Bir

Joshua J. Mark
oleh , diterjemahkan oleh Natasha Soedjono
diterbitkan pada
Translations
Cetak PDF
Egyptian Brewery (by The Trustees of the British Museum, Copyright)
Pabrik Bir Mesir The Trustees of the British Museum (Copyright)

Bir adalah salah satu minuman memabukkan tertua yang dikonsumsi manusia. Bahkan tinjauan sejarah sepintas menunjukkan dengan jelas bahwa setelah manusia memenuhi kebutuhan pokok berupa makanan, tempat tinggal, dan hukum dasar bagi masyarakat, perhatian mereka selanjutnya tertuju kepada mengembangkan zat yang memabukkan.

Bukti awal pembuatan bir telah dikonfirmasi oleh temuan-temuan di permukiman Sumeria bernama Godin Tepe di Iran modern yang berasal dari antara tahun 3500-3100 SM, tetapi minuman memabukkan telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia sehari-hari sejak jauh sebelumnya. Cendekiawan Jean Bottero menulis:

Sisihkan pariwara
Advertensi

Di Mesopotamia kuno, di antara 'masyarakat beradab' tertua di dunia, minuman beralkohol menjadi bagian dari perayaan segera setelah jamuan makan sederhana hampir menjadi pesta besar. Meskipun bir, yang sebagian besar diseduh dari jelai, tetap menjadi 'minuman nasional', anggur juga bukanlah hal yang asing. (84)

Meskipun anggur dikonsumsi di Mesopotamia, popularitasnya tidak pernah menyamai bir selama ribuan tahun. Bangsa Sumeria begitu mencintai bir sehingga mereka menganggap penciptaannya berasal dari para dewa, dan bir memainkan peran penting dalam banyak mitos Sumeria, di antaranya Inanna dan Dewa Kebijaksanaan serta Epos Gilgamesh. Himne Sumeria untuk Ninkasi, yang ditulis pada tahun 1800 SM tetapi diyakini jauh lebih tua, merupakan lagu pujian bagi dewi bir Sumeria sekaligus resep pembuatan bir.

Bir mesopotamia adalah minuman kental seperti bubur yang diminum menggunakan sedotan & terbuat dari bippar (roti jelai).

Para pembuat bir adalah perempuan, kemungkinan besar pendeta wanita Ninkasi, dan pada awalnya bir diseduh oleh perempuan di rumah sebagai pelengkap makanan. Bir adalah minuman kental seperti bubur yang diminum menggunakan sedotan dan terbuat dari bippar (roti jelai) yang dipanggang dua kali dan dibiarkan berfermentasi dalam tong. Pada tahun 2050 SM, pembuatan bir telah dikomersialkan sebagaimana dibuktikan oleh tanda terima bir Alulu yang terkenal dari kota Ur yang berasal dari masa itu.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Asal & Perkembangan Bir

Diperkirakan bahwa kerajinan membuat bir bermula di dapur rumah tangga ketika biji-bijian yang digunakan untuk membuat roti, ditinggalkan tanpa pengawasan dan mulai berfermentasi. Cendekiawan Jeremy Black dan Anthony Green, sebagai salah satu pakar di bidang ini, menulis, "minuman beralkohol kemungkinan besar berasal dari penemuan yang tidak disengaja pada tahap awal berburu-meramu prasejarah manusia" (Gods, 28). Meskipun teori ini telah lama diterima, cendekiawan Stephen Bertman mengajukan teori lain dan membahas popularitas minuman ini yang telah lama ada:

Meskipun roti merupakan makanan pokok di Mesopotamia, ahli botani Jonathan D. Sauer berpendapat bahwa pembuatan roti mungkin bukan tujuan awal untuk menanam jelai. Sebaliknya ia berpendapat, tujuan sebenarnya adalah bir, yang pertama kali ditemukan ketika biji jelai ditemukan berkecambah dan berfermentasi di tempat penyimpanan. Entah Sauer benar atau tidak, bir segera menjadi minuman favorit Mesopotamia kuno. Seperti pepatah Sumeria: "Barangsiapa tidak mengenal bir, ia tidak mengenal kebaikan." Bangsa Babilonia memiliki sekitar 70 jenis bir, dan bir dinikmati oleh para dewa maupun manusia yang meminumnya dengan sedotan panjang, seperti ditunjukkan dalam karya seni, untuk menghindari kulit jelai yang cenderung mengapung ke permukaan. (292)

Queen Puabi's Seal
Segel Ratu Puabi Osama Shukir Muhammed Amin (Copyright)

Cendekiawan Max Nelson juga menolak pendapat bahwa pembuatan bir ditemukan secara tidak sengaja, dengan menulis:

Buah-buahan seringkali berfermentasi secara alami melalui aktivitas ragi liar, dan campuran alkohol yang dihasilkan seringkali dicari dan dinikmati oleh hewan. Manusia pra-pertanian di berbagai daerah sejak periode Neolitikum pasti juga mencari buah-buahan yang berfermentasi tersebut dan bahkan mungkin mengumpulkan buah-buahan liar dengan harapan buah-buahan tersebut akan memiliki efek fisik yang menarik (yaitu, memabukkan) jika dibiarkan di udara terbuka. (9)

Bir menjadi populer, bukan hanya karena rasa dan khasiatnya, tetapi juga karena lebih sehat untuk diminum daripada air di wilayah tersebut. Cendekiawan Paul Kriwaczek merinci bagaimana sistem pembuangan limbah kota-kota Mesopotamia dirancang dengan rumit untuk membuang limbah manusia dan hewan di luar tembok kota, namun justru di sanalah biasanya terdapat pasokan air. Kriwaczek mencatat bagaimana hal ini merupakan "pencapaian teknik yang luar biasa tetapi berpotensi menjadi bencana bagi kesehatan masyarakat" (83). Air terbaik berada jauh dari kota, tetapi sungai-sungai di dekatnya dapat disadap untuk dijadikan bir yang lebih aman diminum karena proses fermentasi yang melibatkan perebusan air. Kriwaczek melanjutkan:

Sisihkan pariwara
Advertensi

Jika aliran air tidak aman, sumur bor dan sumur tidak lagi menjadi penyedia air minum, karena muka air tanah asin terlalu dekat dengan permukaan. Oleh karena itu, bir, yang disterilkan dengan kadar alkoholnya yang rendah, merupakan minuman teraman, sebagaimana di dunia barat, bahkan hingga zaman Victoria, bir disajikan di setiap jamuan makan, bahkan di rumah sakit dan panti asuhan. Di Sumeria kuno, bir juga merupakan bagian dari upah yang dibayarkan kepada mereka yang harus melayani orang lain untuk mencari nafkah. (83)

Bir menjadi minuman pilihan di seluruh wilayah, terutama setelah berkembang menjadi perusahaan komersial. Pada titik ini, tampaknya bisnis ini telah diambil alih oleh para pria yang menyadari betapa menguntungkannya hal ini, dan para perempuan—para pembuat bir tradisional—melanjutkan pekerjaan di bawah pengawasan mereka. Tentu saja, bir sepenuhnya dibuat dengan tangan, tetapi seiring popularitasnya, bir akhirnya diproduksi dalam jumlah yang lebih besar, yang kemudian mendorong perkembangan pabrik-pabrik bir berskala lebih besar. Cendekiawan Gwendolyn Leick berkomentar:

Bir diproduksi terutama dari jelai. Dari biji-bijian yang ditumbuk, adonan dibentuk dan dipanggang sebentar. Adonan ini ditumbuk lagi, dicampur dengan air, dan difermentasi. Kemudian, ampasnya disaring dan bir disimpan dalam stoples besar. Bir Mesopotamia hanya dapat disimpan sebentar dan harus dikonsumsi segar. Tulisan dalam aksara paku menyebutkan berbagai jenis bir, seperti "bir kental", "bir halus", dan "bir hitam". Jenis-jenis lain diproduksi dari emmer atau wijen, serta kurma pada Periode Neo-Babilonia dan setelahnya. (33)

Mesopotamian Beer Rations Tablet
Tablet Ransum Bir Mesopotamia Osama Shukir Muhammed Amin (Copyright)

Para dewa dipercaya telah memberikan bir kepada manusia, sehingga bir dipersembahkan kembali kepada mereka sebagai persembahan di kuil-kuil di seluruh Mesopotamia. Sebagaimana telah disebutkan, bir juga digunakan untuk membayar upah dan dikonsumsi secara langsung pada festival keagamaan, perayaan, dan upacara pemakaman. Bir diasosiasikan dengan masa-masa indah sebagai minuman yang membuat hati terasa ringan dan memungkinkan seseorang melupakan masalah.

Dalam Epos Gilgamesh misalnya, sang pahlawan yang berduka atas kematian sahabatnya, memulai pencarian keabadian dan makna hidup. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan pelayan bar Siduri yang menyarankan agar ia meninggalkan cita-cita luhur tersebut dan menikmati hidup selagi ia hidup; singkatnya, pelayan bar itu memintanya untuk bersantai dan minum bir. Bir dinikmati secara luas karena berbagai alasan dan dalam hampir segala situasi. Black and Green menulis:

Sisihkan pariwara
Advertensi

Bahwa minuman sosial yang dikomersialkan, bukan untuk tujuan keagamaan atau pengobatan, sudah lazim setidaknya sejak awal milenium kedua SM dibuktikan oleh hukum Hammurabi dari Babilonia yang mengatur kedai minuman. (Dewa, 28)

Meskipun bangsa Sumeria adalah yang pertama mengembangkan kerajinan pembuatan bir, bangsa Babilonia mengembangkan proses ini lebih lanjut dan mengatur cara pembuatan bir, penyajiannya, dan bahkan siapa yang boleh menjualnya. Seorang pendeta wanita yang telah ditahbiskan untuk dewa misalnya, diizinkan minum bir sepuasnya secara pribadi, tetapi dilarang membuka kedai, menyajikan bir, atau memasuki kedai untuk minum di muka umum seperti perempuan pada umumnya.

Kitab undang-undang Hammurabi mengancam hukuman mati dengan cara ditenggelamkan bagi wanita pelayan bar yang menuangkan 'seukuran kecil' bir untuk pelanggan.

Sebagaimana proses pembuatan bir itu sendiri, para bartender pertama adalah perempuan, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Undang-Undang Hammurabi. Di antara peraturan lainnya, Kitab Undang-Undang Hammurabi mengancam akan menenggelamkan wanita pelayan bar mana pun yang menuangkan bir dalam 'takaran kecil' untuk pelanggan; artinya siapa pun yang tidak mengisi gelas pelanggan sesuai dengan harga yang dibayarkan.

Bir Keliling Dunia

Melalui perdagangan, bir sampai ke Mesir dan orang-orang di sana sangat menyukainya. Orang Mesir menyukai bir seperti halnya orang Mesopotamia, dan pabrik-pabrik bir berkembang di seluruh Mesir. Sebagaimana di Mesopotamia, perempuan adalah pembuat bir pertama, dan bir pada awalnya dikaitkan erat dengan dewi Hathor di Dendera. Cendekiawan Richard H. Wilkinson menulis:

Sisihkan pariwara
Advertensi

Hathor dikaitkan dengan minuman beralkohol yang tampaknya telah digunakan secara luas dalam perayaannya, dan gambar sang dewi sering ditemukan pada bejana-bejana yang dibuat untuk menampung anggur dan bir. Oleh karena itu, Hathor dikenal sebagai penguasa kemabukan, nyanyian, dan mur, dan kemungkinan besar sifat-sifat inilah yang meningkatkan popularitas sang dewi sejak masa Kerajaan Lama dan memastikan keberlangsungannya di sepanjang sejarah Mesir. (143)

Meskipun Hathor menganjurkan orang-orang untuk bebas mengekspresikan kegembiraan hidup mereka melalui minuman, perlu dicatat bahwa minum berlebihan hanya diperbolehkan dalam kondisi tertentu. Baik Hathor maupun dewa-dewi Mesir lainnya tidak menyukai pekerja mabuk atau mereka yang menyalahgunakan alkohol hingga merugikan orang lain. Prinsip universal ma'at (harmoni dan keseimbangan) memperbolehkan minum berlebihan, tetapi tetap seimbang dengan tanggung jawab sehari-hari, keluarga, dan masyarakat luas.

Namun, Hathor bukanlah dewi bir utama; dewi bir Mesir adalah Tenenit (dari salah satu kata Mesir untuk bir, tenemu) dan konon seni menyeduh pertama kali diajarkan kepadanya oleh dewa agung Osiris sendiri. Seperti Ninkasi di Sumeria, Tenenit menyeduh birnya dari bahan-bahan terbaik dan mengawasi setiap aspek pembuatannya.

Beer Brewing in Ancient Egypt
Pembuatan Bir di Mesir Kuno The Trustees of the British Museum (Copyright)

Hasil akhir dari usahanya adalah minuman yang dinikmati di seluruh negeri dalam berbagai varian. Para pekerja di dataran tinggi Giza menerima jatah bir tiga kali sehari dan resep untuk berbagai penyakit menggunakan bir (lebih dari 100 resep obat menggunakan bir). Seperti di Mesopotamia, bir dianggap lebih sehat daripada air minum dan dikonsumsi oleh orang Mesir di segala usia, dari yang termuda hingga yang tertua.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Dari Mesir, bir sampai ke Yunani (dibuktikan dengan kemiripan kata "zytum" ​​dalam bahasa Mesir) dengan kata Yunani kuno untuk "bir", yaitu "zythos". Namun, orang Yunani, sebagaimana orang Romawi setelah mereka, lebih menyukai anggur kental daripada bir dan menganggap minuman kasar itu sebagai minuman yang kurang bermutu bagi orang barbar. Kaisar Romawi Julian bahkan menggubah sebuah puisi yang memuji kehebatan anggur sebagai nektar sambil mencatat bahwa bir berbau seperti kambing. Namun, bangsa Romawi memang menmbuat bir, dibuktikan dengan temuan-temuan di pos terdepan Romawi di Regensburg, Jerman—yang didirikan pada tahun 179 M oleh Marcus Aurelius sebagai Casta Regina—serta di Trier dan situs-situs lainnya.

Kejatuhan & Kebangkitan Kembali Bir

Seiring meluasnya Kekaisaran Romawi, budaya dan selera bangsa Romawi pun ikut berkembang. Karena orang Romawi lebih menyukai anggur daripada bir, bir dianggap sebagai "minuman barbar" yang tidak sedap dibandingkan dengan anggur yang dibudidayakan dan dianggap lebih mewah. Meskipun demikian, tampaknya bangsa Celtic-lah yang pertama kali bertanggung jawab atas status istimewa anggur daripada bir karena mereka juga menganggap bir sebagai minuman yang tidak layak untuk manusia. Nelson menulis:

Bir dianggap sebagai jenis minuman memabukkan yang kualitasnya rendah karena (setidaknya sering) dipengaruhi oleh kekuatan ragi yang merusak dan secara alami merupakan zat yang 'dingin' dan karenanya bersifat feminin, sedangkan anggur dianggap tidak terpengaruh oleh ragi dan merupakan zat yang 'panas' dan karenanya bersifat maskulin. (115-116)

Bangsa Galia "kecanduan anggur impor dari pedagang Italia, yang mereka minum tanpa dicampur [dengan air] dan dalam jumlah yang berlebihan hingga mereka pingsan" dan juga begitu tergila-gila pada anggur sehingga mereka "menukar seorang budak dengan satu tempayan anggur Italia" (Nelson, 48-49). Meskipun bir dipandang buruk oleh kaum elit yang berkuasa, sikap mereka tidak menghalangi orang-orang untuk membuat minuman tersebut.

Sisihkan pariwara
Advertensi
Urartian Beer Pitchers
Teko Bir Urartia James Blake Wiener (CC BY-NC-SA)

Sebagaimana Nelson jelaskan dalam karyanya, The Barbarian's Beverage: A History of Beer in Ancient Europe, minuman yang kini dikenal sebagai 'bir' dikembangkan di Jerman dan teknik pembuatan bir mereka kemudian memengaruhi perkembangan lebih lanjut di seluruh Eropa. Bangsa Jerman telah membuat bir sejak 800 SM dan metode awal mereka mencerminkan metode bangsa Sumeria kuno dalam hal kemurnian bir, tetapi dengan tambahan hop yang penting. Perempuan juga merupakan pembuat bir pertama di Jerman, dan bir hanya dibuat dari air tawar, dipanaskan, dan biji-bijian terbaik. Tradisi ini berlanjut hingga era Kristen ketika para biarawan mempelajari seni pembuatan bir dan menjual bir dari biara-biara mereka.

Bir masih dianggap sebagai anugerah ilahi, yang kini diberikan oleh Tuhan di agama Kristen, dan kejahatan yang mungkin timbul akibat mabuk dianggap berasal dari iblis (Nelson, 87). Perintah Alkitab untuk menjauhi mabuk (Efesus 5:18) dianggap tidak berlaku untuk minuman itu sendiri, melainkan untuk peminum berlebihan yang membuka pintu bagi kekuatan-kekuatan jahat untuk memasuki kehidupan seseorang, alih-alih dipenuhi dengan Roh Kudus yang diutus Allah. Pandangan tentang bir ini mirip dengan pandangan masyarakat Mesopotamia kuno yang menyalahkan seseorang atas tindakan minum minum yang berlebihan, dan masalah-masalah yang mungkin timbul, tetapi tidak pernah menyalahkan minuman itu sendiri.

Pada tahun 770 M, tokoh Kristen Charlemagne menunjuk para pembuat bir di Prancis dan, seperti orang Babilonia sebelumnya, mengatur produksi, penjualan, dan penggunaannya. Bir masih dianggap lebih sehat untuk diminum daripada air karena proses pembuatannya dan terus dikaitkan dengan asal usul ilahi; popularitasnya pun tak pernah surut. Epos Finlandia, Kalevala (ditulis pada abad ke-17 M, tetapi berdasarkan kisah-kisah yang jauh lebih tua) lebih banyak membahas bir daripada penciptaan dunia dan memuji khasiat bir sedemikian rupa sehingga mudah dikenali oleh siapa pun, mulai dari Sumeria kuno hingga peminum modern.

Para pembuat bir terus menikmati status istimewa di komunitas mereka hingga abad ke-19 dan ke-20 Masehi ketika kelompok-kelompok anti minuman keras memperoleh kekuasaan politik di Amerika Serikat dan wilayah-wilayah Eropa, serta mampu memberlakukan larangan, baik dalam skala besar maupun yang lebih kecil. Meskipun demikian, popularitas minuman keras yang telah lama memabukkan di kalangan manusia tidak dapat dibendung oleh undang-undang, dan semua tindakan badan-badan pemerintahan tidak akan menghentikan para pembuat bir dan penjual anggur untuk bangkit kembali. Di zaman modern, bir merupakan usaha komersial yang sama menguntungkannya seperti di dunia kuno, dan minuman ini tetap populer di kancah internasional. Baik saat seseorang sedang mengalami masa senang maupun tidak, bir tetap menikmati status tinggi yang sama seperti di masa Mesopotamia kuno: minuman yang membuat hati terasa ringan.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Sisihkan pariwara
Advertensi

Tentang Penerjemah

Natasha Soedjono
Penyuka bahasa, budaya, dan seni yang memiliki lebih dari 15 tahun pengalaman sebagai penerjemah (baca: generasi milenial tua:))

Tentang Penulis

Joshua J. Mark
Joshua J. Mark adalah salah satu pendiri (co-founder) dan Content Director di World History Encyclopedia. Sebelumnya, dia adalah seorang profesor di Marist College (NY) di mana dia mengajar sejarah, filsafat, sastra, dan menulis. Dia telah melakukan perjalanan secara ekstensif dan tinggal di Yunani dan Jerman.

Sitasi Karya Ini

Gaya APA

Mark, J. J. (2025, November 17). Bir. (N. Soedjono, Penerjemah). World History Encyclopedia. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-10181/bir/

Gaya Chicago

Mark, Joshua J.. "Bir." Diterjemahkan oleh Natasha Soedjono. World History Encyclopedia, November 17, 2025. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-10181/bir/.

Gaya MLA

Mark, Joshua J.. "Bir." Diterjemahkan oleh Natasha Soedjono. World History Encyclopedia, 17 Nov 2025, https://www.worldhistory.org/trans/id/1-10181/bir/.

Sisihkan pariwara