Jalur Sutra

Rayakan Ulang Tahun Kami dengan Kuis!

Bergabunglah bersama kami pada tanggal 23 Agustus dalam pesta kuis virtual gratis yang menampilkan pertanyaan-pertanyaan seputar peradaban kuno, sejarah Amerika Serikat, fakta-fakta sejarah yang unik, budaya pop, dan masih banyak lagi.

$0 / $5000
Joshua J. Mark
oleh , diterjemahkan oleh Janet Estherina
dipublikasikan pada
Translations 16
bookmark_addbookmark_addedSimpan Artikel printCetak picture_as_pdfPDF
Map of the Silk Road During the Late 8th Century (by Simeon Netchev, CC BY-NC-ND)
Jalur Sutra pada Masa Kejayaannya pada Akhir Abad 8 Simeon Netchev (CC BY-NC-ND)

Jalur Sutra (Silk Road) adalah jaringan jalur perdagangan kuno yang secara resmi didirikan pada Dinasti Han di Tiongkok pada 130 SM dan menghubungkan wilayah-wilayah dunia kuno dalam bidang perdagangan selama 130 SM-1453 M. Jalur Sutra tidak hanya terdiri dari satu jalur dari Timur ke Barat, sehingga sejarahwan lebih memilih nama ‘Silk Routes’ (Jalur-Jalur Sutra), walaupun nama ‘Silk Road’ (Jalur Sutra) sering digunakan.

Marco Polo (1254-1324 M), seorang penjelajah Eropa, melakukan perjalanan sepanjang jalur ini dan mendeskripsikannya secara detail dalam karyanya yang terkenal, tetapi ia bukan orang yang memberikan nama tersebut. Kedua nama untuk jaringan jalur ini, ‘Silk Road’ dan ‘Silk Routes’, diberikan oleh ahli geografi dan pelancong Jerman Ferdinand von Richthofen di 1877 M, yang memberikan nama ‘Seidenstrasse’ (silk road) dan ‘Seidenstrassen’ (silk routes). Polo, dan von Richthofen setelahnya, menyebutkan barang-barang yang diperdagangkan di Jalur Sutra.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Barang-barang yang dibawa dari Barat ke Timur antara lain:

  • Kuda
  • Pelana dan perlengkapan kuda
  • Anggur dan tanaman anggur
  • Anjing dan hewan-hewan peliharaan dan eksotis
  • Madu
  • Buah-buahan
  • Barang pecah-belah
  • Selimut wol, permadani, karpet
  • Kain (seperti tirai)
  • Emas dan perak
  • Unta
  • Budak
  • Senjata dan baju zirah

Barang-barang yang dibawa dari Timur ke Barat antara lain:

  • Sutra
  • Teh
  • Pewarna
  • Batu permata
  • Porselen (piring, mangkok, cangkir, vas)
  • Rempah-rempah (seperti jahe dan kayu manis)
  • Perunggu dan emas
  • Obat-obatan
  • Parfum
  • Gading
  • Beras
  • Kertas
  • Bubuk mesiu

Jaringan ini aktif dari 130 SM, ketika Dinasti Han (202 SM - 220 M) secara resmi membuka perdagangan dengan negara barat, sampai 1453 M, ketika Kekaisaran Ottoman memboikot perdagangan dengan barat dan menutup jalur-jalurnya. Orang-orang Eropa sudah terbiasa dengan barang-barang dari Timur, sehingga ketika Jalur Sutra ditutup, para pedagang harus mencari jalur dagang baru untuk memenuhi permintaan untuk barang-barang tersebut.

Sisihkan pariwara
Advertensi
Camel with Guide, Tang Dynasty
Unta dengan Pemandu, Dinasti Tang Jan van der Crabben (CC BY-NC-SA)

Penutupan Jalur Sutra memulai Abad Penjelajahan (1453 - 1660 M) yang akan ditetapkan oleh para penjelajah Eropa yang mencari jalur baru lewat laut untuk menggantikan jalur perdagangan darat. Abad Penjelajahan akan berdampak pada budaya di seluruh dunia, ketika para pelaut Eropa mengklaim tanah-tanah dalam nama Tuhan dan negara mereka dan mempengaruhi tempat-tempat lainnya dengan memperkenalkan budaya dan agama mereka, dan, pada saat yang bersamaan, budaya Eropa juga dipengaruhi oleh tempat-tempat dan budaya baru ini. Jalur Sutra, dari awal sampai akhirnya, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan peradaban dunia, sampai mustahil untuk membayangkan dunia modern tanpanya.

Jalan Kerajaan Persia

Sejarah Jalur Sutra sebenarnya mendahului Dinasti Han. Jalur Kerajaan Persia, yang nantinya akan menjadi salah satu jalan utama dalam Jalur Sutra, ditetapkan pada masa Kekaisaran Akhemeniyah (sekitar 550-330 SM). Jalan Kerajaan Persia terbentang dari Susa, di utara Persia (Iran zaman sekarang) sampai laut Mediterania di Asia Minor (Turki zaman sekarang) dan memiliki stasiun pos sepanjang jalannya yang menyediakan kuda baru untuk para utusan agar bisa menyampaikan pesan secara cepat di seluruh negeri, Herodotus menuliskan tentang kecepatan dan efisiensi pembawa pesan Persia secara demikian:

Sisihkan pariwara
Advertensi

Di dunia ini tidak ada yang lebih cepat ketimbang para kurir Persia ini. Salju, hujan, maupun kegelapan malam tidak menghalangi para kurir ini mencapai tujuan mereka dengan kecepatan maksimal. (Histories VIII.98)

Tulisan inilah yang, beberapa abad setelahnya, menjadi dasar dari prinsip-prinsip Layanan Pos Amerika Serikat. Bangsa Persia merawat Jalur Kerajaan mereka dengan hati-hati, dan lalu mengembangkannya lewat jalan-jalan pinggiran yang lebih kecil. Jalan-jalan ini kemudian mencapai India, Mesopotamia, dan Mesir.

Persian Royal Road
Jalan Kerajaan Persia Fabienkhan (CC BY-SA)

Tiongkok dan Barat

Setelah Aleksander Agung menaklukkan Persia, ia mendirikan kota (nantinya Kerajaan Yunani) Alexandria Eschate di 339 Sm di Lembah Fergana di Neb (sekarang Tajikistan). Aleksander meninggalkan prajuritnya yang terluka di kota tersebut dan prajurit-prajurit tersebut kawin campur dengan orang setempat dan menghasilkan budaya Yunani-Baktria yang berkembang di bawah Kekaisaran Seleukia setelah kematian Aleksander.

Di bawah raja Yunani-Baktria Euthydemus I (berkuasa 260-295 SM) para Yunani-Baktria memperbesar wilayah mereka. Menurut sejarahwan Yunani Strabo (63-24 M) para Yunani “mengembangkan kerajaan mereka sampai Seres” (Geography XI.ii.i). ‘Seres’ adalah sebutan Yunani dan Romawi untuk Tiongkok, yang berarti ‘tanah asal sutra’ di Asia Timur. Diduga kontak pertama antara Tiongkok dan Barat terjadi pada tahun 200 SM.

Sisihkan pariwara
Advertensi
Kaisar Wu membayangkan apa saja yang bisa didapatkan lewat berdagang dengan dunia barat, dan Jalur Sutra pun dibuka pada 130 SM.

Dinasti Han di Tiongkok sering diganggu secara terus-menerus oleh suku nomaden Xiongnu di perbatasan utara dan barat mereka. Pada 138 Sm, Kaisar Wu mengirim Zhang Qian sebagai utusan ke barat untuk bernegosiasi dengan orang Yuezhi untuk mencari bantuan dalam mengalahkan suku Xiongnu.

Ekspedisi Zhang Qian membuatnya berinteraksi dengan banyak suku bangsa dan budaya di Asia Tengah, termasuk apa yang disebutnya para ‘Dayuan’, ‘Ionia Besar’ yang merupakan orang Yunani-Baktria keturunan prajurit Aleksander Agung. Zhang Qian melaporkan kembali ke Wu bahwa orang Dayuan memiliki kuda yang hebat yang bisa digunakan dalam mengalahkan orang Xiongnu.

Perjalanan Zhang Qian bukan hanya berakibat pada lebih banyak kontak antara Tiongkok dan dunia barat, tetapi juga program pembiakan kuda yang terorganisir dan efisien di seluruh negeri untuk pasukan berkuda mereka. Kuda sudah lama dikenal dan digunakan dalam medan perang di Tiongkok sejak Dinasti Shang (1600-1946 SM), tetapi orang Tiongkok juga mengagumi ukuran besar dan kecepatan kuda barat. Kuda barat milik Dayuanlah yang digunakan oleh Dinasti Han untuk mengalahkan suku Xiongnu. Keberhasilan ini membuat Kaisar Wu membayangkan apa saja yang bisa didapatkan lewat berdagang dengan dunia barat, dan Jalur Sutra pun dibuka pada 130 SM.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Selama 170-138 SM, Mithridates I dari Persia terus memperbesar dan mengembangkan kerajaannya di Mesopotamia. Perluasan ini dilawan oleh Raja Antiokhos VII Sidetes (berkuasa 138-129 SM), yang juga ingin membalaskan dendam kematian saudaranya Demetrios. Antiokhos berperang melawan Frahat II dari Partia, penerus Mithridates. Kekalahan Antiokhos berarti Mesopotamia jatuh dalam kekuasaan Partia, dan ini berarti Kekaisaran Partia menguasai Jalur Sutra dan menjadi perantara antara Tiongkok dan dunia barat.

[image:6920)

Barang-barang yang Diperdagangkan di Jalur Sutra

Dari banyaknya macam barang yang datang dan pergi melalui Jalur Sutra, nama Jalur Sutra sendiri datang dari kepopuleran sutra Tiongkok di barat, terutama di Roma. Rute-rute Jalur Sutra terbentang dari Tiongkok melalui India, Asia Minor, terus melalu Mesopotamia, Mesir, benua Afrika, Yunani, Roma, dan Inggris.

Daerah Mesopotamia utara (Iran zaman sekarang), sebagai bagian dari kekaisaran Partia, menjadi mitra terdekat Tiongkok dalam perdagangan dan memulai pertukaran budaya yang penting. Kertas, yang ditemukan di Tiongkok pada Dinasti Han, dan bubuk mesiu, yang juga berasal dari Tiongkok, memiliki dampak yang lebih besar pada budaya ketimbang sutra. Rempah-rempah dari timur juga berdampak lebih besar ketimbang mode yang tumbuh dari industri sutra. Walaupun demikian, pada masa Kaisar Romawi Augustus (memerintah 27 SM - 14 M), perdagangan antara Tiongkok dan dunia barat sudah ditetapkan dan sutra adalah barang yang paling dicari di Mesir, Yunani, dan terutama di Roma.

Sisihkan pariwara
Advertensi
Map of the Roman Trade with the East, c. 1st–3rd Centuries
Peta Perdagangan Romawi dengan Benua Timur, sekitar Abad 1-3 Simeon Netchev (CC BY-NC-ND)

Kecintaan Bangsa Romawi akan Sutra

Sebelum menjadi Kaisar Augustus, Octavianus memanfaatkan perdebatan akan pakaian sutra untuk mengecam lawan-lawannya, Mark Antony (83-30 SM) dan Cleopatra VII (69-30 SM) sebagai orang-orang tanpa moral. Octavianus memanfaatkan kesukaan lawan-lawannya akan sutra Tiongkok, yang makin sering dikaitkan dengan perilaku tidak senonoh, untuk mengecam mereka. Walaupun nantinya Octavianus akan mengalahkan Antony dan Cleopatra, hal tersebut tidak menghentikan kepopuleran sutra.

Sejarahwan Will Durant menuliskan:

Orang Romawi menganggap [sutra] adalah produk nabati yang diambil dari pohon dan memberikannya harga yang sama dengan beratnya dalam emas. Kebanyakan dari sutra ini datang dari pulau Kos, dimana sutra tersebut ditenun menjadi gaun bagi wanita di kota Roma dan kota-kota lainnya; pada 91 Masehi kondisi yang buruk secara relatif di Messenia secara terpaksa melarang para wanitanya untuk mengenakan pada upacara penerimaan religius.(329)

Pulau Kos menjadi kaya dari produksi baju sutra.

Pada masa Seneca Muda (4 SM- 65 M), orang Romawi konservatif menjadi lebih bersemangat dalam mengecam sutra Tiongkok sebagai pakaian yang tidak bermoral bagi perempuan dan kewanita-wanitaan bagi pria. Tetapi kritikan ini tidak menghentikan perdagangan sutra dengan Roma, dan pulau Kos menjadi kaya dari produksi baju sutra.

Menurut tulisan Durant, “Italia menikmati keseimbangan dagang yang tidak menguntungkan – dengan senang hati [membeli] lebih banyak daripada menjual” tetapi masih mengekspor barang-barang mewah ke Tiongkok seperti “karpet, batu permata, batu ambar, logam, pewarna, obat-obatan, dan kaca” (328-329). Sampai pada zaman kaisar Marcus Aurelius (berkuasa 161-180 M), sutra adalah barang komoditas yang paling berharga di Roma dan sebanyak-banyaknya kritikan konservatif tidak ada yang dapat menghentikan perdagangan ataupun mode sutra.

Sisihkan pariwara
Advertensi
Tyrian Purple Shroud of Charlemagne
Kain Kafan Ungu Tirus Karolus Agung Unknown Artist (Public Domain)

Bahkan setelah zaman Aurelius, sutra tetap populer, walaupun terus menjadi semakin mahal, sampai pada kejatuhan Kekaisaran Romawi di 476 M. Bagian timur dari Kekaisaran Romawi, yang nantinya akan dikenal sebagai Kekaisaran Bizantium, yang bertahan lebih lama dari Kekaisaran Romawi Barat, meneruskan kegandrungan Romawi akan sutra. Sekitar 60 M orang-orang barat sudah sadar bahwa sutra tidak tumbuh dari pohon, melainkan dipintal dari kepompong ulat sutra. Orang Tiongkok sudah dengan sengaja menjaga kerahasiaan sumber sutra, dan ketika rahasia tersebut terbongkar, sangat menjaga ulat sutra serta proses pemanenan sutra mereka dengan hati-hati.

Kaisar Bizantium Justinian (berkuasa 527-565 M), yang sudah muak membayar harga sutra yang terlalu tinggi yang diminta oleh bangsa TIongkok, mengirim dua utusan yang menyamar sebagai biarawan untuk menyelundupkan ulat sutra ke barat. Rencana tersebut berhasil dan mulailah industri sutra Bizantium. Ketika Kekaisaran Bizantium jatuh ke tangan bangsa Turki di tahun 1453 M, Kekaisaran Ottoman menutup rute kuno Jalur Sutra dan memutuskan semua hubungan dengan dunia barat.

Peninggalan Jalur Sutra

Keistimewaan Jalur Sutra yang paling besar ada dalam pertukaran budaya. Lewat jalur tersebut, seni, agama, filsafat, teknologi, bahasa, ilmu pengetahuan, arsitektur, dan semua bagian dari suatu peradaban saling dipertukarkan sepanjang jalur ini, beserta barang-barang dagangan yang dibawa dari satu tempat ke tempat lainnya. Jalur-jalur ini juga menyebarkan penyakit, seperti yang ditunjukkan oleh wabah pes Konstantinopel pada tahun 542 M, yang diduga dibawa dari Jalur Sutra dan memporak-porandakan Kekaisaran Bizantium.

Penutupan Jalur Sutra juga memaksa para pedagang untuk berlayar ke laut untuk menjalankan pekerjaan mereka, dan memulai Abad Penjelajahan, yang memulai interaksi yang meliputi seluruh dunia dan awal dari komunitas global. Pada masanya, Jalur Sutra memperluas pengetahuan orang-orang akan dunia yang mereka tempati; penutupannya mendorong orang Eropa untuk berlayar sepanjang samudra untuk menjelajahi, dan menaklukkan Dunia Baru Amerika, dan memulai Pertukaran Columbus, dimana barang-barang dan nilai-nilai ditukarkan antara Dunia Lama dan Dunia Baru, yang secara keseluruhan merugikan orang asli Dunia Baru. Dengan demikian, bisa dibilang bahwa Jalur Sutra telah membentuk fondasi dari perkembangan dunia modern.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Sisihkan pariwara
Advertensi

Tentang Penerjemah

Tentang Penulis

Sitasi Karya Ini

Gaya APA

Mark, J. J. (2026, Agustus 10). Jalur Sutra. (J. Estherina, Penerjemah). World History Encyclopedia. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-466/jalur-sutra/

Gaya Chicago

Mark, Joshua J.. "Jalur Sutra." Diterjemahkan oleh Janet Estherina. World History Encyclopedia, Agustus 10, 2026. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-466/jalur-sutra/.

Gaya MLA

Mark, Joshua J.. "Jalur Sutra." Diterjemahkan oleh Janet Estherina. World History Encyclopedia, 10 Agu 2026, https://www.worldhistory.org/trans/id/1-466/jalur-sutra/.

Sisihkan pariwara