Ramayana

Anindita Basu
oleh , diterjemahkan oleh Naufal Shabri
diterbitkan pada
Translations
Cetak PDF
Rama, Lakshmana & Surpanakha (by Dr. Benjamín Preciado, CC BY-SA)
Rama, Lakshmana & Surpanakha Dr. Benjamín Preciado (CC BY-SA)

Ramayana adalah epos kuno India yang ditulis sekitar abad ke-5 SM, bercerita tentang pengasingan dan kembalinya Rama, pangeran Ayodhya. epos ini ditulis dalam bahasa Sanskerta oleh Resi Walmiki, yang mengajarkannya kepada anak-anak Rama, si kembar Lawa dan Kusa. Dengan sekitar 24.000 bait, Ramayana merupakan puisi yang cukup panjang dan, menurut tradisi, dikenal sebagai Adikawya (adi = asli, pertama; kawya = puisi). Meskipun cerita dasarnya berpusat pada politik istana dan pertempuran dengan suku-suku raksasa, narasi ini diselingi dengan filsafat, etika, dan catatan tentang kewajiban. Jika dalam epos India lainnya, Mahabharata, karakter-karakter ditampilkan dengan segala kelemahan dan kegagalan manusiawi mereka, Ramayana lebih condong ke arah keadaan ideal: Rama adalah putra dan raja yang ideal, Sinta adalah istri yang ideal, Hanoman adalah pengikut yang ideal, Laksmana dan Bharata adalah saudara yang ideal, dan bahkan Rahwana, raksasa jahat, tidak sepenuhnya tercela.

Rama dilahirkan

Dasarata, raja Ayodhya, tidak memiliki anak. Jadi ia mengadakan upacara Putra-kameshti (putra = anak laki-laki, kameshti = yang diinginkan). Dalam upacara tersebut, Agni (dewa api) muncul dari api dan menyerahkan kepada raja sebuah vas emas berisi nektar. "Berikan ini kepada para permaisuri Anda," kata dewa itu lalu menghilang. Raja memiliki tiga permaisuri. Kepada permaisuri tertua, raja memberikan setengah dari keseluruhan nektar; sisa dari bagian permaisuri tertua diberikan kepada permaisuri kedua. Kepada permaisuri termuda, raja memberikan sisa dari keseluruhan nektar, dan lagi, permaisuri kedua mendapatkan bagian yang tersisa. Seiring waktu, para permaisuri melahirkan putra-putra: dari permaisuri tertua lahir Rama, dari permaisuri termuda lahir Bharata, dan dari permaisuri kedua lahir si kembar Laksmana dan Satrugna.

Sisihkan pariwara
Advertensi
Rama, pahlawan Ramayana, adalah putra dan raja yang ideal, sedangkan Sinta adalah istri yang ideal.

Rama menikahi Sinta

Ketika para pangeran telah tumbuh dewasa, Resi Wiswamitra datang ke istana Dasarata dan meminta agar Rama dan Laksmana "dipinjamkan" kepadanya untuk membantu membersihkan pertapaannya dari setan-setan yang mengganggu para penghuni ashram dan menodai persembahan mereka menggunakan darah dan tulang, serta membunuh mereka. Setelah kedua pangeran berhasil membersihkan ashram dari setan-setan, resi tersebut membawa mereka ke kerajaan tetangga Mithila untuk menunjukkan upacara swayamwara putri Mithila, Sinta, yang dilahirkan dari bumi. Raja negara tersebut telah mengadopsi Sinta sebagai putrinya dan, setelah Sinta dewasa, ia menyatakan akan menikahkan Sinta dengan siapa pun yang dapat menarik Busur Besar Siwa. Tidak ada yang bisa melakukannya. Banyak raja, pangeran, dan rakyat biasa telah mencoba dan gagal.

Swayamwara telah berlangsung selama beberapa bulan dan busur itu masih belum dapat ditarik. Ke tempat itulah Resi Wiswamitra membawa dua pangeran Ayodhya. Rama dan Laksmana masuk ke ruang tempat busur itu dipajang dengan segala kemegahannya. Rama berjalan mendekati busur, mengencangkannya, dan menarik tali busur dengan bunyi yang begitu nyaring sehingga dua hal terjadi secara bersamaan: bunyi itu terdengar hingga sangat jauh, dan kekuatan tarikan itu memecahkan busur menjadi dua dengan bunyi yang begitu keras sehingga raja dan para pengawalnya berlari keluar dari kamar mereka untuk melihat apa yang terjadi. Setelah keributan mereda, Rama menikahi Sinta. Ketiga saudaranya menikahi saudara perempuan dan sepupu Sinta, dan ada banyak perayaan dan kegembiraan di kedua kerajaan.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Rama diasingkan

Beberapa waktu kemudian, Dasarata memutuskan bahwa ia telah terlalu tua untuk memerintah dan menyatakan akan menyerahkan takhta kepada Rama, putra sulung dan putra mahkota. Saat itulah permaisuri termudanya mengutip janji lama yang pernah dibuat Dasarata kepadanya: ia menuntut agar Rama diasingkan selama 14 tahun dan putranya sendiri, Bharata, dinobatkan sebagai raja. Dasarata menolak, tetapi Rama memutuskan untuk menepati janji lama ayahnya dan pergi ke hutan. Ia ditemani oleh Sinta dan Laksmana, yang keduanya tidak dapat dibujuk untuk tidak mengikuti Rama. Dalam kesedihan atas ketidakadilan dunia dan kepergian Rama, Dasarata meninggal dua hari kemudian.

Rama, Sita, & Laksmana
Rama, Sita, & Laksmana Raja Ravi Press (Public Domain)

Bharata tidak berada di Ayodhya saat peristiwa ini terjadi; ia dan pangeran keempat, Satrugna, sedang berlibur di negara kakek buyut Bharata. Mereka dipanggil kembali ke Ayodhya dengan tergesa-gesa, dan ketika Bharata mengetahui apa yang terjadi, ia marah. Ia berteriak pada ibunya, menolak naik takhta, dan mengumpulkan warga kota di sekitarnya untuk pergi ke hutan dan membawa Rama kembali.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Rama menolak untuk kembali, menyatakan niatnya untuk memenuhi keinginan terakhir ayahnya dengan berada di pengasingan selama 14 tahun penuh. Bharata kembali dengan sandal Rama, meletakkannya di atas takhta, dan mulai memerintah negara atas nama Rama. Sementara itu, Rama pindah lebih jauh ke selatan, lebih dalam ke dalam hutan, sehingga orang-orang Ayodhya tidak mudah datang ke gubuknya dan memohon agar ia kembali.

Rahwana menculik Sinta

Suatu hari, seorang raksasa bernama Surpanaka melihat Rama dan, terpesona oleh ketampanannya, mendekatinya dan memohon agar Rama menikahinya. "Aku sudah memiliki istri," kata Rama sambil menunjuk ke arah Sinta. "Mengapa kamu tidak menikahi saudaraku Laksmana saja?" Ketika Surpanaka berpaling ke arah Laksmana, dia menyatakan bahwa dia telah mengambil sumpah kesucian untuk sementara dan mengembalikannya ke Rama. Kedua saudara itu bergantian "bermain ping-pong" dengannya, dan ketika Surpanaka, yang kini marah luar biasa, berlari ke arah Sinta untuk membunuhnya, Laksmana memotong hidung dan telinga Surpanaka.

Ravana the Demon King
Ravana Raja Iblis Henryart (Public Domain)

Surpanaka terbang ke Lanka (Sri Lanka modern), yang diperintah oleh saudaranya Rahwana, dan mengadu. Marah, Rahwana bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia meyakinkan raksasa Marica untuk menyamar sebagai rusa emas dan berkeliaran di dekat gubuk Rama. Ketika Sinta melihat rusa emas itu, ia memohon kepada Rama untuk menangkapnya. Ketika kedua saudara itu keluar untuk mengejar rusa, Rahwana datang, menculik Sinta, menempatkannya di kereta terbang, dan pergi melintasi langit menuju Lanka. Ketika para pangeran, setelah membunuh rusa emas dan menyadari bahwa itu adalah raksasa yang menyamar, kembali ke gubuk mereka, mereka menemukan gubuk itu kosong dan mulai mencari Sinta.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Rama bertemu Hanoman

Selama perjalanan mereka, para pangeran bertemu dengan sekelompok monyet yang menunjukkan kepada mereka perhiasan Sinta: monyet-monyet itu telah melihat seorang wanita cantik menangis dan menjatuhkan perhiasannya dari kereta di langit yang dikemudikan ke selatan oleh raksasa.

Di antara monyet-monyet itu ada Hanoman, yang akhirnya menemukan bahwa Sinta berada di kerajaan Rahwana di Lanka. Rama mendapatkan bantuan dari pemimpin monyet Sugriwa, mengumpulkan pasukan monyet, berbaris ke selatan, membangun jembatan melintasi lautan, dan menyeberang ke Lanka. Rama, setelah pertempuran epik, berhasil membunuh Rahwana dan akhirnya membebaskan Sinta.

Hanuman
Hanuman Fae (Public Domain)

Sinta menghadapi ujian api

Ketika Sinta mendekati Rama, ia menolak menerimanya karena Sinta telah tinggal di istana raksasa selama ini. Terluka, Sinta masuk ke dalam api pembakaran dengan niat mengakhiri hidupnya. Namun, Agni muncul dari api, membawa Sinta yang tidak terluka di tangannya, dan berkata:

Sisihkan pariwara
Advertensi

एषा ते राम वैदेही पापमस्यां न ववद्यते

Di sini, Rama, adalah Sinta-mu. Dia tidak memiliki sedikit pun dosa di dalamnya. (Walmiki Ramayana, 6.118)

Peristiwa ini dikenal sebagai Agni Pareeksha (agni = api, pareeksha = ujian).

Rama dinobatkan di Ayodhya

Setelah 14 tahun telah berlalu, Rama kembali ke Ayodhya dan dinobatkan sebagai raja yang memerintah kerajaan dengan kebijaksanaan yang besar: tidak ada anak yang meninggal sebelum orang tuanya, tidak ada pintu yang perlu dikunci untuk mencegah pencuri, tidak ada lahan pertanian yang tandus, tidak ada pohon yang tidak berbuah, dan di mana-mana terdapat kedamaian dan kemakmuran.

Sinta diusir

Ramayana, yang ditulis oleh Walmiki, diyakini memiliki enam bab dan berakhir pada titik bahagia ini. Bab ketujuh, yang disebut Uttar-Ramayana (uttar = setelah, yang datang kemudian), melanjutkan cerita dan berakhir dengan nada yang sedikit kurang bahagia. Inilah kelanjutan ceritanya: Setelah berbulan-bulan Rama berkuasa, rumor mulai beredar di kalangan rakyat mengenai kesucian Sinta sejak ia diculik dan dipenjara oleh seorang raksasa. Mengingat perasaan rakyatnya, Rama meminta Sinta untuk menjalani Agni Pareeskha lagi. Sinta menolak, sehingga Rama pun mengusirnya. Laksmana ditugaskan untuk mengantarnya keluar dari kerajaan; ia melakukannya dengan enggan dan meninggalkan Sinta di dekat pertapaan Walmiki.

Ramayana: Places
Ramayana: Tempat Anindita Basu (CC BY-NC-SA)

Lawa & Kusa menyanyikan Ramayana

Sinta sedang hamil saat itu. Walmiki menerimanya sebagai penghuni pertapaan, dan ia melahirkan anak kembar di sana: dua putra bernama Lawa dan Kusa yang dibesarkan Walmiki dengan cinta dan kasih sayang yang besar, mengajarkan mereka keterampilan kerajaan seperti memanah serta keterampilan akademik seperti Kitab Weda dan kitab suci lainnya. Walmiki juga mengajarkan mereka untuk menyanyikan Ramayana, yang telah ia selesaikan penulisannya pada saat itu. Si kembar tersebut, yang tidak mengetahui asal-usul mereka dan karenanya tidak menyadari bahwa mereka menyanyikan kisah tentang keluarga mereka sendiri, sering membacakan puisi tersebut di berbagai pertemuan. Mereka menjadi sangat disukai karena pembacaan mereka yang indah, sehingga ketenaran mereka sampai ke telinga Rama, yang memanggil mereka untuk tampil. Di istana Rama lah kisah sebenarnya terungkap kepada si kembar tersebut: bahwa mereka, yang mirip sekali dengan raja, adalah anak-anaknya, dan ibu mereka tak lain adalah Sinta yang mereka nyanyikan.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Rama, dalam penyesalan, meminta Sinta untuk kembali ke istana jika ia dapat membuktikan kesuciannya lagi di hadapan saksi. Sinta, dalam kesedihan, berteriak, "Wahai ibu bumi, bawalah aku pergi dari tempat ini selamanya!" Lalu tanah terbelah, Dewi Pertiwi muncul di atas takhta emas, memeluk Sinta di pangkuannya, turun, dan celah itu tertutup. Sinta hilang selamanya. Dalam kesedihan yang mendalam, Rama memutuskan untuk tidak hidup lagi. Ia menyerahkan takhta kepada putra-putranya dan, bersama saudara-saudaranya, memasuki air sungai Sarayu yang mengelilingi Ayodhya; roh mereka meninggalkan tubuh mereka dan naik ke langit.

Varian daerah

Ramayana ditulis dalam bahasa Sanskerta. Seiring berjalannya waktu dan penuturan ulang, beberapa versi dalam bahasa daerah muncul yang memperindah cerita, menambahkan sentuhan regional, dan menyisipkan penjelasan serta pembenaran untuk bagian-bagian yang menggambarkan pahlawan, Rama, dalam cahaya yang tidak terlalu heroik. Ramawataram, yang ditulis oleh penyair Tamil Kamban pada abad ke-12 Masehi, populer di bagian selatan India. Di utara, Ramacharit Manas, yang ditulis oleh penyair Tulsidas dari Awadhi, sangat populer. Variasi lain terdapat dalam bahasa Bengali, Malayalam, Telugu, Kannada, dan bahasa-bahasa India lainnya.

Staircase of the Kailasa Temple, Ellora
Tangga Kuil Kailasa, Ellora Jean-Pierre Dalbéra (CC BY)

Warisan

Karakter-karakter Ramayana telah meresap ke dalam percakapan sehari-hari dan ungkapan-ungkapan di tanah ini. Pembacaan publik Ramayana sangat umum. Epos ini telah diadaptasi menjadi drama dan film; setiap tahun, kelompok lokal dan perkumpulan warga di India Utara mementaskannya selama perayaan Dusshera. Adegan-adegan dari epos ini dapat dilihat di dinding beberapa kuil tertua di Asia.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Rama dipuja sebagai inkarnasi Dewa Wishnu, dan tidak jarang ditemukan kuil Rama di hampir setiap lingkungan di negara ini, terutama di bagian utara India, khususnya di daerah Sabuk Gangetik. Di negara-negara Asia Tenggara seperti Kamboja, Indonesia, dan Malaysia, kisah Rama terus diceritakan melalui pertunjukan wayang kulit yang kompleks.

Sisihkan pariwara
Advertensi

Daftar Pustaka

Ensiklopedia Sejarah Dunia adalah mitra afiliasi Amazon dan mendapatkan komisi dari pembelian buku yang memenuhi syarat.

Tentang Penerjemah

Naufal Shabri
Lahir di Surabaya, Indonesia, Naufal Shabri adalah seorang peneliti dengan spesialisasi kajian budaya dan media, yang memiliki apresiasi mendalam terhadap sejarah dan bagaimana itu membentuk kebudayaan kontemporer.

Tentang Penulis

Anindita Basu
Anindita adalah penulis dan editor teknis. Karya-karya di luar bidang pekerjaannya meliputi Indologi (ilmu yang mendalami tentang India), visualisasi data, dan etimologi.

Sitasi Karya Ini

Gaya APA

Basu, A. (2025, Oktober 14). Ramayana. (N. Shabri, Penerjemah). World History Encyclopedia. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-15104/ramayana/

Gaya Chicago

Basu, Anindita. "Ramayana." Diterjemahkan oleh Naufal Shabri. World History Encyclopedia, Oktober 14, 2025. https://www.worldhistory.org/trans/id/1-15104/ramayana/.

Gaya MLA

Basu, Anindita. "Ramayana." Diterjemahkan oleh Naufal Shabri. World History Encyclopedia, 14 Okt 2025, https://www.worldhistory.org/trans/id/1-15104/ramayana/.

Sisihkan pariwara