Dua Belas Suku Israel

Artikel

Rebecca Denova
oleh , diterjemahkan oleh Sabrina Go
diterbitkan pada 06 September 2021
X
translations icon
Tersedia dalam bahasa lain: Bahasa Inggris

Dua Belas Suku Israel mengacu pada putra-putra dari Patriark Yahudi Yakub dan merupakan hal penting bagi garis keturunan suku dari mereka yang membentuk bangsa Israel. Di zaman kuno, semua kelompok etnis mengembangkan cerita-cerita tentang leluhur mereka pada apa yang dikenal sebagai fondasi mitos sebab semua garis keturunan dianggap penting dalam mempertahankan garis keturunan leluhur dan juga sebagai status untuk penanda identitas.

The Twelve Tribes of Israel
Dua Belas Suku Israel
Ori299 (Public Domain)

Keduabelas putra Yakub sesuai urutan lahir adalah:

  • Ruben
  • Simeon
  • Lewi
  • Yehuda
  • Dan
  • Naftali
  • Gad
  • Asyer
  • Isakhar
  • Zebulon
  • Yusuf (Manasye, Efraim)
  • Benyamin

Urutan lahir penting dalam praktik pengaturan hak anak sulung, atau putra tertua mewarisi sebagian besar harta ayahnya, dan kemudian sisanya dibagikan sesuai tingkatan anak lainnya. Dalam narasi alkitab, setelah kematian Yusuf di Mesir, bagiannya diberikan kepada dua putranya Manasye dan Efraim. Status tiap anak nantinya akan dikoordinasikan di wilayah yang mereka terima di Kanaan. Yakub tidak diragukan memiliki anak-anak perempuan lain, namun hanya satu yang disebutkan, Dina (lihat di bawah).

Sisihkan pariwara

Advertisement

Yakub

Yakub menerima nama baru: “Israel” atau “ia yang bergulat malaikat atau dengan tuhan dan hidup”. Dengan demikian, semua keturunannya menjadi bangsa Israel.

Yakub adalah anak bungsu dari Ishak dan Ribka. Ishak adalah anak yang dijanjikan oleh Tuhan orang Israel kepada Abraham, pendiri tradisional dari bangsa ini. Yakub mencuri hak kakaknya (sebagai anak sulung) dan harus melarikan diri ke Timur menuju Haran (Utara Irak), di mana sebagian sanak Abraham masih hidup. Di sana ia bertemu dengan Rahel di sumur dan meminta izin pada Laban, ayah Rahel, agar diperbolehkan menikahi Rahel. Laban memberi syarat agar Yakub bekerja terlebih dulu untuknya selama tujuh tahun. Yakub menyanggupinya, namun di malam pernikahan ternyata yang hadir adalah Lea, kakak Rahel. Yakub pun protes, namun Laban menyuruhnya bekerja selama tujuh tahun lagi dan menjanjikan akan memberikan Rahel kemudian.

Ceritanya kemudian menjadi lebih mendetil dan rumit tentang anak-anak Yakub. Awalnya, Lea melahirkan beberapa anak laki-laki, sementara Rahel dinyatakan mandul. Kemudian Rahel menyodorkan pelayannya (praktik kuno ibu pengganti dalam kasus kemandulan). Lea menjadi mandul sesaat dan juga menyodorkan pelayannya. Aktivitas ini kemudian menjadi acuan di tradisi yang belakangan tentang di mana dan mengapa para putra tersebut mewarisi wilayah suku tertentu di tanah Kanaan. Hal ini terikat pada identitas ibu mereka, Lea dan Rahel, dan kedua pelayan mereka, Bilha dan Zilpa.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Leah Rahel Bilha Zilpa
Ruben Yusuf Dan Gad
Simeon Benyamin Naftali Asyer
Lewi
Yehuda
Isakhar
Zebulon

Rindu ingin pulang dan ingin berbaikan dengan kakaknya, dalam perjalanan pulang di malam hari Yakub disambangi oleh suatu sosok dan dengan sosok itu ia bergulat. Berbagai versi menggambarkan sosok ini sebagai manusia, Tuhan atau sesosok malaikat. Yakub menuntut berkat dan sekarang ia menerima nama baru: “Israel” atau “ia yang bergulat dengan malaikat suci atau dengan Tuhan dan hidup.” Dengan demikian semua keturunanya menjadi bangsa Israel.

Di Kanaan

Kitab Kejadian memberikan beberapa cerita tambahan tentang kehidupan Yakub dan anak-anaknya setelah kembalinya mereka ke Kanaan. Dina adalah anak perempuan Lea dan Yakub. Ia pergi mengunjungi perempuan-perempuan di Sikhem. Anak laki-laki dari pemimpin wilayah itu, Hemor, yang juga bernama Sikhem, mengambil dan mencabulinya. Sikhem mencintai Dina dan meminta ayahnya untuk mendapatkannya dari Yakub (34:6-10).

Sisihkan pariwara

Advertisement

Lalu Hemor ayah Sikhem, pergi mendapatkan Yakub untuk berbicara dengan dia. Sementara itu anak-anak Yakub pulang dari padang, dan sesudah mendengar peristiwa itu orang-orang ini sakit hati dan sangat marah karena Sikhem telah berbuat noda di antara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan. Berbicaralah Hemor kepada mereka itu: "Hati Sikhem anakku mengingini anakmu; kiranya kamu memberikan dia kepadanya menjadi isterinya dan biarlah kita ambil-mengambil: berikanlah gadis-gadis kamu kepada kami dan ambillah gadis-gadis kami. Tinggallah pada kami: negeri ini terbuka untuk kamu; tinggallah di sini, jalanilah negeri ini dengan bebas, dan menetaplah di sini. (34:6-10).

Karena saudari mereka sudah dinodai, Simeon dan Lewi berkeras agar Sikhem harus disunat terlebih dahlulu. Hemor dan Sikhem setuju dan menghimbau orang-orang Sikhem yang lain untuk melakukan ritual tersebut. Pada hari ketiga, “ketika mereka sedang menderita kesakitan” (Kejadian 34:25), Simeon dan Lewi membantai Hemor, Sikhem dan seluruh klannya serta menjarah desa mereka. Beberapa sarjana modern menganggap cerita ini dimasukkan belakangan, dengan pemikiran Yahudi yang menganggap orang-orang non-Yahudi adalah penyembah berhala dan tidak murni. Dalam beberapa periode kemudian di dalam sejarah Yahudi, terdapat larangan perkawinan campuran dengan orang-orang semacam itu. Dina muncul dalam novel modern, The Red Tent karya Anita Diamant.

Yusuf

Dua anak laki-laki dari Rahel adalah Yusuf dan Benyamin. Rahel meninggal saat melahirkan Benyamin. Karena cintanya pada Rahel, mereka adalah anak-anak kesayangan Yakub. Yusuf adalah penafsir mimpi dan bercerita pada saudara-saudaranya tentang sebuah mimpi di mana mereka mengelilingi Yusuf dan membungkuk padanya. Ketika sebuah karavan yang sedang dalam perjalanan menuju Mesir lewat, mereka menjual Yusuf sebagai budak. Mereka mengambil jubah spesial yang dibuatkan Yakub untuk Yusuf, melumurinya dengan darah dan berkata pada Yakub bahwa Yusuf sudah mati. Sebagai penafsir mimpi, Yusuf mampu mengartikan mimpi Firaun dan menjadi menteri di Mesir.

The Story of Joseph by Ghiberti
Kisah Yusuf oleh Ghiberti
Sailko (CC BY)

Hal ini mengarah pada cerita bagaimana Dua Belas Suku tersebut pindah ke Mesir. Ketika itu terjadi paceklik di Kanaan, Yakub mengutus putra-putranya ke Mesir untuk menegosiasikan makanan. Mereka tidak mengenali Yusuf, yang mempermainkan mereka, tapi pada akhirnya ia memaafkan saudara-saudaranya dan berkata agar mereka pindah ke Mesir. Mereka menjadi makmur di Mesir sampai seorang Firaun naik tahta dan tidak mengingat Yusuf kemudian memperbudak orang-orang Israel untuk membangun kota-kota lumbung.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Berkat Yakub Menjelang Kematiannya

Di akhir kitab Kejadian, saat Yakub sedang sekarat, ia memanggil masing-masing putranya (ayat 49). Berkat yang diberikan menjelang kematian dijunjung tinggi (sebagaimana diukir di atas batu) dan digunakan untuk memprediksi kejadian yang akan datang:

Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya dan berkata: "Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari. Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israel, ayahmu. Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan. Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku! Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan. Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permupakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong urat keting lembu. Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis. Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel. Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu. Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya , maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.” (Kejadian 49:1-10)

Hal ini berlanjut hingga ke anak terakhir. Berkat merefleksikan tradisi di kemudian hari saat bangsa ini menetap di tanah mereka. Sebagai anak sulung, Ruben seharusnya mewarisi otoritas, namun ia berdosa terhadap ayahnya. Simeon dan Lewi membantai kaum Sikhem. Berkat ini menjelaskan mengapa Yehuda, putra keempat, mewarisi janji untuk memimpin yang lain (Raja Daud adalah keturunannya). Lewi, yang keturunannya adalah Musa dan Harun, tidak menerima warisan tanah. Harun menjadi imam tinggi pertama. Alih-alih tanah, kaum Lewi menjadi anggota Kuil ketika akhirnya dibangun di Yerusalem. Suku-suku lain yang tidak menggarap tanah berkontribusi dengan membantu kaum Lewi dengan memberikan persembahan berupa daging, roti dan anggur. Kaum Lewi juga diberi kota-kota perlindungan di tanah itu.

Dari Konfederasi Suku Hingga Pengasingan Babilonia

Kitab Yosua, kitab Hakim-Hakim, dan 1 Samuel berhubungan dengan perjuangan dan menetapnya bangsa Israel di Kanaan setelah bangsa Yahudi keluar dari Mesir (Keluaran). Berdasarkan tradisi, dikatakan pada bangsa Yahudi di Gunung Sinai bahwa mereka tidak boleh menjadi seperti bangsa lain. Hal ini berlaku juga untuk pemerintahan; Israel tidak diperkenankan memilki manusia sebagai raja sebab Tuhan adalah raja mereka. Setelah menetap di Kanaan, bangsa Israel berkuasa melalui konfederasi suku . Ini adalah kerja sama untuk mengorganisir perang melawan orang Kanaan dan juga orang-orang Filistin. Pada waktu tersebut bangsa Israel mempunyai tenda pertemuan portabel sebagai tempat penyimpanan Tabut Perjanjian (yang terdiri dari dua loh batu yang berisi sepuluh perintah Allah yang diberikan kepada Musa di G. Sinai). Untuk menghindari rasa iri hati serta kemungkinan suku-suku lain mengajukan klaim kepemilikan mereka, tenda tersebut dirotasi di antara berbagai wilayah suku. Berbagai situs kultus (seperti Shiloh) menghasilkan banyak sumber dan cerita tentang suku-suku Israel selama periode tersebut.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Territories Allotted to the Twelve Tribes of Israel
Wilayah yang Diberikan kepada Dua Belas Suku Israel
Janz (CC BY-SA)

Ketika Konfederasi Suku tidak lagi mampu mengatasi bangsa Filistin, bangsa Israel meminta pada Nabi Samuel untuk “memberi kami raja” (1 Samuel 8:5). Raja pertama, Saul, adalah contoh yang buruk, dan ketika ia dibunuh, suku-suku tersebut memilih Daud sebagai raja. Periode ini dikenal sebagai penyatuan monarki dan dipandang sebagai zaman keemasan. Putranya, Salomo, membangun kompleks kuil pertama di ibu kota baru, Yerusalem.

Terlepas dari ketenaran akan kekayaan dan kearifan Salomo, program pembangunannya mewajibkan pekerja dari suku-suku tersebut. Setelah kematian Salomo (+ 920 SM?), suku-suku tersebut mendekati putranya dan memintanya untuk menghentikan praktik ini. Ia menolak. Sepuluh suku memisahkan diri dan membentuk kerajaan sendiri di Israel Utara. Dua suku yang tetap setia, suku Yehuda dan suku Benyamin, membentuk kerajaan mereka sendiri di Selatan (kerajaan Judah). Selama dua ratus tahun berikutnya, kerajaan-kerajaan ini kadang-kadang bergabung untuk melawan penjajah, tapi cukup sering mereka saling bertikai (2 Raja-raja dan 1&2 Tawarikh).

Hanya Suku Benyamin dan Yehuda di selatan yang selamat.

Tahun 722 SM, Kekaisaran Asyur menginvasi Kerajaan Utara Israel dan menghancurkannya. Bangsa Asyur memiliki peraturan yang dirancang untuk memberantas kemungkinan adanya pemberontakan dari wilayah-wilayah taklukan. Bangsa Asyur menukar populasi di sana dengan mengeluarkan bangsa Israel dan menggantinya dengan kaum mereka sendiri. Tempat tujuan dan kelangsungan hidup kesepuluh suku ini masih menjadi misteri. Mereka menjadi sepuluh suku Israel yang hilang, hilang dari sejarah.

Kekaisaran Asyur ditaklukkan oleh Kekaisaran neo-Babilonia. Bangsa Babilonia menaklukkan Yerusalem dan Kerajaan Selatan pada tahun 587 SM dan menghancurkan Kuil Salomo. Dengan kebjiakan luar negeri yang sama, para tawanan dibawa ke Babilonia. Periode ini dikenal dengan sebutan Pengasingan Babilonia (terbuang dari tanah mereka). Ketika Koresh Agung (memerintah +550-530 SM), pendiri Kekaisaran Akhmeneniyah menaklukkan Babilonia, ia mengizinkan bangsa Yahudi untuk kembali dan membangun kembali Kuil mereka (539 SM). Dengan demikian, hanya suku Benyamin dan suku Yehuda di selatan yang selamat.

Kitab Para Nabi

Para Nabi Israel berperan sebagai peramal, atau sebagai jembatan di mana orang-orang kuno berkomunikasi dengan Tuhan mereka. Para Nabi ditunjuk oleh Tuhan untuk memberikan pengajaran, peringatan dan detil-detil keadilan sosial. Hal ini terdapat di dalam kitab Para Nabi di mana kita akan menemukan penjelasan mengapa Tuhan mengizinkan terjadinya bencana-bencana ini. Tuhan menggunakan kekuatan dari luar untuk menghukum orang Israel atas dosa-dosa mereka, dosa yang terbesar adalah mengizinkan menyembah berhala di tanah mereka. Di saat yang sama, para Nabi memberikan pesan pengharapan bahwa Tuhan pada akhirnya akan turun tangan sekali lagi dalam sejarah manusia, pada “hari-hari akhir” (eschaton dalam bahasa Yunani). Tuhan akan menghadirkan seorang Mesias (“ia yang diurapi”), dari keturunan Daud. Pada waktu tersebut, akan terjadi perang terakhir yang diikuti oleh penghakiman terakhir. Orang-orang jahat akan dijatuhkan ke Neraka, dan yang baik akan menempati Taman Firdaus yang baru di bumi, itulah rencana awal Tuhan untuk umat manusia. Pada waktu itu, kemuliaan bangsa Israel akan dipulihkan dan bangsa-bangsa lain akan tunduk pada otoritasnya. Hal ini meliputi tema dominan tentang pengembalian kedua belas suku Israel yang dikumpulkan dari tempat-tempat jauh.

Menurut Nabi Ezekiel:

Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Sekarang, Aku akan memulihkan keadaan Yakub dan akan menyayangi seluruh kaum Israel dan cemburu-Ku timbul untuk mempertahankan nama-Ku yang kudus.

Mereka akan melupakan noda mereka dan segala ketidaksetiaan mereka, yang dilakukannya terhadap Aku, kalau mereka sudah diam kembali di tanah mereka dengan aman tenteram dengan tidak dikejutkan oleh apapun, dan kalau Aku sudah membawa mereka kembali dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari tanah musuh-musuh mereka dan pada saat Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepada mereka di hadapan bangsa-bangsa yang banyak. Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allah mereka, yang membawa mereka ke dalam pembuangan di tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka kembali di tanahnya dan Aku tidak membiarkan seorangpun dari padanya tinggal di sana. Aku tidak lagi menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, kalau Aku mencurahkan Roh-Ku ke atas kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH." (39:25-29)

Di tahun 330 SM, Aleksander Agung (memerintah 336-323 SM) menaklukkan Mediterania Timur termasuk Israel dan menerapkan aturan-aturan Yunani. Pemberontakan Makabe (167-160 SM) menghasilkan kemenangan atas bangsa Yunani; kekuasaan Yahudi bertahan selama sekitar seratus tahun sampai akhirnya Roma menaklukkan Israel pada tahun 63 SM. Periode ini memberikan harapan bagi bangsa Israel, dengan adanya sejumlah orang yang memproklamirkan diri sebagai mesias yang memohon intervensi Tuhan sekarang juga. Ide memulihkan bangsa Israel dihidupkan kembali pada periode ini.

Kekristenan

Umat Kristen menyatakan Yesus dari Nazaret adalah mesias yang diprediksi oleh para Nabi. Ia mengajarkan pesan yang sama dengan para Nabi dan juga tentang Kerajaan Allah yang sudah dekat. Ajarannya juga meliputi pemanggilan kedua belas rasul ( “murid” dalam bahasa Yunani), yang secara simbolik melambangkan kedua belas suku Israel. Kitab-kitab Injil tidak selalu setuju soal nama-nama, dan Lukas menulis bahwa ada 70 orang murid lain. Akan tetapi, mereka secara konsisten disebut sebagai “dua belas rasul”. Dalam perjamuan terakhir versi Injil Lukas, peran mereka dalam kedatangan kerajaan Allah tertera secara eksplisit: “Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Lukas 22:28-30).

Calling of the Apostles by Domenico Ghirlandaio
Pemanggilan Rasul-rasul oleh Domenico Ghirlandaio
Perledarte (CC BY-NC)

Dalam Kisah Para Rasul menurut Lukas, ia mengutip Ezekiel (di atas) dalam narasinya pada hari Pentakosta. Bangsa Yahudi berada di Yerusalem untuk merayakan Pentakosta (“dari setiap bangsa di atas bumi”) dan inilah saat “roh Tuhan” turun ke atas para pengikut Yesus. Dalam kitab Wahyu, Yohanes dari Patmos menulis tentang 144.000 martir di surga (12x12=144). Dalam pengelihatannya akan Yerusalem yang dipulihkan, nama dari kedua belas suku Israel tertulis pada gerbang-gerbang kota (21:12-13).

Pencarian Suku-Suku yang Hilang

Pencarian sepuluh suku Israel yang hilang dimulai dari zaman dahulu dan berlanjut hingga zaman modern. Berbagai tulisan dari zaman kuno akhir dan Abad Pertengahan menyatakan tentang daerah-daerah sampai ke Timur Israel dan juga tempat-tempat di Afrika, terutama Ethiopia yang memiliki komunitas Yahudi. Komunitas Beta Israel di Ethiopia mengklaim sebagai keturunan dari suku Dan. (Orang-orang Yahudi kemudian diterbangkan ke Israel selama Operasi Salomo di akhir perang sipil Eritrea/Ethiopia tahun 1991). Adanya persekusi sporadis atas kaum Yahudi di Rusia dan Eropa, harapan akan tanah air (Zionisme) menjadi tema yang penting yang meliputi cara-cara untuk mengumpulkan suku-suku yang hilang.

Kekaisaran Asyur, ditaklukkan oleh Babilonia dan kemudian oleh Persia, meliputi wilayah luas dari Suriah hingga Afganistan, dari bagian utara Arabia sampai ke Laut Hitam dan sebelah selatan Rusia. Wilayah ini mencakup Jalur Sutra, rute karavan menuju Tiongkok dan India, dan hal ini menimbulkan spekulasi bahwa suku-suku yang hilang itu mungkin bisa ditemukan di antara berbagai bangsa di wilayah ini. Pemikiran yang populer adalah bisa jadi bangsa Skithia atau bangsa Kimmeri yang merupakan bangsa Yahudi kuno yang mengadopsi adat-istiadat suku; dan dari wilayah ini suku-suku tersebut meyebar ke Rusia dan kemudian ke Eropa.

Abraham Mordechai Farissol (1451-1525) adalah penulis Yahudi pertama yang mengklaim bahwa penduduk asli Amerika adalah suku-suku yang hilang tersebut. Aaron Levi yang berpergian ke daerah-daerah ini, menyatakan bahwa ia menyaksikan suku-suku asli Amerika itu mempraktikan ritual-ritual Yahudi dan mereka adalah keturunan dari Ruben dan Lewi. Yang lain mengklaim bahwa komunitas Yahudi di India adalah keturunan suku-suku Israel. Kesepuluh suku yang hilang mulai diidentifikasi bangsa Yahudi yang hidup di wilayah-wilyah Afganistan, Azerbaijan, Myanmar, Kurdistan, Kashmir, dan di antara bangsa Tartar di Rusia, Jepang dan Tiongkok.

Pada abad ke-19, Joseph Smith, pendiri komunitas Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (Gereja Mormon), mengklaim bahwa penduduk asli Amerika adalah keturunan dari kesepuluh suku Israel yang beremigrasi ke benua Amerika setelah kehancuran Babilonia (587 SM). Klaim ini juga menyatakan bahwa Yesus datang ke Amerika untuk mengunjungi mereka.

Dengan berdirinya negara Israel di tahun 1948, sebagian orang Israel menyatakan bahwa pemulihan bangsa Israel yang sebenarnya tidak akan tercapai tanpa menemukan kesepuluh suku yang hilang tersebut. Lembaga-lembaga penelitan didirikan untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan baru tentang DNA dan genetika. Dengan menggunakan contoh DNA dari orang-orang di wilayah Asiatik dan Afrika, ditemukan hubungan dengan ciri-ciri dominan dari kaum Semit Timur Tengah (bangsa Arab dan Yahudi), meski sudah tercampur selama berabad-abad dengan gen local. Penelitian masih berlanjut.

Sisihkan pariwara

Advertensi

Tentang Penerjemah

Sabrina Go
Penggemar cerita-cerita lama, kisah-kisah kuno dan kejadian-kejadian di masa lalu. Dan seorang penerjemah.

Tentang Penulis

Rebecca Denova
Rebecca I. Denova, Ph.D. adalah Guru Besar Emeritus mengenai Kekristenan Awal di Departemen Studi Agama, Universitas Pittsburgh. Belum lama ini beliau telah merampungkan sebuah buku, "The Origins of Christianity and the New Testament" (Wiley-Blackwell)

Kutip Karya Ini

Gaya APA

Denova, R. (2021, September 06). Dua Belas Suku Israel [The Twelve Tribes of Israel]. (S. Go, Penerjemah). World History Encyclopedia. Diambil dari https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1822/dua-belas-suku-israel/

Gaya Chicago

Denova, Rebecca. "Dua Belas Suku Israel." Diterjemahkan oleh Sabrina Go. World History Encyclopedia. Terakhir dimodifikasi September 06, 2021. https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1822/dua-belas-suku-israel/.

Gaya MLA

Denova, Rebecca. "Dua Belas Suku Israel." Diterjemahkan oleh Sabrina Go. World History Encyclopedia. World History Encyclopedia, 06 Sep 2021. Web. 23 Mei 2022.