Daud & Goliat

Rebecca Denova
oleh , diterjemahkan oleh Flora Debora Floris
dipublikasikan pada
Translations
bookmark_addbookmark_addedSimpan Artikel printCetak picture_as_pdfPDF

Ketika masih muda, Daud yang kelak menjadi raja Israel membunuh Goliat, seorang raksasa yang menjadi jagoan bangsa Filistin, musuh Israel. Ungkapan “Daud dan Goliat” kemudian menjadi metafora bagi pihak yang lebih lemah, tetapi berhasil mengalahkan lawan yang jauh lebih kuat. Ungkapan ini sering digunakan dalam pemberitaan olahraga serta dalam dunia bisnis, terutama ketika perusahaan besar berusaha mengambil alih perusahaan yang lebih kecil. Dalam beberapa kasus, perusahaan kecil tersebut berhasil menolak pengambilalihan itu.

David with the Head of Goliath
Daud dan Kepala Goliat Caravaggio (Public Domain)

Konteks sejarah dan sastra

Kisah tentang kebangkitan Daud terdapat dalam Kitab 1 dan 2 Samuel. Kedua kitab tersebut menceritakan proses pemukiman bangsa Israel di tanah Kanaan. Kisah-kisah di dalamnya menjadi latar bagi munculnya dua lembaga penting di Israel, yaitu kenabian dan kerajaan. Menurut urutan waktu dalam Alkitab, setelah keluar dari Mesir sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Keluaran, bangsa Israel memasuki dan menetap di Kanaan, tanah yang semula dijanjikan kepada Abraham. Pada masa itu, pemerintahan dijalankan oleh sebuah persekutuan yang terdiri atas dua belas suku Israel, keturunan kedua belas anak Yakub. Setiap suku memperoleh wilayahnya masing-masing. Di wilayah-wilayah tersebut terdapat tempat-tempat suci untuk menyimpan Kemah Pertemuan. Kemah ini merupakan tempat ibadah yang dapat dipindahkan dan berisi Tabut Perjanjian serta loh-loh Hukum Musa yang diterima di Gunung Sinai. Kemah Pertemuan tersebut ditempatkan secara bergiliran di antara suku-suku Israel untuk mencegah kecemburuan atau upaya salah satu suku menguasai suku-suku lainnya.

Sisihkan pariwara
Advertensi
Bangsa Filistin mendirikan lima kota besar di sepanjang pesisir selatan Israel.

Samuel adalah seorang imam dan hakim keliling yang kemudian menjadi salah satu nabi pertama dalam tradisi Israel. Para nabi Israel menjalankan peran yang sebanding dengan para penyampai nubuat di dunia kuno. Melalui mereka, manusia berkomunikasi dengan para dewa. Istilah “orakel” dapat merujuk pada orang yang menyampaikan pesan ilahi maupun tempat berlangsungnya penyampaian pesan tersebut. Dalam proses yang dikenal sebagai praktik ramalan ilahi, seseorang biasanya memasuki keadaan tidak sadar, lalu dipercaya dirasuki oleh dewa atau dewi. Pesan sang dewa kemudian disampaikan, kadang-kadang dalam bahasa rahasia atau bahasa yang tidak dikenal sehingga harus ditafsirkan oleh para imam. Proses semacam ini berlangsung di Delfi, Yunani, tempat orakel paling terkenal pada zaman kuno.

Setiap nabi Israel dipercaya telah “dipanggil oleh Allah” melalui campur tangan ilahi yang memerintahkannya untuk menyampaikan kehendak Allah atau menegur ketidakadilan yang dilakukan oleh masyarakat. Dalam kitab-kitab para nabi Yahudi, firman Allah dapat dikenali dengan mudah. Setiap nubuat diawali dengan ungkapan “Beginilah firman Tuhan,” lalu bagian berikutnya ditulis menjorok seperti puisi.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Bangsa Filistin mendirikan lima kota besar di sepanjang pesisir selatan Israel. Nama salah satu kota tersebut, Gaza, kemudian digunakan untuk menyebut wilayah di antara Israel dan Sinai, yang kini dikenal sebagai Jalur Gaza. Nama bangsa Filistin masuk ke dalam bahasa Latin sebagai Palestina, yang menjadi asal kata modern “Palestina.” Kekuasaan bangsa Filistin mulai berkembang pada abad ke-12 SM dan akhirnya berakhir ketika wilayah tersebut ditaklukkan oleh Babilonia pada tahun 604 SM. Gambaran negatif tentang bangsa Filistin dalam Alkitab kemudian melahirkan penggunaan kata philistine dalam bahasa Inggris modern, yang berarti “orang yang berorientasi pada materialisme dan biasanya meremehkan nilai-nilai intelektual atau seni” (Kamus Merriam-Webster). Namun, penggalian arkeologis modern di kota-kota mereka menunjukkan bahwa bangsa Filistin memiliki kebudayaan dan seni yang maju, terutama dalam bidang arsitektur dan tembikar.

Philistine Pottery Sherd
Pecahan Tembikar Filistin Osama Shukir Muhammed Amin (Copyright)

Berbagai teori telah dikemukakan mengenai asal-usul bangsa Filistin. Mereka mungkin berasal dari beberapa suku yang tinggal di Kanaan. Salah satu teori yang cukup dikenal mengaitkan mereka dengan Bangsa Laut yang menyerbu kawasan Mediterania Timur pada masa keruntuhan Zaman Perunggu, sekitar tahun 1200 SM. Asal-usul Bangsa Laut tidak dapat dipastikan, tetapi keberadaan mereka juga tercatat dalam sumber-sumber Mesir. Masa ini menandai awal Zaman Besi. Jika bangsa Filistin telah menguasai pembuatan senjata dari besi, kemampuan tersebut mungkin menjadi salah satu alasan mereka dapat menguasai bangsa Israel. Dalam Kitab 1 dan 2 Samuel, bangsa Filistin terus digambarkan sebagai ancaman bagi Israel.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Raja pertama: Saul

Di Timur Tengah kuno, para raja sering digambarkan sebagai sosok ilahi, baik sebagai anak dari dewa dan perempuan manusia maupun sebagai keturunan langsung dewa. Anggapan ini digunakan untuk mengesahkan kekuasaan mereka di dunia. Israel berbeda dari bangsa-bangsa lain karena Allah Israel tidak memiliki pasangan ilahi. Di Gunung Sinai, bangsa Israel juga diperintahkan agar tidak menjadi seperti bangsa-bangsa lain. Allah sendirilah raja mereka. Namun, ancaman bangsa Filistin menjadi begitu parah sehingga bangsa Israel datang kepada Samuel dan meminta, “Angkatlah seorang raja untuk memimpin kami, seperti yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain” (1 Samuel 8:5). Samuel memenuhi permintaan tersebut, tetapi ia memperingatkan mereka tentang tindakan yang biasa dilakukan para raja. Raja akan mengambil anak-anak perempuan mereka untuk melayaninya dan merekrut kaum laki-laki menjadi tentara. Sepanjang sejarah kerajaan Israel pada masa itu, sebagaimana dikisahkan dalam Kitab 1 dan 2 Raja-Raja, selalu ada seorang nabi di istana setiap raja. Raja bertugas memastikan bahwa seluruh rakyat menaati Hukum Musa, sedangkan nabi bertugas mengawasi raja.

Raja pertama Israel adalah Saul dari suku Benyamin. Meskipun Saul adalah seorang pejuang yang tangguh, ia sering salah memahami petunjuk Samuel dan terkadang bahkan mengabaikannya. Kitab Yosua memperkenalkan konsep “perang suci.” Dalam perang tertentu yang dinyatakan Allah sebagai perang yang dikhususkan bagi-Nya, bangsa Israel tidak diperbolehkan mengambil rampasan perang. Kata “dikhususkan” dalam konteks ini berarti dimusnahkan. Seluruh hasil panen dan persediaan makanan harus dibakar sebagai persembahan kepada Allah. Tidak boleh ada tawanan perang; semuanya harus dibunuh. Saul tampaknya menganggap tindakan tersebut sebagai pemborosan sehingga ia tidak melaksanakannya sepenuhnya.

David & Saul by Rembrandt
Daud & Saul oleh Rembrandt Rembrandt (Public Domain)

Latar belakang inilah yang membuka jalan bagi tampilnya seorang raja baru. Allah memerintahkan Samuel pergi ke desa Betlehem untuk menemui salah seorang anak Isai. Isai memiliki banyak anak laki-laki. Anak-anaknya yang lebih tua sedang bertempur dalam pasukan Saul, sedangkan Daud, anak bungsunya, tetap tinggal di rumah untuk menggembalakan domba. Samuel mengambil sebuah wadah berisi minyak, lalu menuangkannya ke atas kepala Daud. Istilah Ibraninya adalah mashiach, yang berasal dari kata yang berarti “mengoleskan” atau “mengurapi.” Dalam bahasa Inggris, istilah ini menjadi messiah atau “Mesias.” Pengurapan seorang raja kemudian menjadi bagian dari upacara penobatan.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Tantangan bangsa Filistin

Pada masa itu, pasukan sering dibentuk dan dibiayai secara mandiri. Para prajurit membawa kuda dan perlengkapan perang mereka sendiri serta mengandalkan keluarga dan teman untuk mengirimkan makanan. Daud ditugaskan membawa perbekalan kepada saudara-saudaranya yang bergabung dalam pasukan Saul. Pasukan Israel ditempatkan di Lembah Ela, sedangkan pasukan Filistin berkemah tidak jauh dari sana. Dalam film Troy, pasukan Yunani mengirimkan jagoan mereka, Akhilles, untuk menghadapi jagoan pihak musuh. Bangsa Filistin mengusulkan penyelesaian yang serupa:

Seorang jagoan bernama Goliat, yang berasal dari Gat, keluar dari perkemahan bangsa Filistin. Tingginya enam hasta sejengkal, sekitar 9 kaki 9 inci atau 3 meter. Ia mengenakan ketopong perunggu dan baju zirah bersisik dari perunggu seberat lima ribu syikal. Pada kakinya terpasang pelindung tulang kering dari perunggu, dan sebuah lembing perunggu tersandang di punggungnya. Tangkai tombaknya sebesar batang alat tenun, sedangkan mata tombaknya yang terbuat dari besi berbobot enam ratus syikal. Seorang pembawa perisai berjalan di depannya. Goliat berdiri dan berseru kepada barisan tentara Israel, “Mengapa kalian keluar dan bersiap untuk berperang? Bukankah aku orang Filistin dan kalian hamba-hamba Saul? Pilihlah seorang di antara kalian dan suruh ia turun menghadapiku. Jika ia mampu melawan dan membunuhku, kami akan menjadi taklukan kalian. Namun, jika aku mengalahkan dan membunuhnya, kalianlah yang akan menjadi taklukan dan melayani kami.” Orang Filistin itu kemudian berkata, “Hari ini aku menantang pasukan Israel! Berikan kepadaku seorang lawan agar kami dapat bertarung satu lawan satu.” Ketika mendengar perkataan orang Filistin itu, Saul dan seluruh orang Israel menjadi gentar dan sangat ketakutan. . . . Selama empat puluh hari, orang Filistin itu maju setiap pagi dan petang untuk menantang mereka.(1 Samuel 17:4-16)

Daud merasa sangat heran karena tidak seorang pun berani menghadapi Goliat. Ia berkata, “Siapakah orang Filistin yang tidak bersunat ini sehingga ia berani menantang pasukan Allah yang hidup?” (1 Samuel 17:26). Kakaknya menegur Daud karena meninggalkan kawanan domba dan menganggap sikapnya mempertanyakan keberanian pasukan sebagai bentuk kesombongan. Ketika Saul mendengar hal itu, ia memanggil Daud dan mengingatkannya bahwa Daud hanyalah seorang gembala. Daud kemudian menceritakan bagaimana ia pernah membunuh singa dan beruang yang menyerang kawanan ternaknya. Ia berkata, “Tuhan yang telah menyelamatkan aku dari cakar singa dan cakar beruang akan menyelamatkan aku dari tangan orang Filistin ini” (1 Samuel 17:37). Saul lalu mengizinkan Daud mengenakan baju zirah dan ketopongnya, tetapi perlengkapan itu tidak pas di tubuh Daud. Daud pun melepaskannya dan memilih lima batu dari sungai untuk digunakan dengan umban. Dalam pasukan pada masa itu, para pengumban merupakan satuan tersendiri. Mereka menggunakan tali kulit panjang dengan kantong kecil di salah satu ujungnya untuk menaruh batu. Tali tersebut diputar dengan cepat, lalu batunya dilontarkan ke arah musuh.

Daud berkata kepada orang Filistin itu, “Engkau datang kepadaku dengan pedang, tombak, dan lembing, tetapi aku datang kepadamu dalam nama Tuhan semesta alam, Allah pasukan Israel yang telah engkau tantang. Pada hari ini Tuhan akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku. Aku akan mengalahkanmu dan memenggal kepalamu. Pada hari ini juga aku akan menyerahkan mayat pasukan Filistin kepada burung-burung di udara dan binatang-binatang liar. Dengan demikian, seluruh dunia akan mengetahui bahwa ada Allah di Israel. Semua orang yang berkumpul di sini akan mengetahui bahwa Tuhan menyelamatkan bukan dengan pedang atau tombak. Sebab pertempuran ini adalah milik Tuhan, dan Dia akan menyerahkan kalian semua ke dalam tangan kami.” (1 Samuel 17:45-47)

Daud mengarahkan batu umbannya ke dahi Goliat hingga ia jatuh tersungkur ke tanah. Dengan menggunakan pedang Goliat, Daud kemudian memenggal kepalanya.

Sisihkan pariwara
Advertensi
David and Goliath
Daud dan Goliat Titian (Public Domain)

Pasukan Filistin berusaha melarikan diri, tetapi orang-orang Israel yang kini kembali berani mengejar mereka. Setelah itu, Saul memberikan kedudukan tinggi kepada Daud dalam pasukannya. Daud selalu berhasil dalam setiap pertempuran. Keberhasilan inilah yang kemudian menimbulkan kecemburuan Saul terhadap Daud:

Ketika pasukan kembali setelah Daud membunuh orang Filistin itu, para perempuan dari seluruh kota di Israel keluar untuk menyambut Raja Saul. Mereka bernyanyi dan menari dengan penuh sukacita sambil memainkan rebana dan kecapi. Sambil menari, mereka bernyanyi: “Saul telah menewaskan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berpuluh-puluh ribu.” (1 Samuel 18:6-7)

Sejak saat itu, Saul berbalik memusuhi Daud. Ia terus mengirim Daud ke medan perang melawan bangsa Filistin dengan harapan Daud akan terbunuh. “Saul takut kepada Daud karena Tuhan menyertai Daud, tetapi telah meninggalkan Saul” (1 Samuel 18:12).

Bagian selanjutnya dari Kitab 1 Samuel menceritakan bagaimana Daud dan para pengikutnya melakukan perang gerilya melawan bangsa Filistin. Namun, mereka selalu menghindari tindakan yang dapat mencelakakan Saul dan pasukannya. Setelah Saul dan anak-anaknya dibunuh oleh bangsa Filistin di Gunung Gilboa (1 Samuel 31), suku-suku Israel meminta Daud menjadi raja berikutnya. Daud menyatukan suku-suku tersebut ke dalam pemerintahan yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Israel Bersatu dan menetapkan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Raja Daud tetap dikenang sebagai salah satu raja terbesar Israel, dan masa pemerintahannya dianggap sebagai zaman keemasan.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Raksasa di dunia kuno

Sejak awal, keaslian kisah Daud dan Goliat telah dipertanyakan karena beberapa teks memberikan keterangan yang berbeda mengenai tinggi badan Goliat. Dalam tulisan Yosefus, sejarawan Yahudi dari abad pertama Masehi, serta dalam versi Yunani Kitab Suci Yahudi yang dikenal sebagai Septuaginta, tinggi Goliat disebut “empat hasta sejengkal,” atau sekitar 6 kaki 9 inci (205 cm). Pada masa itu, terdapat beberapa cara untuk mengukur satu hasta. Ukuran yang paling sering digunakan adalah hasta kerajaan, yaitu jarak dari siku hingga ujung jari tengah.

Tinggi rata-rata orang Yahudi kuno berkisar antara 5 kaki hingga 5 kaki 9 inci (152–175 cm). Karena itu, seseorang yang jauh lebih tinggi daripada rata-rata mungkin dianggap sebagai “raksasa.”

Kisah tentang raksasa banyak ditemukan dalam sastra kuno. Hampir setiap kebudayaan memiliki cerita semacam ini dalam tradisi rakyatnya. Raksasa biasanya digambarkan hidup pada masa lampau. Sebagian digambarkan baik, sedangkan sebagian lainnya jahat. Kejadian 6 menyatakan bahwa para malaikat berhubungan dengan perempuan manusia dan menghasilkan “para pahlawan zaman dahulu.” Kitab Kejadian mengaitkan para raksasa ini dengan munculnya kejahatan di bumi, sehingga Allah kemudian mendatangkan air bah untuk membersihkan dunia. Pada masa Romawi, orang-orang yang secara tidak sengaja menemukan tulang dinosaurus menganggapnya sebagai bukti keberadaan raksasa pada zaman kuno.

Para ahli dan arkeolog modern masih memperdebatkan kisah ini melalui penelitian ilmiah terhadap kerangka manusia purba. Tinggi rata-rata orang Yahudi kuno berkisar antara 5 kaki hingga 5 kaki 9 inci atau sekitar 152–175 cm. Karena itu, seseorang yang jauh lebih tinggi daripada ukuran rata-rata mungkin saja dianggap sebagai “raksasa.”

Sisihkan pariwara
Advertensi

Penyusunan kitab-kitab Samuel

Kitab 1 dan 2 Samuel, bersama dengan Kitab Yosua, Hakim-Hakim, serta 1 dan 2 Raja-Raja, secara keseluruhan dikenal sebagai Sejarah Deuteronomistis. Pada masa pembuangan ke Babilonia, sekitar tahun 596–529 SM, naskah-naskah awal yang kemudian menjadi bagian dari Kitab Suci Yahudi mengalami penyuntingan akhir. Perlu dicatat bahwa gambaran mengenai perlengkapan perang Goliat lebih menyerupai perlengkapan perang Yunani pada abad ke-6 SM daripada perlengkapan perang pada abad ke-10 SM. Ketika meninjau kembali sejarah bangsa mereka yang penuh kekerasan, sebagian penyunting menganggap munculnya sistem kerajaan sebagai akar berbagai bencana yang menimpa Israel. Kemungkinan pada masa inilah kisah-kisah tentang Daud lebih ditonjolkan sebagai teladan raja yang baik, sebagai tandingan terhadap pemerintahan Saul yang dianggap tidak bijaksana.

King David Writing Psalms
Raja Daud Menulis Mazmur Giovanni Francesco Barbieri (Public Domain)

Kisah Daud dan Goliat menggambarkan beberapa tema yang juga muncul dalam bagian-bagian lain Kitab Suci Yahudi. Meskipun bangsa Israel lebih kecil, mereka harus tetap berani mempertahankan identitas dan keyakinan mereka ketika menghadapi penindasan dan serangan dari berbagai kerajaan besar. Berbagai perjanjian dengan Allah Israel menjanjikan perlindungan selama mereka menaati perintah-perintah-Nya. Daud melambangkan kesetiaan kepada Allah. Sebaliknya, rincian tentang baju zirah dan senjata Goliat melambangkan kepercayaan manusia pada kekuatan material. Salah satu tujuan kisah ini adalah menentang anggapan umum bahwa perang dan persenjataan selalu menjamin kemenangan. Kisah tersebut justru menunjukkan bahwa pihak yang lebih lemah pun dapat memperoleh kekuatan selama hidupnya berlandaskan iman.

Meskipun tidak terdapat dalam teks Alkitab, banyak film Hollywood sering menggambarkan Daud melafalkan Mazmur 23 ketika ia berjalan mendekati Goliat. Menurut tradisi, Daud dianggap sebagai penulis Kitab Mazmur:

Sekalipun aku berjalan
melewati lembah yang paling gelap,
aku tidak takut pada bahaya,
sebab Engkau menyertaiku;
gada-Mu dan tongkat-Mu,
keduanya menghibur aku.

Engkau menyediakan hidangan bagiku
di hadapan musuh-musuhku.
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;
pialaku penuh berlimpah.
Sesungguhnya, kebaikan dan kasih-Mu akan menyertaiku
seumur hidupku,
dan aku akan tinggal di rumah Tuhan
selama-lamanya.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Sisihkan pariwara
Advertensi

Daftar Pustaka

Ensiklopedia Sejarah Dunia adalah mitra afiliasi Amazon dan mendapatkan komisi dari pembelian buku yang memenuhi syarat.

Tentang Penerjemah

Tentang Penulis

Sitasi Karya Ini

Gaya APA

Denova, R. (2026, Juli 23). Daud & Goliat. (F. D. Floris, Penerjemah). World History Encyclopedia. https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1816/daud--goliat/

Gaya Chicago

Denova, Rebecca. "Daud & Goliat." Diterjemahkan oleh Flora Debora Floris. World History Encyclopedia, Juli 23, 2026. https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1816/daud--goliat/.

Gaya MLA

Denova, Rebecca. "Daud & Goliat." Diterjemahkan oleh Flora Debora Floris. World History Encyclopedia, 23 Jul 2026, https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1816/daud--goliat/.

Sisihkan pariwara