa Timur di sekitar sungai Volga. Kemenangan diraih saat melawan Bulgaria, Rusia, Polandia, dan Hungaria dalam beberapa perang. Tampaknya datang entah dari mana, kavaleri Mongol dikenal sebagai 'penunggang kuda Iblis.' Kota-kota besar seperti Kiev (1240), Krakow (1241), Buda dan Pest (1241) semuanya dirampas dan dijarah. Tampaknya hanya kematian Ogedei pada tahun 1241 yang menyelamatkan Eropa dari serangan lebih lanjut karena para pemimpin Mongol kemudian dipaksa untuk kembali ke Karakorum untuk memilih khan baru. Dua khan berikutnya adalah Guyuk Khan (masa berkuasa 1246-1248) dan Mongke Khan (masa berkuasa 1251-1259) dengan bupati yang memerintah di antaranya, tetapi Kubilai, cucu Genghis, yang menunjukkan ambisi terbesar karena ia membawa penaklukan Mongol ke tingkat yang lebih tinggi.

Kubilai Khan Menyerang Tiongkok & Jepang

Kubilai Khan akan memerintah dari tahun 1260 hingga 1294, tetapi ia sudah membuat kesan yang baik sebelumnya ketika dia berperang dengan Mongke Khan melawan Dinasti Song, Tiongkok. Kubilai harus bertempur dengan adiknya Ariq Boke (1219-1266) untuk posisi Khan Agung, tetapi Kubilai menang, dan bahkan jika kekaisaran sekarang secara efektif terpecah menjadi empat kekhanan, ia merasa terhibur karena bagiannya tetap yang terkaya. Bagaimanapun, Kubilai berambisi untuk mendapatkan gelar yang lebih prestisius, yaitu: kaisar Tiongkok. Oleh karena itu, Song kembali diserang, namun kali ini Kubilai terlibat dalam perang pengepungan dengan menggunakan katapel tempur yang lebih unggul - pengetahuan yang diperoleh dari Asia Barat. Kota demi kota jatuh selama 11 tahun berikutnya, dan dengan jatuhnya ibu kota Lin'an pada tanggal 28 Maret 1276, demikian pula Dinasti Song runtuh. Pada tanggal 19 Maret 1279, sebuah pertempuran laut besar dimenangkan di Yaishan, terletak di dekat Makau yang sekarang adalah contoh lain dari adaptasi yang berhasil dalam peperangan Mongol dan perlawanan Song yang terakhir berhasil dipatahkan. Kubilai telah mengalahkan apa yang diimpikan oleh semua pengembara padang rumput sebelumnya: negara Tiongkok yang perkasa dan sangat kaya.

Pada tahun 1271, Kubilai mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar Tiongkok dan tatanan barunya sebagai Dinasti Yuan, yang berarti 'asal' atau 'pusat'. Daidu (Beijing) dijadikan sebagai ibu kota baru, dan Xanadu (Shangdu) di timur laut menjadi tempat peristirahatan musim panas kaisar. Terbukti sebagai administrator yang cakap sekaligus penakluk, Kubilai menata negaranya yang besar menjadi 12 provinsi dan mendorong perdagangan melalui pajak yang menguntungkan bagi para pedagang, mendorong penggunaan uang kertas, serta meningkatkan jaringan jalan dan kanal untuk mengangkut barang dengan lebih baik. Namun, Kubilai tidak puas, dan melancarkan dua serangan terhadap Jepang pada tahun 1274 dan 1281. Keduanya akan gagal sebagai akibat dari perlawanan lokal yang gigih dan badai dahsyat yang disebut orang Jepang sebagai kamikaze atau 'angin dewa'. Tak gentar, Kubilai melancarkan serangan di Asia Tenggara dengan invasi ke Vietnam (1257, 1281, dan 1286), Burma (1277 dan 1287), dan Jawa (1292), yang semuanya hanya meraih hasil yang beragam. Tampaknya Kekaisaran Mongol telah mencapai puncak kejayaannya dan abad ke-13 hanya akan mengalami kemunduran.

Four Khanates of the Mongol Empire
Empat Wilayah Kekhanan Kekaisaran Mongol
Arienne King (CC BY-NC-SA)

Kekhanan & Kemundurannya

Sementara Khan Agung telah disibukkan dengan bagian timur Kekaisaran Mongol, bagian tengah dan barat sebagian besar berjalan sendiri-sendiri. Gerombolan Emas, yang berpusat di padang rumput Eurasia barat, didirikan oleh Batu Khan (meninggal 1255), yaitu cucu Genghis, sekitar tahun 1227. Kekhanan ini bertahan lebih lama daripada kerajaan-kerajaan lainnya, yang secara resmi berakhir pada tahun 1480, tetapi dari pertengahan abad ke-14, Rusia dan Lithuania bangkit kembali di daerah tersebut. Ilkhanat, yang berpusat di Persia, didirikan oleh Hulagu (meninggal 1265), cucu Genghis lainnya sekitar tahun 1260. Ilkhanat akan terus-menerus terancam oleh tetangganya di sebelah tenggara, Kesultanan Mamluk (1261-1517) dan hancur akibat perselisihan dinasti pada tahun 1335. Kekhanan Chagatai didirikan oleh Chagatai (1183-1242), putra kedua Genghis Khan dan akan tetap menjadi negara Mongol yang paling asli, di mana akar nomaden terbukti sulit untuk dihilangkan. Lagi, perselisihan dinasti menyebabkan keruntuhannya pada tahun 1363.

Ketiga kekhanan barat ini akan terus-menerus bertempur satu sama lain dalam perselisihan perbatasan. Masing-masing akhirnya akan menganut Islam sebagai agama negara, yang juga menjadi perdebatan di antara para elit. Wilayah-wilayah Ilkhanat dan Kekhanan Chagatai akhirnya diambil alih oleh Timur (Tamerlane), pendiri Kekaisaran Timuriyah (1370-1507). Bahkan, Yuan Tiongkok pun menyerah pada perang saudara dari kelompok-kelompok lawannya dan dengan ekonomi yang lemah dilanda kelaparan serta pemberontakan lokal, Dinasti Ming mampu mengambil alih Tiongkok pada tahun 1368. Pada akhirnya, bangsa Mongol telah menjadi bagian dari masyarakat yang menetap, mereka sangat mudah ditaklukkan yang membuat mereka sama rentannya dengan negara lain terhadap pengambilalihan oleh mereka yang bersedia merangkul ide dan teknologi baru.

The Empire of Timur the Lame, c. 1404 CE
Kekaisaran Timur Lenk, sekitar tahun 1404 Masehi.
Simeon Netchev (CC BY-NC-SA)

Warisan Bangsa Mongol

Bangsa Mongol mungkin tidak menyusahkan banyak kurator museum modern dengan karya seni mereka atau meninggalkan bangunan-bangunan indah untuk dikagumi, tetapi mereka meninggalkan warisan abadi dengan cara lain. Mungkin pengaruh terbesar mereka terhadap budaya dunia adalah membuat hubungan serius pertama antara Timur dan Barat. Kekaisaran Mongol, kekaisaran darat terbesar yang bersebelahan hingga saat itu, membentang di seperlima dunia dan tentara mereka diwajibkan untuk bertempur melawan ksatria Teutonik di satu sisi dan di sisi lain mereka menghadapi prajurit samurai, yang tak satu pun dari kedua musuh itu mengetahui keberadaan satu sama lainnya. Hingga saat ini, orang Tionghoa dan Eropa masing-masing memandang tanah satu sama lain sebagai tempat semi-mitos yang berisi monster. Ketika para duta besar, misionaris, pedagang, dan pelancong seperti Marco Polo (1254-1324) didorong untuk melintasi Asia secara bebas, maka kontak pun meningkat, dan ide-ide serta agama-agama pun disebarkan. Bubuk mesiu, kertas, percetakan, dan kompas semuanya menjadi familiar di Eropa. Bangsa Mongol juga menyebarkan gagasan dalam bidang masakan, seperti membuat sup daging kaldu sulen (shulen) mereka menjadi hidangan populer di seluruh Asia, bahkan hingga hari ini. Sayangnya, ada konsekuensi yang kurang menguntungkan, seperti Wabah Hitam (1347-1352), yang pertama kali menyebar dari daerah terpencil di Tiongkok ke Laut Hitam dan dari sana ke Venesia, kemudian ke seluruh Eropa. Di Mongolia, kekaisaran ini dikenang sebagai era keemasan dan Genghis Khan, yang memulai semuanya, terus dihormati dengan upacara rutin di ibu kota Mongolia, Ulan Bator.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Tentang Penerjemah

Hendri Elvira
Hendri memiliki gelar pendidikan Sarjana Linguistik dengan jurusan Sastra Inggris dan tertarik dengan sejarah dunia dan warisan budaya.

Tentang Penulis

Mark Cartwright
Mark adalah seorang penulis, peneliti, sejarawan, dan editor. Ia memiliki minat khusus pada bidang seni, arsitektur, dan menggali gagasan-gagasan yang dibagikan oleh semua peradaban. Selain itu ia memiliki gelar pendidikan MA in Political Philosopy dan menjabat sebagai Direktur Penerbitan di World History Encyclopedia.

Kutip Karya Ini

Gaya APA

Cartwright, M. (2019, November 11). Kekaisaran Mongol [Mongol Empire]. (H. Elvira, Penerjemah). World History Encyclopedia. Diambil dari https://www.worldhistory.org/trans/id/1-17448/kekaisaran-mongol/

Gaya Chicago

Cartwright, Mark. "Kekaisaran Mongol." Diterjemahkan oleh Hendri Elvira. World History Encyclopedia. Terakhir diubah November 11, 2019. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-17448/kekaisaran-mongol/.

Gaya MLA

Cartwright, Mark. "Kekaisaran Mongol." Diterjemahkan oleh Hendri Elvira. World History Encyclopedia. World History Encyclopedia, 11 Nov 2019. Web. 30 Mei 2024.