Rut & Naomi

Rebecca Denova
oleh , diterjemahkan oleh Flora Debora Floris
dipublikasikan pada
Translations
bookmark_addbookmark_addedSimpan Artikel printCetak picture_as_pdfPDF

Kisah Rut dan Naomi terdapat dalam Kitab Rut, salah satu kitab dalam Kitab Suci Yahudi. Secara tradisional, Kitab Suci Yahudi dibagi menjadi tiga bagian: Taurat, yaitu lima kitab pertama yang dikaitkan dengan Musa; Kitab Para Nabi (Nevi’im); dan Kitab-Kitab Tulisan (Ketuvim), yang mencakup Kitab Rut. Peristiwa dalam Kitab Rut berlangsung pada masa yang digambarkan dalam Kitab Hakim-Hakim dan 1 Samuel. Kitab-kitab tersebut menceritakan kehidupan kedua belas suku Israel setelah mereka keluar dari Mesir, sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Keluaran, dan kemudian menetap di tanah Kanaan. Meskipun latar ceritanya berada dalam periode tersebut, para ahli memperkirakan bahwa Kitab Rut baru ditulis atau disusun pada sekitar abad ke-6 hingga ke-4 sebelum Masehi.

Ruth Swearing her Allegiance to Naomi
Rut Berjanji Setia kepada Naomi Jan Victors (Public Domain)
Kisah ini menyoroti konsep yang dikenal sebagai perkawinan levirat. Dalam tradisi ini, saudara laki-laki atau kerabat dekat seorang pria yang telah meninggal diharapkan untuk menikahi jandanya.

Kisah Rut dan Naomi

Kitab Rut menceritakan kisah Naomi, seorang perempuan dari Betlehem yang menikah dengan Elimelekh. Mereka memiliki dua orang anak laki-laki, Mahlon dan Kilyon. Keluarga ini kemudian pindah ke wilayah Moab yang berdekatan. Alasan perpindahan mereka tidak disebutkan secara langsung, tetapi kemungkinan besar berkaitan dengan kelaparan atau kesempatan untuk memperoleh pekerjaan. Selama tinggal di Moab, kedua anak laki-laki mereka menikahi perempuan setempat bernama Rut dan Orpa. Tidak lama kemudian, Elimelekh meninggal dunia.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Naomi ingin kembali ke kampung halamannya. Sebagai seorang janda, ia dapat mengandalkan bantuan kerabatnya yang tinggal di sana. Ia menyarankan kedua menantunya untuk kembali kepada keluarga mereka masing-masing. Orpa mengikuti nasihat tersebut. Namun, Rut menjawab:

“Janganlah mendesak aku untuk meninggalkanmu atau berbalik dan tidak mengikutimu. Ke mana engkau pergi, aku akan pergi, dan di mana engkau tinggal, aku akan tinggal. Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku. Di mana engkau mati, aku pun akan mati, dan di sanalah aku akan dikuburkan. Kiranya Tuhan menghukum aku seberat-beratnya jika sesuatu selain kematian memisahkan aku darimu.” (Rut 1:16–17)

Naomi dan Rut kemudian kembali ke Betlehem menjelang musim panen jelai. Di sana, mereka memungut sisa-sisa hasil panen di ladang. Praktik ini dikenal sebagai “gleaning,” yaitu mengumpulkan bulir-bulir atau hasil panen yang sengaja ditinggalkan di ladang. Ketentuan ini terdapat dalam Kitab Imamat sebagai salah satu bentuk kepedulian kepada orang miskin:

Sisihkan pariwara
Advertensi

“Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kamu menuai sampai ke tepi-tepi ladangmu dan janganlah kamu memungut apa yang tertinggal dari hasil panenmu. Janganlah kamu memeriksa kebun anggurmu untuk kedua kalinya atau memungut buah anggur yang telah jatuh. Biarkanlah semuanya itu bagi orang miskin dan pendatang. Akulah Tuhan, Allahmu.” (Imamat 19:9–10)

Ladang tempat Rut memungut sisa panen itu adalah milik Boas, seorang kerabat Elimelekh, suami Naomi. Boas memperhatikan Rut dan memastikan bahwa cukup banyak jelai ditinggalkan agar Rut dapat memenuhi kebutuhan pangan dirinya dan Naomi. Kisah ini juga mengangkat konsep perkawinan levirat. Tradisi ini bertujuan agar garis keturunan seorang laki-laki yang telah meninggal tidak terputus. Saudara laki-laki atau kerabat dekatnya diharapkan menikahi jandanya:

“Apabila beberapa orang bersaudara tinggal bersama dan salah seorang dari mereka meninggal tanpa memiliki anak laki-laki, jandanya tidak boleh menikah dengan laki-laki di luar keluarga itu. Saudara laki-laki dari mendiang suaminya harus menikahinya dan menjalankan kewajibannya sebagai saudara ipar. Anak laki-laki pertama yang dilahirkan perempuan itu harus meneruskan nama saudara yang telah meninggal, supaya namanya tidak terhapus dari Israel. Namun, apabila laki-laki itu tidak bersedia menikahi janda saudaranya, perempuan itu harus menemui para tua-tua di pintu gerbang kota dan berkata, ‘Saudara suamiku menolak meneruskan nama saudaranya di Israel. Ia tidak bersedia menjalankan kewajibannya sebagai saudara ipar.’ Para tua-tua kota itu kemudian harus memanggil laki-laki tersebut dan berbicara kepadanya. Apabila ia tetap berkata, ‘Aku tidak mau menikahinya,’ maka di hadapan para tua-tua, janda saudaranya harus mendekatinya, melepaskan salah satu sandalnya, meludahi wajahnya, dan berkata, ‘Beginilah perlakuan terhadap orang yang tidak mau meneruskan garis keturunan saudaranya.’ Dan di antara orang Israel namanya haruslah disebut: Kaum yang kasutnya ditanggalkan orang." (Ulangan 25:5–10)

Ruth & Naomi
Rut & Naomi Philip Hermogenes Calderon (CC BY-NC)

Lalu Naomi, mertuanya itu, berkata kepadanya: "Anakku, apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat perlindungan bagimu supaya engkau berbahagia? Maka sekarang, bukankah Boas, yang pengerja-pengerjanya perempuan telah kautemani itu, adalah sanak kita? Dia pada malam ini menampi jelai di tempat pengirikan; maka mandilah dan beruraplah, pakailah pakaian bagusmu dan pergilah ke tempat pengirikan itu. Tetapi janganlah engkau ketahuan kepada orang itu, sebelum ia selesai makan dan minum. Jika ia membaringkan diri tidur, haruslah engkau perhatikan baik-baik tempat ia berbaring; kemudian datanglah dekat, singkapkanlah selimut dari kakinya dan berbaringlah di sana. Maka ia akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan." Lalu kata Rut kepadanya: "Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan." (Ruth 3:1-5)

Ungkapan “menyingkapkan selimut dari kaki” merupakan eufemisme dalam Alkitab yang merujuk pada hubungan seksual. Namun, Boas memberitahukan kepada Rut bahwa masih ada seorang kerabat yang lebih dekat dan memiliki hak lebih dahulu untuk menikahinya. Keesokan paginya, Boas menemui kerabat tersebut di hadapan para tua-tua di pintu gerbang kota untuk menyelesaikan persoalan itu. Kerabat tersebut tidak ingin membahayakan hak waris atau harta miliknya sendiri. Karena itu, ia menyerahkan haknya kepada Boas dengan melepaskan sandalnya dan memberikannya kepada Boas. Kisah ini berakhir dengan kelahiran Obed, anak Rut dan Boas. Obed kemudian menjadi ayah Isai, dan Isai adalah ayah Raja Daud.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Tujuan kitab Rut

Dalam tradisi Barat, kata-kata Rut kepada Naomi sering digunakan dalam ikrar pernikahan.

Selain memberikan gambaran tentang kebudayaan dan praktik kehidupan masyarakat Israel kuno, Kitab Rut menyoroti dua konsep penting dalam tradisi Yahudi, yaitu penebusan dan chesed, atau “kasih setia.” Penebusan berarti diselamatkan dari dosa atau kesalahan. Konsep ini juga mencakup tindakan memperoleh kembali sesuatu melalui pembayaran utang atau pemulihan hak kepemilikan. Dalam kisah ini, tindakan Boas menyelamatkan Naomi dan Rut dari keadaan yang mengancam kelangsungan hidup mereka. Melalui pernikahan Boas dan Rut, kehidupan mereka terjamin dan garis keturunan keluarga dapat diteruskan. Chesed merujuk pada kasih setia Allah kepada Israel serta kebaikan yang harus diwujudkan dalam hubungan antarmanusia, termasuk melalui tindakan amal dan kepedulian kepada sesama. Istilah ini juga mengandung makna kesetiaan, baik kepada Allah maupun kepada orang lain. Kesetiaan Rut kepada ibu mertuanya juga mencakup kesediaannya untuk menerima dan mengikuti Allah yang disembah Naomi.

Meskipun latar kisahnya ditempatkan pada masa para hakim, sekitar tahun 1100 SM, para ahli umumnya berpendapat bahwa Kitab Rut disusun pada masa kembalinya orang-orang Yahudi dari pembuangan ke Yerusalem. Kepulangan tersebut berlangsung dengan dukungan Koresh Agung, raja Kekaisaran Akhemeniyah Persia yang memerintah sekitar tahun 550–530 SM dan menaklukkan Babilonia pada tahun 539 SM. Masyarakat Yahudi pada masa itu dipimpin oleh dua tokoh keagamaan, Nehemia dan Ezra, yang berperan dalam pembangunan kembali Bait Allah.

Para nabi Israel memandang kehancuran Yerusalem oleh Babilonia pada tahun 586 SM sebagai akibat dari dosa-dosa bangsa Israel, terutama penyembahan berhala. Kitab Nehemia dan Ezra mencatat berbagai upaya mereka untuk mencegah peristiwa serupa terulang kembali. Karena meyakini bahwa perkawinan dengan orang non-Yahudi dapat mendorong praktik penyembahan berhala, mereka melarang perkawinan campuran:

Sisihkan pariwara
Advertensi

Pada masa itu bagian-bagian dari pada kitab Musa dibacakan dengan didengar oleh rakyat. Didapati tertulis dalam kitab itu, bahwa orang Amon dan orang Moab tidak boleh masuk jemaah Allah untuk selamanya. Karena mereka tidak menyongsong orang Israel dengan roti dan air, malah mengupah Bileam melawan orang Israel supaya dikutukinya. Tetapi Allah kami mengubah kutuk itu menjadi berkat. Ketika mereka mendengar pembacaan Taurat itu mereka memisahkan semua peranakan dari orang Israel. (Nehemia 13:1-3)

Kitab Rut mungkin ditulis sebagai tanggapan terhadap larangan tersebut. Kitab ini menunjukkan bahwa orang asing non-Yahudi, termasuk orang Moab, dapat menjadi teladan dalam menjalankan tradisi dan praktik Yahudi. Naomi dan Rut tidak hanya digambarkan sebagai perempuan yang setia pada tradisi Yahudi, tetapi Rut juga menjadi leluhur Daud, raja terbesar Israel.

King David Writing Psalms
Raja Daud Menulis Mazmur Giovanni Francesco Barbieri (Public Domain)

Interpretasi modern

Kisah Naomi dan Rut sering dibahas dalam kajian akademik tentang perempuan dalam Perjanjian Lama serta peran gender dalam masyarakat Yahudi kuno. Para feminis masih berbeda pendapat mengenai kisah ini. Sebagian mengecamnya karena dianggap mencerminkan ketidakadilan patriarki, yaitu ketika perempuan hanya dihargai karena kemampuan mereka melahirkan keturunan. Sebagian lainnya memuji kecerdikan dan ketangguhan Naomi dan Rut dalam mempertahankan hidup. Dalam tradisi Barat, kata-kata Rut kepada Naomi juga sering digunakan dalam ikrar pernikahan.

Di sinagoge-sinagoge Yahudi, Kitab Rut dibacakan pada hari raya Shavuot. Perayaan ini pada awalnya merupakan festival panen biji-bijian pada zaman kuno yang menandai dimulainya musim panen pada musim semi. Shavuot dirayakan tujuh minggu setelah malam Seder kedua dalam perayaan Pesakh. Menurut tradisi, hari raya ini juga memperingati saat Musa menerima Taurat di Gunung Sinai. Dengan demikian, kisah Rut memadukan tema panen dengan ketaatan terhadap hukum Musa.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Sisihkan pariwara
Advertensi

Daftar Pustaka

Ensiklopedia Sejarah Dunia adalah mitra afiliasi Amazon dan mendapatkan komisi dari pembelian buku yang memenuhi syarat.

Tentang Penerjemah

Tentang Penulis

Sitasi Karya Ini

Gaya APA

Denova, R. (2026, Juli 23). Rut & Naomi. (F. D. Floris, Penerjemah). World History Encyclopedia. https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1845/rut--naomi/

Gaya Chicago

Denova, Rebecca. "Rut & Naomi." Diterjemahkan oleh Flora Debora Floris. World History Encyclopedia, Juli 23, 2026. https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1845/rut--naomi/.

Gaya MLA

Denova, Rebecca. "Rut & Naomi." Diterjemahkan oleh Flora Debora Floris. World History Encyclopedia, 23 Jul 2026, https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1845/rut--naomi/.

Sisihkan pariwara