---
title: Mengapa Serangan Kamikaze Jepang Gagal di Perang Dunia ke-II
author: Mark Cartwright
translator: Callysta Pasaribu
source: https://www.worldhistory.org/trans/id/2-2988/mengapa-serangan-kamikaze-jepang-gagal-di-perang-d/
format: machine-readable-alternate
license: Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike (https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/)
updated: 2026-09-15
---

# Mengapa Serangan Kamikaze Jepang Gagal di Perang Dunia ke-II

_Ditulis oleh [Mark Cartwright](https://www.worldhistory.org/user/markzcartwright/)_
_Diterjemahkan oleh [Callysta Pasaribu](https://www.worldhistory.org/user/callysta.pasari)_

Serangan *Kamikaze* dilakukan oleh prajurit Jepang sepanjang tahun-tahun Perang Dunia Kedua (1939-45) yang penuh keputusasaan. Pesawat, roket berawak, dan kapal dipenuhi oleh bahan peledak dengan tujuan menimbulkan kerusakan maksimal pada musuh, tetapi dengan tidak adanya peluang realistis bagi para pilot untuk selamat. Taktik luar biasa ini dianggap perlu sebagai satu-satunya cara untuk mencegah invasi Sekutu ke Jepang. Meskipun jauh kurang berhasil dari yang diharapkan karena banyaknya tindakan balasan defensif Sekutu, 4.000 pilot kamikaze yang gugur tetap dihormati, dipuja, dan dikenang di negara asal mereka sebagai pemuda yang rela melakukan pengorbanan tertinggi untuk membela tanah air mereka.

[ ![Japan's Kamikaze Warfare (1944–1945)](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/21937.png?v=1784102035-1785735600-qcqqy7kr) Perang Kamikaze Jepang (1944–1945) Simeon Netchev (CC BY-NC-ND) ](https://www.worldhistory.org/image/21937/japans-kamikaze-warfare-1944-1945/ "Japan's Kamikaze Warfare (1944–1945)")### Tentang Nama Kamikaze

Nama *kamikaze* berarti 'angin ilahi,' dan asal-usulnya ditemukan pada kegagalan [invasi Mongol ke Jepang](https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1415/invasi-mongol-ke-jepang/) pada tahun 1274 dan 1281. Armada invasi besar Kublai Khan, selain dipukul mundur oleh samurai yang berani, juga mengalami kerusakan serius akibat badai topan. Orang Jepang menganggap badai ini berasal dari kekuatan ilahi, terutama karena, sebagai upaya terakhir, mereka telah berdoa memohon pertolongan kepada dewa perang Shinto, Hachiman. Nama kamikaze kembali muncul selama Perang Pasifik Perang Dunia II karena Jepang menghadapi ancaman invasi serupa, kali ini dari AS dan angkatan bersenjata Sekutu. Tindakan putus asa sekali lagi diperlukan jika Jepang ingin diselamatkan dari pendudukan asing.

*Kamikaze* menjadi sebutan populer baru untuk misi-misi di mana prajurit Jepang melakukan serangan yang bertujuan untuk menimbulkan kerusakan maksimal pada musuh, tetapi hampir pasti akan berakhir dengan kematian mereka sendiri. Angkatan bersenjata Jepang secara resmi menyebut kelompok penyerang ini sebagai *Tokko* atau *Tokkotai*, yang merupakan singkatan dari *Tokubetiu Kogeki*, yang berarti 'Unit Serangan Khusus'.

Orang-orang Barat dengan cepat menyamakan serangan *kamikaze* dengan misi bunuh diri. Namun, bagi orang Jepang sendiri, hubungan antara kamikaze dan bunuh diri tidak begitu berempati. Letnan Jenderal Kawabe menjelaskan perbedaannya:

> Kami percaya keyakinan spiritual kami akan kemenangan akan menyeimbangkan keunggulan ilmiah apa pun \[dari Sekutu\]… Anda menyebut serangan *Kamikaze* kami sebagai "serangan bunuh diri". Ini adalah istilah yang keliru, dan kami merasa sangat tidak senang anda menyebutnya "serangan bunuh diri". Mereka sama sekali tidak membunuh diri. Pilot tersebut tidak memulai misinya dengan niat untuk bunuh diri. Dia menganggap dirinya sebagai bom manusia yang dapat menghancurkan sebagian armada musuh untuk negaranya. Mereka menganggapnya sebagai hal yang mulia, sementara "bunuh diri" mungkin tidak begitu mulia.
> (Largas, 38)

[ ![Japanese Samurai Attack Mongol Ships](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/10980.jpg?v=1765520113-w1mp7jha) Para Samurai Jepang Menyerang kapal-kapal Mongol Unknown Artist (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/10980/japanese-samurai-attack-mongol-ships/ "Japanese Samurai Attack Mongol Ships")### Para Pilot

Pilot-pilot *Kamikaze* pada awalnya adalah sukarelawan. Pilihan mereka dianggap sangat terhormat, dan mereka dirayakan sebagai pahlawan nasional. Para pilot termotivasi oleh gagasan bahwa mereka melayani kaisar Jepang, yang secara luas dianggap sebagai sosok setengah dewa. Lagu kebangsaan tidak resmi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Umi Yukaba, bahkan memiliki baris-baris berikut:

> Di seberang laut, mayat-mayat di air, 
> Di seberang gunung, mayat-mayat di ladang.Aku akan mati untuk Kaisar. 
> Aku takkan pernah menoleh ke belakang.
> (Leckie, 93)

Mati demi kaisar Jepang dan keamanan nasional dianggap sebagai kehormatan besar dan terkait erat dengan gagasan *bushido*. Ini adalah nama kode kehormatan yang diikuti oleh prajurit samurai, para ahli bela diri yang mendominasi peperangan Jepang sejak abad ke-10. *Bushido* sebenarnya adalah gagasan yang diromantiskan yang baru dikembangkan pada abad ke-17, ketika samurai sebagian besar telah menjadi seremonial dalam fungsinya. Dalam literatur samurai pada periode itu, sering dinyatakan bahwa *bushido* adalah 'cara mati'. Apakah samurai sejati benar-benar se-kesatria seperti yang disarankan oleh *bushido* tidak relevan di sini, karena gagasan yang dipromosikan oleh kode tersebut, seperti kesederhanaan, loyalitas, dan disiplin diri, sangat ideal untuk diadopsi oleh pilot kamikaze pada pertengahan abad ke-20.

Sejarawan R. Leckie merangkum upacara pra-penerbangan para pilot *kamikaze* di sini:

> …\[mereka\] dipuja sebagai penyelamat: dijamu, diberi makan, difoto, dan dipuja-puja. Banyak dari mereka menghadiri pemakaman mereka sendiri sebelum berangkat menjalankan misi terakhir mereka. Pesta perpisahan diadakan untuk menghormati mereka… Upacara samurai yang khidmat dilakukan, dan banyak minuman sake diminum… konsep penyelamat yang bunuh diri telah begitu memikat bangsa, dari siswi sekolah hingga Kaisar Hirohito sendiri, sehingga kritik sekecil apa pun akan dianggap sebagai pengkhianatan.
> (18)

Pilot *kamikaze* terkenal memakai bando *hachimaki* berupa kain putih yang dilipat dengan gambar matahari terbit dari bendera nasional Jepang di tengahnya. *Hachimaki* melambangkan ketekunan dan keberanian.

[ ![Japanese Kamikaze Pilots](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/22116.png?v=1788933586-1788933676) Pilot Kamikaze Jepang Unknown Photographer (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/22116/japanese-kamikaze-pilots/ "Japanese Kamikaze Pilots")Terlepas dari propaganda yang melebih-lebihkan efektivitas serangan *kamikaze*, memang menjadi sulit untuk menemukan sukarelawan menjelang akhir perang, seperti yang diceritakan di sini oleh Kapten Nakajima:

> Pada awalnya kami dapat memilih dari sejumlah besar orang yang sukarela. Tetapi ketika situasi perang memburuk dan ketika pesawat-pesawat serang harus lepas landas dari Jepang, ketika Jepang sendiri diserang, kami membutuhkan sejumlah besar pilot Serangan Khusus. Dan kemudian tidak mungkin semuanya adalah sukarelawan, tetapi mungkin termasuk mereka yang sebenarnya tidak ingin menjadi sukarelawan dan mereka yang ditarik oleh rekan-rekan mereka dan dibujuk untuk menjadi sukarelawan.
> (Holmes, 493)

Secara resmi, semua pilot *kamikaze* adalah sukarelawan, tetapi dalam praktiknya, seperti yang disebutkan dalam kutipan di atas, koersi terjadi dalam berbagai tingkatan. Meskipun demikian, banyak pilot yang dengan sukarela menjalankan misi satu arah mereka, imajinasi mereka terpikat oleh romantisme dari semua itu, seperti yang diungkapkan oleh seorang pilot *kamikaze* berikut ini:

> Saat aku terbang di angkasa 
> Betapa indahnya tempat pemakaman itu 
> adalah puncak awan.
> (Leckie, 187)

[ ![Waving off a Kamikaze Pilot](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/22115.png?v=1788933223-1788933309) Melambaikan pilot Kamikaze Hayakawa (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/22115/waving-off-a-kamikaze-pilot/ "Waving off a Kamikaze Pilot")Yang lain menawarkan diri untuk melakukan pengorbanan tertinggi tetapi tidak terlalu senang dengan keharusan tersebut, seperti yang ditulis oleh seorang pilot:

> Terus terang, sejujurnya saya katakan, saya tidak mati dengan sukarela. Saya mati bukan tanpa penyesalan. Masa depan negara saya membuat saya gelisah… Saya sangat tertekan. 
> (*ibid*)

Selain itu, terdapat pula peningkatan jumlah kasus pilot yang kembali ke pangkalan mereka dengan berbagai alasan karena tidak dapat melaksanakan misi mereka, misalnya, cuaca buruk yang menghalangi target, tersesat di tengah jalan, atau mengalami kerusakan mekanis.

### Bentuk Serangan Kamikaze

Kelompok *kamikaze* pertama dibentuk oleh Wakil Laksamana Onishi Takijiro (1891-1945) dari Armada Udara ke-1. Ia membentuk unit yang terdiri dari 24 penerbang sukarelawan. Kapal pertama yang dihantam oleh pilot *kamikaze* adalah kapal penjelajah berat HMS *Australia* pada 21 Oktober 1944, meskipun mereka yang berada di dalamnya tidak menyadari bahwa tabrakan itu disengaja. *Australia* adalah bagian dari armada AS di Filipina. Misi *kamikaze* pertama kali diidentifikasi sebagaimana adanya empat hari kemudian dalam Pertempuran Filipina, ketika pilot Jepang menyerang kapal induk pengawal USS *Santee* dan USS *Suwannee*.

Dalam misi-misi ini, pilot sukarelawan sengaja menerbangkan pesawat mereka, yang biasanya dimodifikasi untuk membawa muatan bom yang lebih berat dari biasanya seperti satu bom 551-lb (250-kg), langsung ke target seperti kapal perang. Mitsubishi A6M Zero adalah yang paling sering digunakan; memang, sekitar 650 pesawat Zero digunakan dalam misi *kamikaze* sepanjang perang, meskipun semua jenis pesawat dapat dikerahkan untuk tujuan tersebut, terutama pesawat usang yang tidak mampu mempertahankan diri terhadap pesawat tempur Sekutu yang lebih baru. Lebih jarang, pesawat pengebom torpedo Nakajima B5N dilengkapi dengan bom besar seberat 1.760 lb (800 kg), sementara pesawat pengebom Mitsubishi G4M bermesin ganda digunakan untuk membawa satu bom *Baka* (lihat di bawah). Pesawat tempur yang lebih baik sering dikerahkan untuk mengawal pesawat *kamikaze* yang lebih lambat ke tujuan akhir mereka.

[ ![Mitsubishi A6M Zero in Flight](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/22005.jpg?v=1785825145-1785825279-6vgpdtnj) Pesawat Mitsubishi A6M Zero sedang terbang. Airwolfhound (CC BY-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/22005/mitsubishi-a6m-zero-in-flight/ "Mitsubishi A6M Zero in Flight")Alasan mengapa pesawat tempur lebih sering digunakan untuk misi *kamikaze* dibandingkan dengan jenis pesawat lainnya dijelaskan disini oleh Kapten Tadashi Nakajima:

> Alasannya adalah karena jumlah pesawat pengebom dan pesawat serang Jepang semakin berkurang, sehingga kami terpaksa mengandalkan pesawat tempur. Namun, tentu saja, para pilot pesawat tempur tidak terlatih untuk melakukan serangan pengeboman; oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini dianggap adalah dengan memerintahkan mereka untuk menabrakkan diri, baik pesawat maupun tubuh mereka ke kapal-kapal musuh.
> (Holmes, 485)

Setiap sasaran milik musuh dianggap sebagai target yang sah. Sasaran yang paling diincar adalah kapal induk, namun pertahanan udara kapal-kapal tersebut, serta kapal perang besar lainnya membuatnya jarang tenggelam atau bahkan mengalami kerusakan parah. Sasaran yang jauh lebih umum adalah kapal-kapal yang tidak dapat membela diri, seperti kapal tanker bahan bakar. Bahkan kapal rumah sakit pun, yang melanggar Konvensi Jenewa, turut menjadi sasaran. Kapal rumah sakit *Comfort* dihantam oleh pesawat *kamikaze* pada bulan April 1945. Serangan tersebut menewaskan 30 orang dan melukai 33 orang lainnya di atas kapal, yang sebagian besar merupakan pasien.

### Roket, Perahu, & Kapal Selam Serangan

*Kamikaze* tidak hanya menggunakan pesawat tempur. Terdapat pula bom *Baka*, sebuah pesawat kecil yang digerakkan oleh sistem roket (namun tetap dikemudikan oleh manusia menuju sasarannya), yang bagian hidungnya memuat bahan peledak seberat 2.600 pon (1.200 kg) atau lebih. Nama *Baka*, sebutan nama yang diberikan oleh personel militer AS untuk perangkat ini, dapat diartikan dengan kata-kata 'orang bodoh' dalam bahasa Jepang. Pihak Jepang sendiri memberikan nama yang lebih puitis untuk mesin bunuh diri ini, yaitu *ohka* ('bunga sakura') atau *jinrai* ('petir').

[ ![Japanese Baka Bomb](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/22117.png?v=1788933974-1788934034) Bom Baka Jepang Imperial War Museums (CC BY-NC-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/22117/japanese-baka-bomb/ "Japanese Baka Bomb")Bom *Baka* dibawa menuju sasaran dengan cara dipasang pada pesawat induk, lalu dilepaskan untuk menempuh jarak sekitar 12 mil (19 km) terakhir secara mandiri. Bom Baka mampu mencapai kecepatan puncak yang mengesankan, yakni 580 mil per jam (933 km/jam) saat menukik, sehingga sulit untuk ditembak jatuh, namun, hal ini juga menjadi kelemahan karena pilot sangat kesulitan mengendalikan arahnya. Bom *Baka*, yang pertama kali digunakan dalam pertempuran pada bulan Maret 1945, tidak terlalu sukses, sebagai contoh, dalam Pertempuran Okinawa, hanya satu kapal Sekutu yang berhasil ditenggelamkan oleh senjata semacam itu.

Metode *kamikaze* lainnya mencakup serangan terhadap kapal musuh menggunakan perahu kecil bermuatan bahan peledak, kapal selam mini, dan torpedo berawak. Perahu motor bermuatan bahan peledak—yang oleh Angkatan Laut Jepang disebut *Shinyo* yang berarti 'gempa laut' memiliki panjang bervariasi antara 16 hingga 21 kaki (5 hingga 6 meter). Salah satu variasinya adalah *Maru-ni* yang berukuran serupa, yang menjatuhkan bom laut untuk merusak kapal selam musuh.

Kapal selam mini digunakan oleh banyak angkatan laut selama Perang Dunia II, namun angkatan laut Jepang menggunakan versi *kamikaze*. *Kairyu* ('Naga Laut') memiliki panjang 56 kaki (17 m) dan dioperasikan oleh dua orang. *Koryu* ('Naga Bersisik') yang lebih besar memiliki panjang 86 kaki (26,2 m) dan diawaki oleh dua hingga lima orang. Kapal-kapal selam ini meluncurkan torpedo dari jarak dekat atau bagian haluannya diisi dengan bahan peledak untuk menghantam langsung kapal musuh.

erakhir, torpedo berawak, yang juga digunakan oleh angkatan laut negara lain, diadaptasi untuk misi kamikaze. Torpedo yang disebut *Kaiten* ("belut laut") ini diperbesar ukurannya agar seorang pengemudi dapat duduk tegak dan melihat ke luar melalui menara komando kecil untuk mengarahkan senjata tersebut. Torpedo berawak dikerahkan untuk pertama kalinya pada bulan November 1944 dan dalam Pertempuran Iwo Jima, dan lagi di Okinawa. Walaupun mereka berhasil melumpuhkan sejumlah kapal musuh, tak satu pun dari metode-metode tersebut tergolong sangat berhasil.

[ ![Kamikaze Zero & USS Missouri](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/22002.png?v=1785746333-1785746921-3kv66jfp) Kamikaze Zero & USS Missouri Imperial War Museums (CC BY-NC-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/22002/kamikaze-zero--uss-missouri/ "Kamikaze Zero & USS Missouri")### Pertahanan yang Sukses Terhadap Serangan Kamikaze

Serangan *kamikaze* sangat sulit untuk dilawan, terutama karena tidak selalu jelas di tengah aksi bahwa pesawat atau kapal akan digunakan dengan cara ini. Letnan Frank Manson menjelaskan masalah tersebut:

> …Anda tidak bisa memprediksi apa yang akan dilakukan pilot di menit-menit terakhir, apakah dia akan berbelok, bagaimana penilaiannya, apakah dia akan mencoba menabrak garis air, apakah dia akan mencoba menabrak anjungan, atau apakah dia akan menabrak kapal Anda atau kapal lain di dekatnya. Tapi itu adalah bom manusia, itulah adanya, dan di dalamnya terdapat otak manusia.
> (Holmes, 493)

Serangan *kamikaze* sering dilakukan secara berkelompok. Beberapa pesawat akan menyerang satu target, masing-masing datang dari arah yang berbeda dan dengan sudut penurunan yang berbeda. Letnan Manson berada di atas kapal perusak USS *Laffey* ketika kapal itu diserang oleh pilot *kamikaze* (tetapi tidak tenggelam):

> Serangan ini berlangsung selama tujuh puluh hingga sembilan puluh menit… Ada dua puluh enam pesawat yang melakukan serangan bunuh diri terhadap kapal kami dan tujuh pesawat ditembak jatuh oleh penembak kami dan lima belas berhasil meleset dari kapal dan kami benar-benar terkena, terkena langsung, oleh empat pesawat.
> (Holmes, 494)

Selama Pertempuran Okinawa, sekitar 1.900 serangan *kamikaze* dilakukan terhadap kapal-kapal Sekutu. Gelombang serangan ini disebut oleh militer Jepang sebagai *kikusui* atau 'krisan terapung', diambil dari nama salah satu bunga yang paling dihargai dalam budaya Jepang. Meskipun demikian, Sekutu memenangkan pertempuran penting dalam Perang Pasifik ini.

[ ![P-51 Mustangs, 1944](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/21949.png?v=1784327657-1784224124) Pesawat P-51 Mustang, 1944 USAAF - IWM (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/21949/p-51-mustangs-1944/ "P-51 Mustangs, 1944")Perjuangan untuk menghentikan pilot *kamikaze* mencapai target mereka menjadi lebih efisien dari waktu ke waktu karena pertahanan kapal perang Sekutu yang lebih terorganisir dan lebih intensif. Kapal perang pengawal dikerahkan untuk menggunakan radar mereka sebagai sistem peringatan dini bagi armada utama di belakang. Tembakan anti-pesawat dari kapal angkatan laut mulai menggunakan alat bidik otomatis yang dapat mengikuti target yang bergerak cepat. Peluru peledak khusus dengan sumbu jarak dekat dikembangkan, yang secara harfiah meledakkan pesawat yang datang dari langit.

Pesawat pengebom Sekutu secara khusus menargetkan lapangan terbang Jepang, menghancurkan pesawat *kamikaze* sebelum mereka dapat lepas landas dan memastikan landasan udara tidak akan beroperasi lagi dalam waktu dekat. Ini adalah perkembangan penting, karena kapal induk Jepang tidak pernah digunakan untuk meluncurkan pesawat *kamikaze*, meskipun mereka kadang-kadang mengangkut pesawat-pesawat ini dari satu pangkalan darat ke pangkalan darat lainnya. Di atas semua keuntungan tersebut, statistik pentingnya adalah bahwa Jepang memiliki ratusan pesawat *kamikaze,* tetapi mereka menghadapi ribuan pesawat tempur Sekutu yang melindungi kapal-kapal induk mereka di bawah.

### Penilaian

Lebih dari 4.000 pilot Jepang tewas dalam misi *kamikaze* selama perang. Pada akhirnya, kampanye *kamikaze* tidak efektif. Sekutu terus mendorong pasukan Jepang kembali ke pulau-pulau utama mereka. Secara keseluruhan, 47 kapal Sekutu tenggelam dan 300 rusak akibat serangan pilot *kamikaze*, tetapi jumlah ini relatif kecil dalam skema besar Perang Pasifik. Sebelas kapal induk AS dihantam pesawat *kamikaze* selama Perang Pasifik, tetapi, berkat tim perbaikan angkatan laut yang sangat baik, sebagian besar kembali beroperasi hanya dalam beberapa bulan.

Yang penting, bahkan jika pesawat *kamikaze* berhasil menembus pertahanan dan mengenai kapal perang, ukuran bom yang khas yaitu 551 lb dan fakta bahwa bom tersebut hanya mengenai target pada kecepatan terbang pesawat (bukan kecepatan yang jauh lebih tinggi yang akan dicapai jika dijatuhkan dari ketinggian) berarti bahwa jarang sekali pilot *kamikaze* berhasil menembus dek bawah dan menenggelamkan kapal yang lebih besar. Sebagian besar kerusakan terbatas pada struktur atas dan dek atas, yang dapat diperbaiki relatif cepat.

[ ![Kamikaze Damage, USS Saratoga](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/22118.png?v=1788934295-1788934471) Kerusakan Akibat Serangan Kamikaze, USS Saratoga Mark Cartwright (CC BY-NC-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/22118/kamikaze-damage-uss-saratoga/ "Kamikaze Damage, USS Saratoga")Taktik *kamikaze* paling berhasil pada awalnya, sebelum Sekutu menyadari bahwa pilot sengaja menabrakkan pesawat mereka meskipun pesawat tersebut tidak rusak. Pada Pertempuran Filipina, ketika serangan *kamikaze* pertama kali digunakan dalam jumlah yang signifikan, 27% dari serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada kapal-kapal Sekutu. Pada Pertempuran Okinawa, pertempuran besar terakhir perang, tingkat keberhasilannya telah turun menjadi hanya 15%. Bahkan mereka yang berhasil menembus pertahanan biasanya hanya merusak kapal-kapal kecil, seperti kapal tanker bahan bakar, kapal kargo, dan kapal pendukung yang kurang terlindungi, yang semuanya jauh lebih mudah diganti daripada kapal induk dan kapal perang.

Fakta yang paling penting dalam menilai efektivitas misi *kamikaze* adalah bahwa armada Sekutu sama sekali tidak terhambat dalam pengepungan Jepang yang tanpa henti. Generasi muda militer Jepang telah dikorbankan dengan sia-sia. Kemenangan Sekutu dalam Perang Dunia II datang pada Agustus 1945, bukan dari operasi di permukaan laut, tetapi dengan menjatuhkan dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki dari ketinggian yang bahkan pilot *kamikaze* pun akan kesulitan untuk mencapainya.

#### Editorial Review

This human-authored article has been reviewed by our editorial team before publication to ensure accuracy, reliability and adherence to academic standards in accordance with our [editorial policy](https://www.worldhistory.org/static/editorial-policy/).

## Daftar Pustaka

- [Boatner, Mark. *The Biographical Dictionary of World War II.* Presidio Press, 1996.](https://www.worldhistory.org/books/0891415483/)
- [Dear, I. C. B. & Foot, M. R. D. *The Oxford Companion to World War II.* Oxford University Press, 1995.](https://www.worldhistory.org/books/0198662254/)
- [Holmes, Richard. *The World at War.* Ebury Press, 2026.](https://www.worldhistory.org/books/0091917514/)
- [Lardas, Mark & Tooby, Adam. *The Kamikaze Campaign 1944–45.* Osprey Publishing, 2022.](https://www.worldhistory.org/books/1472848446/)
- [Marston, Daniel & Marston, Daniel. *The Pacific War.* Osprey Publishing, 2010.](https://www.worldhistory.org/books/B01DPPTNAE/)
- [Smurthwaite, David. *The Pacific War Atlas 1941-1945.* Facts on File, 2000.](https://www.worldhistory.org/books/0816032858/)

## Tentang Penulis

Mark adalah Direktur Penerbitan WHE dan memiliki gelar MA dalam Filsafat Politik (Universitas York). Ia adalah seorang peneliti, penulis, sejarawan, dan editor penuh waktu. Minat khususnya meliputi seni, arsitektur, dan penemuan ide-ide yang dimiliki bersama oleh semua peradaban.

## Tautan Eksternal

- [The Divine Wind: Japan's Kamikaze Pilots of World War II ...](https://www.nationalww2museum.org/war/articles/japans-kamikaze-pilots-wwii)
- [Battle of Okinawa | The National WWII Museum | New Orleans](https://www.nationalww2museum.org/war/topics/battle-of-okinawa)
- [Operation Ten-Go: April 6 – June 22, 1945](https://www.history.navy.mil/content/history/museums/nmusn/explore/photography/wwii/wwii-pacific/okinawa/operation-ten-go.html)
- [How effective was the Japanese kamikaze campaign?](https://www.iwm.org.uk/history/second-world-war/war-against-japan/how-effective-was-the-japanese-kamikaze-campaign)

## Sitasi Karya Ini

### APA
Cartwright, M. (2026, September 15). Mengapa Serangan Kamikaze Jepang Gagal di Perang Dunia ke-II. (C. Pasaribu, Penerjemah). *World History Encyclopedia*. <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-2988/mengapa-serangan-kamikaze-jepang-gagal-di-perang-d/>
### Chicago
Cartwright, Mark. "Mengapa Serangan Kamikaze Jepang Gagal di Perang Dunia ke-II." Diterjemahkan oleh Callysta Pasaribu. *World History Encyclopedia*, September 15, 2026. <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-2988/mengapa-serangan-kamikaze-jepang-gagal-di-perang-d/>.
### MLA
Cartwright, Mark. "Mengapa Serangan Kamikaze Jepang Gagal di Perang Dunia ke-II." Diterjemahkan oleh Callysta Pasaribu. *World History Encyclopedia*, 15 Sep 2026, <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-2988/mengapa-serangan-kamikaze-jepang-gagal-di-perang-d/>.

## Lisensi &amp; Hak Cipta

Dikirim oleh [Callysta Pasaribu](https://www.worldhistory.org/user/callysta.pasari/ "User Page: Callysta Pasaribu"), dipublikasikan pada 15 September 2026. Silakan periksa sumber aslinya untuk informasi hak cipta. Harap diperhatikan bahwa konten yang ditautkan dari halaman ini mungkin memiliki ketentuan lisensi yang berbeda.

