Richard Strauss (1864-1949) adalah seorang dirigen dan komponis Jerman yang dikenal karena karya musiknya yang inovatif dalam aliran Romantisisme Akhir dan Modernisme. Dia terkenal berkat karyanya yang berupa puisi simfonis dan opera seperti Salome dan Elektra, yang keduanya menjadi bahan pembicaraan. Strauss mendapatkan generasi penggemar yang baru ketika karyanya Also sprach Zarathustra (Maka Berbicaralah Zarathustra) digunakan dalam film 2001: A Space Odyssey (2001: Petualangan Ruang Angkasa) yang dirilis pada tahun 1968.
Masa Awal
Richard Strauss dilahirkan di Munich, Jerman, pada tanggal 11 Juni 1864. Ayahnya, Franz-Joseph Strauss, adalah pemain horn utama di orkestra istana Munich, sedangkan ibunya, Josephine Pschorr, berasal dari keluarga pemilik pabrik bir yang sukses di Munich (jenama Pschorr masih ada hingga kini). Richard mewarisi bakat musik ayahnya, dan dia bahkan melampauinya. Pada umur empat tahun, dia sudah bisa bermain piano, dan pada umur delapan tahun dia juga mampu bermain biola. Dia mulai menggubah musik sejak usia enam tahun. Berkat kekayaan keluarga ibunya dan koneksi ayahnya di dunia musik, Richard berhasil menerbitkan karya-karyanya, yang antara lain, lagu, sonata, dan simfoni. Sambil mengembangkan kemampuannya dalam bermain musik, dia juga belajar filsafat dan sejarah seni di Universitas Munich. Pada awal usia 20-an, dia sudah menunjukkan “campuran yang paradoks antara penghematan yang cermat dan kemewahan yang provokatif, yang kemudian menjadi ciri khas gaya selanjutnya” (Sadie, 299).
Sebagai seorang dirigen, Strauss bukan penggemar instrumen tiup kayu. Dia pernah berkata, “Jika anda masih bisa mendengarnya, maka instrumen tersebut terlalu keras” (Wade-Matthews, 142). Namun sebagai komponis, dia justru sering menggunakannya, dimulai dari karya besar pertamanya, Serenade untuk instrumen tiup. Awalnya tampil dengan gaya yang berlebihan di podium, gaya mengaba Strauss yang matang menjadi sangat khas terutama saat membawakan karyanya sendiri ketika “para kritikus tidak bisa melupakan kesemarakan musiknya yang berlawanan dengan sikap geraknya yang terkendali” (Schonberg, 486).
Pada awal 1880-an, Strauss menggubah Suita dalam Nada B-datar, Konserto Horn Pertama, sonata cello, dan sejumlah lagu. Pementasan perdana satu karyanya, Simfoni Kedua, diadakan di New York. Tahun 1885 dia menjadi asisten seorang dirigen terkenal, yaitu Hans von Bülow (1830-1894). Posisi ini membawa Strauss ke Meiningen di Jerman Tengah. Ternyata ini menjadi posisi yang sangat bagus karena dalam waktu satu bulan von Bülow mengundurkan diri dan Strauss menjadi dirigen utama di orkestra Meiningen yang sangat terpandang.
Romantisisme & Puisi Simfonis
Di tahun 1886, Strauss menjabat sebagai dirigen di opera istana Munich selama tiga tahun. Dia sangat mengagumi opera karya Richard Wagner dan gagasannya tentang Gesamtkunstwerk, yaitu penciptaan sebuah karya seni 'total' yang memadukan puisi, drama, dan musik secara menyatu. Namun opera tidak menjadi fokus Strauss. Dia lebih memilih mengembangkan bentuk puisi nada (istilah yang dia sukai) atau puisi simfonis, suatu format yang memiliki musik orkestra yang terinspirasi oleh ide tunggal dari karya sastra, seni rupa, atau alam. Puisi simfonis Strauss yang pertama adalah Aus Italien (Dari Italia), yang digubah saat dia berada di Italia pada tahun 1886.
Pada tahun 1889, nama Strauss semakin bersinar, dan dia diangkat sebagai asisten dirigen di istana Weimar. Sepanjang 1890-an, dia terus berkarya dan menggubah, khususnya puisi simfonis, yang antara lain berjudul Macbeth, Don Juan (sukses besar), dan Don Quixote. Maka Berbicaralah Zarathustra juga meraih kesuksesan di tahun 1896. Gubahan ini menarik imajinasi public di abad berikutnya, ketika karya ini muncul dalam film 2001: Petualangan Ruang Angkasa (1986). Meski Strauss tetap mematuhi bentuk-bentuk klasik dalam menggubah puisi simfonis, “dalam karya-karya terbaiknya terdapat humor dan rasa jarak yang sedikit ironis yang menunjukkan bahwa Strauss mulai menjauh dari keseriusan Romantik para pendahulunya” (Arnold, 1756). Puisi-puisi simfonis ini membuatnya terkenal di seluruh dunia dan menciptakan “aura sensasional di sekitar sosok tinggi kurus dan musiknya yang dianggap mengejutkan” (Schonberg, 485). Ironisnya, bentuk puisi simfonis itu sendiri segera menjadi ketinggalan zaman secara permanen. Jika Strauss ingin tetap berinovasi, dia harus beralih ke bentuk lain.
Hubungan keluarga
Strauss menikah dengan penyanyi sopran Pauline de Ahna pada tahun 1894. Sebagai hadiah pernikahan, dia menghadiahkan empat lagu (4 Lieder op. 27). Meski musiknya sering memicu berita sensasional di media, kehidupan pribadi Strauss sangat tenang dan terhindar dari gosip: “tak pernah ada sedikit pun tanda skandal dalam kehidupan pribadinya” (Schonberg, 486). Mereka memiliki seorang putra, Franz (dipanggil Bubi), yang lahir tahun 1897.
Opera Strauss
Pada 1890-an Strauss beralih ke opera. Dia menggubah opera pertama Guntram pada tahun 1894, tetapi itu tidak sukses. Tujuh tahun kemudian, dia menggubah opera keduanya, Feuersnot (Kekurangan Api), yang juga tidak lebih baik dari yang pertama. Tahun 1898 ia menjadi dirigen utama Berlin Royal Opera. Kegagalan opera pertama dan keduanya tidak membuat Strauss patah semangat. Opera ketiganya, Salome (1905) membawa keberuntungan bagi Strauss. Salome, yang berupa libretto satu babak ini, digubah berdasarkan drama karya Orcar Wilde yang memicu skandal. Alur ceritanya tentang Yohanes Pembaptis yang dipenjara akibat dia mengumumkan kedatangan Mesias. Raja Herodes meminta Salome untuk menari, dan Salome bersedia dengan syarat satu permintaannya dipenuhi. Dia meminta kepala Yohanes Pembaptis. Salome pun menari, dan mendapatkan kepala Yohanes Pembaptis. Dia mencium dan membelai kepala tersebut (yang kemudian menjadi skandal). Raja Herodes, seperti sejumlah kritikus, merasa jijik dengan adegan itu. Dia memerintahkan prajuritnya untuk memukul Salome dengan perisai mereka hingga Salome mati dengan tubuh hancur. Partitur Salome ini menunjukkan pengaruh Wagner dan disebut sebagai “mahakarya Romantisisme akhir yang bersifat indrawi dan berlebihan” (Wade-Matthews, 425). Selain jalan ceriteranya, sejumlah kritikus terkejut dengan modernitas dari orkestrasi, tetapi kritikus lain berpendapat bahwa Salome itu merupakan satu mahakarya. Dan Gustav Mahler (1860-1911) termasuk dalam kelompok kritikus yang kedua.
Meskipun mengalami hambatan terkait dengan sensor, Salome berhasil mengangkat nama Strauss di kancah internasional setelah pertunjukan perdananya di Dresden pada bulan Desember 1905, di New York pada tahun 1907 (di mana pertunjukan itu dibatalkan setelah hanya satu kali pementasan karena kemarahan publik), dan di London pada tahun 1910. Dengan penghasilannya itu, sang komponis membangun sebuah vila besar di resor pegunungan Garmisch, Bavaria. Strauss menjadi sangat kaya, sebab “Strauss dikenal sebagai orang yang pandai dalam menawar harga dan menyukai bunyi gemerincing uang sama seperti bunyi petikan senar” (Schonberg, 486). Dia juga sangat bersemangat dalam memperluas perlindungan hak cipta bagi para komponis. Dan dia berhasil dalam upaya ini.
Opera berikutnya, yang berjudul Elektra, digubah berdasarkan drama karya penulis tragedy Yunani, Sophocles (sekitar 496 hingga sekitar 406 SM). Opera satu babak ini, dengan libretto dibuat oleh Hugo von Hofmannsthal, menceritakan balas dendam Elektra atas pembunuhan ayahnya, Agamemnon, Raja Mycenae, yang dilakukan oleh istrinya (yang juga adalah ibu Elektra), Klytemnestra. Dalam pertumpahan darah keluarga, Elektra dibantu oleh saudara laki-lakinya Orest yang membunuh Klytemnestra di istana kerajaan sementara Elektra membunuh kekasih ibunya Aegisth. Elektra mendapatkan pembalasan atas perbuatan jahatnya ketika dia pingsan dan meninggal saat menari dalam merayakan kemenangannya yang berumur pendek. Pertunjukan perdana opera tersebut dilakukan pada bulan Januari 1909 di Opera Istana Dresden. Elektra meraih kesuksesan internasional dan mengukuhkan status Strauss sebagai salah satu komponis terpenting di dunia dan seorang maestro sejati suara sopran.
Der Rosenkavalier (Ksatria Bunga Mawar) adalah opera komedi yang mengikut gaya karya serupa oleh Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791), dengan kisah romansa konyol yang sedikit melibatkan lintas-busana. Libretto tiga babak ini ditulis oleh Hofmannsthal. Opera ini dipentaskan perdana pada bulan Januari 1911 dengan sambutan meriah. Kemudian ia dipentaskan di London dan New York dua tahun kemudian. Ada rencana untuk mengadaptasi opera ini menjadi film, tetapi Strauss menolak bayaran yang menggiurkan karena produser tidak menyetujui permintaannya untuk versi tanpa potongan.
Strauss tidak sepenuhnya meninggalkan puisi simfonis dalam masa penggubahan opera yang intens ini. Pada tahun 1915, dia menyelesaikan Ein Alpensinfonie (Sebuah Simfoni Alpen), satu karya ambisius dengan orkestra yang diperluas (sedemikian rupa sehingga jarang dipentaskan saat ini). Terinspirasi oleh ide mendaki puncak Alpen dari fajar hingga senja, bagian perkusi yang tidak biasa tersebut menyertakan mesin angin dan badai.
Kolaborasi lebih lanjut untuk opera dengan Hofmannsthal antara tahun 1914 dan 1932 termasuk Ariadne auf Naxos (Adriadne di Naxos), Die Frau ohne Schatten (Wanita Tanpa Bayangan) – yang dianggap Strauss sebagai opera terbaiknya –, Die ägyptische Helena (Helen dari Mesir), dan Arabella. Partitur-partitur ini menunjukkan elegansi yang mewah dan baru. Dan ini mengakibatkan beberapa kritikus menyayangkan perubahan dari disonansi yang lebih eksperimental yang digunakan Strauss dalam Salome dan Elektra. Strauss sendiri mengakui bahwa dia berpikir kedua opera terdahulu itu telah menguji batas-batas apa yang dapat ditoleransi oleh pendengar dalam mendengarkan, dan kini dia mundur selangkah untuk berfokus pada kedalaman makna daripada efek sensasional.
Kolaborator lain untuk penggubahan libretto sepanjang tahun 1930-an termasuk Stefan Zweig untuk Die schweigsame Frau (Perempuan yang Pendiam) dan Joseph Gregor untuk Friedenstag (Hari Perdamaian), Daphne, serta Die Liebe der Danaë (Cinta Danaë). Opera terakhir Strauss adalah Capriccio yang berdurasi satu babak (libretto oleh Clemens Krauss dan Strauss), yang dipentaskan perdana di Munich pada tahun 1942. Barangkali, opera ini merupakan penutup yang tepat bagi karier opera sang komponis karena alurnya berpusat pada perdebatan yang tak terselesaikan mengenai mana yang lebih penting dalam sebuah opera: kata-kata atau musik.
Hubungan dengan Nazisme
Ketika Partai Nazi Jerman mengambil alih kekuasaan dan memperluas pengaruhnya di bidang seni sepanjang tahun 1930-an, Strauss dikaitkan dengan Nazisme. Komponis ini diangkat sebagai presiden Nazi Reichsmusikkammer (Dewan Musik Reich) pada tahun 1933. Pada tahun 1935, Strauss dipecat dari posisi tersebut karena menantu perempuannya adalah keturunan Yahudi. Ia juga mengambil sikap yang berbahaya dan menolak untuk memutuskan hubungan profesional dengan librettisnya (penulis llibretto), yaitu Zweig, yang merupakan orang Yahudi. Akibatnya Strauss diminta untuk mengundurkan diri dari semua posisi resminya, tetapi ini tidak mencegahnya bekerja lebih lanjut dengan rezim tersebut, terutama membuat partitur untuk satu film tentang Olimpiade Berlin 1936. Selama Perang Dunia Kedua (1939-45), Strauss tinggal di Austria. Setelah konflik selesai, dia pindah ke Swiss. Sang komponis tersebut diinvestigasi atas hubungannya dengan partai Nazi Jerman di masaa lalu, tetapi dia dibebaskan oleh pengadilan denazifikasi. Seperti yang dicatat oleh sejarawan musik D. Arnold, “Strauss mendapati dirinya dituduh bekerja sama dengan rezim [Nazi], meskipun bukti menunjukkan bahwa dia hanya apolitis, dan bahwa dia memang berusaha membantu teman-teman Yahudinya” (1757). Meskipun demikian, posisinya ambigu, dan bayang-bayang Nazisme masih membayangi musik dan reputasi Strauss.
Karya Richard Strauss yang Paling Terkenal
Karya-karya Richard Strauss yang paling terkenal (untuk opera, tahun pertunjukan perdana ditulis dalam kurung):
Lebih dari 200 lagu
Serenade untuk instrumen tiup
Macbeth, puisi simfonis
Don Juan, puisi simfonis
Tod und Verklärung – Kematian dan Transformasi, puisis simfonis
Till Eulenspiegels lustige Streiche – Till Eulenspiegel's Merry Pranks, puisi simfonis
Also sprach Zarathustra - Maka Berbicaralah Zarathustra, puisi simfonik
Don Quixote, Puisi Simfoni
Ein Heldenleben – Sebuah Kehidupan Pahlawan, puisi simfonik
Symphonia domestica, puisis simfonis
Salome, opera (1905)
Elektra, opera (1909)
Der Rosenkavalier – Ksatria Bunga Mawar, opera (1911)
Ariadne auf Naxos – Ariadne di Naxos, opera (1912)
Ein Alpensinfonie – Simfoni Alpen, puisi simfonik
Capriccio, opera (1942)
Vier letzte Lieder – Empat Lagu Terakhir
Kematian dan Warisan
Karya pasca-perang Strauss meliputi Metamorphosen, sebuah karya yang utamanya dibuat untuk instrumen gesek solo dan dimaksudkan untuk menggambarkan keruntuhan Jerman di bawah Nazisme dan kehancuran bangunan-bangunan budaya yang besar selama perang, seperti Gedung Opera Dresden, Munich, dan Wina. Dia juga menggubah konserto untuk horn dan oboe dan beberapa sonata untuk instrumen tiup.
Koleksinya yang berjudul Vier letzte Lieder (Empat Lagu Terakhir) digubah pada tahun 1948 (namun baru dipentaskan pada tahun 1950). Lagu-lagu ini digubah untuk penyanyi solo dengan iringan orkestra, menggunakan lirik yang diambil dari puisi Joseph Freiherr von Eichendorff dan Hermann Hesse. Strauss sebenarnya berniat menambahkan lagu kelima, tetapi ini tidak pernah terselesaikan. Hingga akhir hayatnya, Strauss—meskipun sebelumnya sempat menjelajah lanskap musik Modernis—tetap setia pada gerakan Romantik, yang telah dilaluinya. Dia lebih memilih mengabaikan perkembangan musik yang dibawa oleh tokoh-tokoh seperti Sergei Prokofiev (1891–1953) dan Igor Stravinsky (1882–1971). Hal ini membuat karya Strauss menjadi sasaran kritik dari generasi baru komponis Modernis. Namun demikian, posisinya sebagai salah satu komponis besar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 tetap kokoh, sebagaimana dibuktikan oleh festival karya-karyanya yang diadakan di London pada tahun 1947. Richard Strauss wafat di vilanya di Garmisch pada 8 September 1949.
