Akhilles

Mark Cartwright
oleh , diterjemahkan oleh Janet Estherina
dipublikasikan pada
Translations 12
bookmark_addbookmark_addedSimpan Artikel printCetak picture_as_pdfPDF
Achilles & Penthesileia (by Marie-Lan Nguyen, CC BY)
Penthesileia dan Akhilles Marie-Lan Nguyen (CC BY)

Akhilles (atau Achilles) adalah salah satu tokoh dalam mitologi dan sastra Yunani dan pahlawan perang Troya yang terkenal karena tidak terkalahkan dalam pertarungan. Ia adalah pemimpin dari prajurit Myrmidon yang mengerikan, penghancur kota-kota, dan pembantai Hektor. Pejuang Yunani yang tangguh ini akhirnya terbunuh hanya karena adanya campur tangan dari dewa Apollo.

Walaupun ia adalah prajurit Yunani yang paling kuat, tampan dan berani dalam Perang Troya, Akhilles juga memiliki sifat angkuh dan pemarah, dan kemarahannya berakibat buruk baik kepada orang sebangsanya maupun musuhnya.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Kehidupan awal

Akhilles adalah anak dari Peleus dan Thetis, salah satu dari Nereid. Untuk membuat anaknya kebal dan tidak bisa mati, Thetis memegangnya di atas api suci atau, dalam versi cerita yang berbeda, sungai Styx. Tetapi karena tumitnya dipegang oleh tangan sang ibu, bagian tubuh tersebut menjadi titik lemahnya yang menjadi penyebab kejatuhannya. Thetis tahu bahwa anaknya ditakdirkan untuk menjalani hidup yang bergemilang tetapi pendek, sehingga ia menyembunyikan Akhilles di Skyros dimana ia diasuh oleh keluarga raja Lykomedes, dan di beberapa versi ia menyamar sebagai perempuan. Beberapa bersi juga menyatakan bahwa ia adalah anak didik Chiron (Kheiron), centaur bijak yang merupakan guru dari banyak pahlawan Yunani, termasuk Hercules.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Perang Troya

Kebanyakan dari kisah perjuangan Akhilles bersumber dari Iliad (Ilias), epos karya Homer tentang Perang Troya. Bahkan bisa dibilang bahwa Akhilles adalah tokoh utama dari karya tersebut, dan Homer sendiri menyatakan bahwa Iliad adalah kisah tentang amarah Achilles. Pada awalnya, Odysseus, raja Ithaka yang cerdik, pergi mencari Akhilles untuk membujuknya agar ikut dalam perang yang akan datang antara Yunani dan Troya. Odysseus adalah seorang negosiator yang hebat dan karena Akhilles haus akan kejayaan, misi tersebut berhasil dan Akhilles pergi ke Troya meninggalkan anaknya Neoptolemus. Ia membawa 50 kapal yang masing-masing berisi 50 orang Myrmidons, prajurit yang berasal dari semut yang diubah oleh Zeus dan dihadiahkan kepada anaknya Aiakos, raja Aegina dan ayah Peleus.

Penthesilea & Achilles
Penthesileia dan Akhilles Mark Cartwright (CC BY-NC-SA)

Serangan Akhaia terhadap Troya berlangsung selama sepuluh tahun, dan selama itu Akhilles menunjukkan keunggulannya dalam berperang dan menghancurkan setidaknya 23 kota di area sekitarnya. Pada awal perang tersebut, sang pahlawan menyergap Troilus, seorang pangeran Troya saat ia sedang minum dari mata air dan mengorbankannya kepada dewa Apollo. Hal ini sangat menguntungkan bagi pihak Yunani, karena adanya ramalan yang menyatakan bila pangeran tersebut dibunuh sebelum umurnya genap 20 tahun, maka Troya akan jatuh. Beberapa versi menyatakan bahwa pembunuhan Troilus terjadi di tempat suci Apollo, dan ada kemungkinan bahwa kejadian tersebut berakibat pada dendam Apollo yang berakibat fatal pada Akhilles.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Perang sesaat terlihat baik bagi pihak Yunani, sampai ketika Agamemnon, raja Mycenae dan pemimpin pasukan Yunani, bertengkar dengan Akhilles yang berakibat padanya menarik diri dari peperangan. Pertengkaran tersebut berawal pada suatu penyerbuan ketika Akhilles menculik dua gadis cantik – Briseis dan Kriseis. Ia menyimpan Briseis untuk dirinya sendiri dan memberikan Ktiseis untuk Agamemnon. Tetapi, ayah Kriseis menawarkan uang tebusan yang menggoda untuk kepulangan putrinya. Agamemnon menolak, dan mungkin karena gadis tersebut adalah pendeta Apollo, para dewa mengirim wabah yang mengacaukan perkemahan Akhaia. Agamemnon akhirnya merelakan Kriseis, tetapi ia mengambil Briseis dari Akhilles untuk menghibur dirinya. Tindakan ini membuat Akhilles merasa terhina dan ia beserta para Myrmidons menutup diri dalam kemah mereka dan menolak untuk ikut serta dalam perang.

Akhilles sang penghancur manusia, dengan baju zirah barunya dan penuh dengan kemarahan, maju ke medan perang sekali lagi

Tanpa pejuang sakti mereka, pasukan Akhaia mulai mengalami kemunduran dan pasukan Troya memanfaatkannya sampai nyaris mencapai tembok perkemahan Akhaia dalam salah satu serangan mereka dan membakar kapal-kapal Yunani. Agamemnon menawarkan hadiah-hadiah hebat dan pengembalian Briseis kepada Akhilles, tetapi hal tersebut tidak berhasil. Bahkan Patroklos (Patroclus), sahabat baiknya, berusaha membujuknya untuk keluar atau setidaknya memperbolehkan dirinya untuk menggantikannya memimpin pasukan Myrmidons. Akhilles menyetujui rencana keduanya, dan memberikan Patroklos baju zirahnya dan membuatnya berjanji hanya untuk bertahan dan tidak mengejar pasukan Troya kembali ke kota mereka. Ketika para prajurit Troya melihat Patroklos yang mengenakan zirah Akhilles, mereka panik karena mengira bahwa Akhilles telah kembali ke medan perang. Hal ini membuat Patroklos merasa bersemangat, sehingga ia tidak menghiraukan permintaan Akhilles dan mengejar pasukan Troya yang mundur, bahkan membunuh Sarpedon, orang Lycia yang merupakan anak dewa Zeus dan mencapai tembok kota Troya. Malangnya bagi sang pejuang muda, Apollo, dewa pelindung orang Troya, memutuskan untuk ikut bercampur tangan, memukul baju zirah dan helm Patroklos lepas dari tubuhnya dan menuntun tombak Euphorbos untuk menusuknya dari belakang. Patroklos hanya terluka dari serangan tersebut, tetapi Hector, pangeran Troya, melayangkan pukulan maut kepadanya. Pertempuran panjang pun terjadi untuk memperebutkan mayat Patroklos, dan para Akhaia, yang dipimpin oleh Menelaus dan Aias, pada akhirnya membawa mayatnya kembali ke perkemahan.

Amarah Akhilles

Ketika Akhilles mendengar tentang tragedi ini, ia dipenuhi amarah; sekarang ia akan bertarung dan membalaskan kematian sahabatnya. Ia langsung meminta Thetis, ibunya, untuk memberinya zirah dan sang ibu meminta Hephaistos, dewa pandai besi, untuk membuat baju zirah paling hebat yang pernah ada untuk putranya. Homer mendeskripsikan baju zirah tersebut dengan sangat mendetail; tamengnya menampilkan berbagai macam gambaran dengan emas, perak, dan enamel, pelindung kakinya terbuat dari timah berkilauan, dan helmnya memiliki jengger emas.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Akhilles sang penghancur manusia, dengan baju zirah barunya dan penuh dengan kemarahan, maju ke medan perang sekali lagi dan memusnahkan musuh dimana-mana, mengirim banyak sekali pahlawan Troya ke alam baka. Hektor, walaupun seorang pendekar yang tangguh, tidak mampu membandingi Akhilles, yang langsung membantai sang pahlawan Troya. Akhilles mengikat jasad Hektor ke kereta kudanya dan menyeretnya di depan tembok kota Troya di depan keluarganya yang masih berkabung, dan kembali ke perkemahan Akhaia. Tindakan tersebut dianggap tidak terhormat dan melanggar aturan peperangan pada zaman tersebut.

Priam, Raja Troya, datang ke kemah musuh secara diam-diam untuk meminta Akhilles untuk mengembalikan jenazah anaknya agar dapat dimakamkan secara layak. Setelah sang raja memberikan permohonan yang panjang dan menyentuh dengan sedikit saran dari dewi Athena, Akhilles akhirnya memenuhi permintaannya.

Achilles and Ajax By Exekias
Achilles dan Ajax oleh Exekias Dan Diffendale (CC BY-NC-SA)

Namun, pertempuran terus berlanjut setelah kejadian tersebut, dan Akhilles terus mendominasi dalam medan perang, bahkan membunuh Memnon, Raja Ethiopia dan keponakan Priam. Tetapi, ia semakin mendekati ajalnya. Seperti yang ditakuti ibunya, walaupun hidupnya dipenuhi kejayaan dan kemasyhuran, sang pahlawan akan tewas pada puncak kejayaannya. Lagi, Apollo ikut campur dengan perang tersebut dan mengarahkan anak panah yang ditembakkan oleh Paris - pangeran Troya yang memulai perang tersebut dengan menculik Helen yang cantik. Tentu saja, anak panah tersebut menancap pada titik lemah Akhilles, tumitnya, dan tewaslah sang pahlawan. Jenazahnya dibawa kembali ke perkemahan Akhaia oleh Aias dimana perlombaan diadakan sebagai penghormatan kepada sang pahlawan yang tewas. Setelah pertengkaran dengan Aias, baju zirah megahnya diberikan pada Odysseus. Odysseus lah yang akhirnya akan membawa kemenangan bagi pihak Yunani dengan tipu muslihat kuda kayunya.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Penggambaran dalam seni

Pahlawan Yunani ini adalah subjek yang populer dalam seni Yunani kuno. Ia sering muncul di vas di seluruh Yunani, dari Athena sampai Mykonos. Adegan-adegan yang muncul dalam lukisan keramik merah dan hitam antara lain Peleus memberikan putranya untuk diasuh oleh Chiron, Akhilles menerima baju zirahnya dari ibunya Thetis, sang pahlawan mengejar pangeran Troilus, membantai Hektor dan menyeret jasadnya dengan kereta kudanya. Akhilles, saat mengenakan baju zirahnya, seringkali digambarkan dengan helm Korinthos dan tameng bergambar gorgon. Salah satu penggambaran yang paling umum (lebih dari 150 ada) adalah Akhilles dan Aias dalam baju zirah bermain permainan papan dengan dadu saat beristirahat dari peperangan. Contoh yang kemungkinan paling terkenal adalah sebuah amfora dengan lukisan figur hitam dari 530 SM yang sekarang berada di Museum Vatikan.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Daftar Pustaka

Ensiklopedia Sejarah Dunia adalah mitra afiliasi Amazon dan mendapatkan komisi dari pembelian buku yang memenuhi syarat.

Tentang Penerjemah

Tentang Penulis

Sitasi Karya Ini

Gaya APA

Cartwright, M. (2026, Agustus 05). Akhilles. (J. Estherina, Penerjemah). World History Encyclopedia. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-10354/akhilles/

Gaya Chicago

Cartwright, Mark. "Akhilles." Diterjemahkan oleh Janet Estherina. World History Encyclopedia, Agustus 05, 2026. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-10354/akhilles/.

Gaya MLA

Cartwright, Mark. "Akhilles." Diterjemahkan oleh Janet Estherina. World History Encyclopedia, 05 Agu 2026, https://www.worldhistory.org/trans/id/1-10354/akhilles/.

Sisihkan pariwara