---
title: Pakaian di Era Victoria: Mendapatkan Keseimbangan yang Tepat antara Bahan, Bentuk, dan Kilauan
author: Mark Cartwright
translator: Callysta Pasaribu
source: https://www.worldhistory.org/trans/id/2-2879/pakaian-di-era-victoria/
format: machine-readable-alternate
license: Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike (https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/)
updated: 2026-10-09
---

# Pakaian di Era Victoria: Mendapatkan Keseimbangan yang Tepat antara Bahan, Bentuk, dan Kilauan

_Ditulis oleh [Mark Cartwright](https://www.worldhistory.org/user/markzcartwright/)_
_Diterjemahkan oleh [Callysta Pasaribu](https://www.worldhistory.org/user/callysta.pasari)_

Siluet yang mencolok, kain yang mewah, warna-warna cerah, banyak hiasan, dan berbagai macam aksesori yang rumit mendefinisikan pakaian periode Victoria, yaitu selama masa pemerintahan Ratu Victoria, yang berlangsung selama tujuh dekade di abad ke-19. Ini adalah masa perubahan dinamis karena Revolusi Industri mengakibatkan perluasan kelas menengah. Masyarakat Victoria dibujuk untuk membelanjakan pendapatan mereka yang terus meningkat melalui iklan massal yang berkisar dari suplemen warna yang indah di majalah-majalah populer hingga poster-poster mencolok di stasiun kereta api. Orang-orang dari semua kelas sangat ingin mengenakan pakaian yang tepat untuk kesempatan yang tepat, tetapi sengaja tidak melakukannya menjadi cara untuk mengekspresikan individualitas dan ketidaksesuaian dengan aturan sosial dan ekspektasi gender yang agak kaku yang mewarnai abad ke-19.

[ ![Purple Victorian Dress](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/21523.jpg?v=1791716827-1791528736) Gaun Victoria Ungu Victoria & Albert Museum, London (CC BY-NC-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/21523/purple-victorian-dress/ "Purple Victorian Dress")### Pentingnya Mode

Tren mode baru menyebar dengan cepat berkat bentuk transportasi dan komunikasi baru, dan mengikuti tren tersebut menjadi, untuk pertama kalinya, sebuah cita-cita bersama. Meskipun masyarakat Victoria mencakup kontras yang besar antara yang kaya dan yang miskin, perkembangan lain pada periode tersebut adalah keinginan untuk berpakaian sedikit di atas status sosial seseorang sehingga seorang pegawai berusaha berpakaian sebaik manajernya, seorang pedagang dapat meniru gaya busana orang yang mandiri, dan seorang asisten toko mungkin berusaha, mungkin di akhir pekan, untuk berpakaian seperti salah satu pelanggan wanitanya. Bahkan bagi mereka yang tidak mengikuti tren mode, pakaian tentu menjadi aspek penting dalam kehidupan sehari-hari dan harapan akan penampilan publik yang layak, untuk semua kelas, menjadi sesuatu yang tidak dapat diabaikan oleh sebagian besar orang.

### Pakaian Wanita

Pakaian wanita pada periode ini ditandai dengan siluet yang tegas, bahan-bahan inovatif dan berkualitas tinggi (seperti sutra, kasmir, bulu anjing laut, dan kain muslin bersulam rumit), tambahan dekoratif seperti manset dan kerah, serta keinginan untuk mencocokkan pakaian dengan aksesori. Pakaian kasual yang lebih praktis dikembangkan untuk saat orang-orang tinggal di rumah atau melakukan aktivitas luar ruangan tertentu, seperti memanah, menembak, dan menunggang kuda. Penemuan sepeda dengan roda karet juga berarti pakaian diadaptasi untuk moda transportasi populer ini. Singkatnya, mengenakan pakaian yang tepat untuk kesempatan yang tepat menjadi tren mode tersendiri.

Beberapa komentator berpendapat bahwa pakaian wanita di era Victoria, dengan pembatasan yang dibuat-buat pada tubuh, dirancang untuk memperkuat pandangan populer kaum pria bahwa peran seorang wanita harus terbatas pada rumah dan keluarga. Wanita mengenakan korset tulang ikan paus untuk mengencangkan bentuk tubuh di bagian depan dan menciptakan pinggang yang ramping, sementara, sebaliknya, rok mengembang digunakan untuk memperbesar siluet di bagian belakang tubuh. Upaya untuk mencapai pinggang ideal 20 inci (51 cm) terkadang dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang pemakainya. Lengan baju menjadi kurang rumit tetapi lebih ketat, garis leher sedikit lebih rendah pada pakaian formal dan sedikit lebih tinggi pada pakaian sehari-hari, bahu miring, dan pinggul melebar. Detail dibuat menggunakan lipatan, lis, dan jahitan yang rumit. Warna-warna yang disukai pada tahun 1840-an dan 1850-an adalah warna pastel lembut seperti hijau kusam, biru, abu-abu, ungu, dan merah muda. Untuk pakaian yang kurang formal, gaun bermotif menjadi sama populernya dengan gaun tenun.

[ ![Victorian Crinoline Cage](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/21522.jpg?v=1768314128-1767948975) Sangkar Rok Krinolin Victoria Victoria & Albert Museum, London. (CC BY-NC-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/21522/victorian-crinoline-cage/ "Victorian Crinoline Cage")Seiring berjalannya abad, pakaian wanita menjadi kurang ketat; khususnya, gaun yang umum dengan kancing di belakang ditantang oleh jaket dan rok terpisah dengan kancing di depan. Inovasi lainnya adalah adanya jaket yang dapat ditukar dengan rok yang sama. Rok menjadi semakin lebar sehingga membutuhkan lebih banyak struktur penyangga di bawahnya, situasi yang dapat menyebabkan seorang wanita mengenakan enam rok dalam yang kaku. Metode yang lebih sederhana untuk melebarkan rok dirancang, yaitu 'krinolin', penyangga berbentuk lingkaran yang terbuat dari baja yang menyerupai sangkar burung raksasa. Alat ini banyak diejek dalam kartun pada periode tersebut, tetapi keterjangkauannya berarti wanita dengan status sosial yang lebih rendah dapat memakainya. Lebar gaun, mungkin tak terhindarkan, secara bertahap menyempit hingga tahun 1870-an, setidaknya untuk pakaian yang kurang formal, meskipun bahkan saat itu, semacam kompensasi dilakukan dengan memperbesar bagian atas lengan menjadi mengembang besar. Dengan masuknya mesin-mesin baru ke industri pakaian, tambahan dekoratif seperti renda dan sulaman menjadi semakin mewah dan terjangkau.

Sejak akhir tahun 1850-an, setelah penemuan pewarna sintetis, warna pakaian menjadi jauh lebih cerah. Pria konservatif terkadang terkejut dengan warna ungu baru yang indah dan warna turquoise yang cerah yang dikenakan para wanita. Warna-warna mencolok ini juga sering terlihat pada pita dan hiasan, seiring dengan berkembangnya tren untuk menciptakan efek kontras baik dalam warna maupun bahan. Jubah, selendang, dan syal praktis menjadi populer. Sepatu wanita dimaksudkan untuk terlihat anggun dan sebaiknya tersembunyi di balik gaun. Sepatu bot pendek dengan hak rendah populer sebagai pakaian kasual, begitu pula stoking bergaris, meskipun seharusnya tidak ada yang melihatnya.

[ ![The Croquet Scene by Homer](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/21525.png?v=1767952260-1767952389) Adegan Permainan Kriket karya Homer Winslow Homer (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/21525/the-croquet-scene-by-homer/ "The Croquet Scene by Homer")Pada tahun 1890-an, tren bagi wanita untuk mengenakan pakaian bergaya 'maskulin' telah dimulai - seperti kemeja, dasi, dan jaket yang pas badan - dan bahan-bahan seperti wol dan tweed, terutama saat melakukan olahraga luar ruangan. Ini juga merupakan cara bagi wanita untuk menegaskan individualitas dan kemandirian mereka dari industri yang seringkali berfokus pada menjadikan pakaian wanita dan pemakainya hanya sebagai barang dekorasi.

### Pakaian Pria

Pakaian pria di era Victoria biasanya bertujuan untuk menciptakan sosok yang elegan dan ramping (walaupun ilusi tersebut tidak selalu berhasil). Jas panjang (frock coat) mendominasi. Jas dengan lengan ketat ini memiliki ekor panjang yang mencapai lutut dan biasanya terbuat dari wol serta menggunakan warna gelap. Alternatifnya adalah jas pagi (morning coat) dengan potongan depan yang melengkung ke belakang. Celana panjang ramping lebih disukai daripada celana pendek oleh mereka yang sadar mode, dan biasanya berwarna pucat atau bahkan bergaris, yang kontras dengan jas yang lebih sederhana di atasnya. Penemuan setrika celana membuat lipatan tajam di bagian belakang dan depan menjadi fitur penting celana dan indikator bagi pengagum bahwa seorang pria 'berpenampilan rapi'. Kesan yang sama baiknya dicapai melalui linen yang putih bersih dan sangat kaku.

Seperti halnya mode pakaian wanita, pakaian pria menjadi kurang ketat sepanjang abad tersebut. Jaket 'lounge' dengan perpaduan potongan formal namun lebih longgar, dikenakan di dalam ruangan. Pria profesional mulai mengenakan jaket dan celana panjang yang serasi, setelan bisnis pertama. Kerah kemeja dulunya tinggi dan sering diikat dengan syal sutra, yang selama beberapa dekade secara bertahap mengecil hingga lebih mirip dasi modern. Di rumah, jaket merokok atau jubah tidur dengan potongan dan bahan yang nyaman sering dikenakan untuk melindungi pakaian dalam dari bau tembakau.

[ ![Victorian Menswear](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/21524.png?v=1767951138-1767951285) Pakaian Pria Era Victoria Unknown Artist (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/21524/victorian-menswear/ "Victorian Menswear")Meskipun olahraga dan aktivitas akhir pekan seperti berperahu memberi pria kesempatan untuk mengenakan pakaian dan desain yang lebih cerah, melalui rompi lah seorang pria benar-benar dapat memamerkan selera fesyennya. Charles Dickens adalah pemakai rompi mewah dan sangat berwarna-warni yang terkenal. Sutra, brokat, pola 'paisley' atau bahkan tartan dapat dengan gembira dipamerkan saat seorang pria memasukkan tangannya ke saku celana untuk membuka bagian depan jaket. Kancing adalah bentuk dekorasi tambahan yang jelas, terutama mutiara. Popularitas jam saku menginspirasi para desainer sehingga rompi sekarang memungkinkan pemakaian jam tangan dan rantai emas, sebuah mode yang dipopulerkan oleh suami Victoria, Albert.

### Aksesoris

Aksesori penting untuk pria dan wanita meliputi topi, sarung tangan, sapu tangan, kipas, payung, tongkat, dan dompet. Topi yang lebih halus, biasanya diikat di bawah dagu, terbuat dari jerami, sutra, atau beludru dan diperindah dengan bunga, bulu, dan pita. Sepanjang tahun 1880-an, topi wanita menjadi lebih tinggi, dan dekorasinya lebih mewah; bahkan, mode yang tak pernah puas akan bulu-bulu eksotis menyebabkan terbentuknya Society for the Protection of Birds pada tahun 1889. Bentuk topi pria yang paling populer di pertengahan abad adalah topi tinggi yang terbuat dari bulu berang-berang yang difelt, meskipun dari bahan pokok ini akhirnya berkembang menjadi topi bowler yang lebih umum.

Meskipun saat ini hanya sedikit orang yang mengencangkan korset mereka, membuka payung berenda, atau mengenakan rompi mencolok, mode Victoria tetap hidup di sudut-sudut tertentu, terutama di kalangan penggemar burlesque dan steampunk. Yang mungkin telah hilang adalah cita-cita era Victoria untuk mengumpulkan beragam pakaian yang semarak dan dirancang untuk dikenakan dalam kegiatan tertentu di tempat tertentu dengan orang-orang tertentu.

#### Editorial Review

This human-authored article has been reviewed by our editorial team before publication to ensure accuracy, reliability and adherence to academic standards in accordance with our [editorial policy](https://www.worldhistory.org/static/editorial-policy/).

## Daftar Pustaka

- [Corey, Melinda & Ochoa, George. *The Encyclopedia of the Victorian World.* Henry Holt & Co, 1996.](https://www.worldhistory.org/books/0805026223/)
- [Corsets, crinolines and bustles: fashionable Victorian underwear · V&A](https://www.vam.ac.uk/articles/corsets-crinolines-and-bustles-fashionable-victorian-underwear "Corsets, crinolines and bustles: fashionable Victorian underwear · V&A"), accessed 9 Jan 2026.
- [Shrimpton, Jayne. *Victorian Fashion.* Shire Publications, 2016.](https://www.worldhistory.org/books/0747815089/)
- [The Revolution in Victorian Fashion | Ashmolean Museum](https://www.ashmolean.org/article/the-colour-revolution-in-victorian-fashion "The Revolution in Victorian Fashion | Ashmolean Museum"), accessed 9 Jan 2026.
- [The Victoria & Albert Museum](https://www.vam.ac.uk/?srsltid=AfmBOoreZxourjvd65V4zsZgrExMXfN7bNaNvcBIq8mus8-EehGmi9Lv "The Victoria & Albert Museum"), accessed 9 Jan 2026.
- [Wilson, A. N. *The Victorians.* W W Norton & Co Inc, 2003.](https://www.worldhistory.org/books/0393049744/)

## Tentang Penulis

Mark adalah Direktur Penerbitan WHE dan memiliki gelar MA dalam Filsafat Politik (Universitas York). Ia adalah seorang peneliti, penulis, sejarawan, dan editor penuh waktu. Minat khususnya meliputi seni, arsitektur, dan penemuan ide-ide yang dimiliki bersama oleh semua peradaban.

## Tautan Eksternal

- [Corsets, crinolines and bustles: fashionable Victorian underwear · V&A](https://www.vam.ac.uk/articles/corsets-crinolines-and-bustles-fashionable-victorian-underwear)
- [THE REVOLUTION IN VICTORIAN FASHION](https://www.ashmolean.org/article/the-colour-revolution-in-victorian-fashion)
- [Victorian fashion history: 1890s](https://www.vam.ac.uk/articles/victorian-fashion-history-1890s)

## Sitasi Karya Ini

### APA
Cartwright, M. (2026, October 09). Pakaian di Era Victoria: Mendapatkan Keseimbangan yang Tepat antara Bahan, Bentuk, dan Kilauan. (C. Pasaribu, Penerjemah). *World History Encyclopedia*. <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-2879/pakaian-di-era-victoria/>
### Chicago
Cartwright, Mark. "Pakaian di Era Victoria: Mendapatkan Keseimbangan yang Tepat antara Bahan, Bentuk, dan Kilauan." Diterjemahkan oleh Callysta Pasaribu. *World History Encyclopedia*, October 09, 2026. <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-2879/pakaian-di-era-victoria/>.
### MLA
Cartwright, Mark. "Pakaian di Era Victoria: Mendapatkan Keseimbangan yang Tepat antara Bahan, Bentuk, dan Kilauan." Diterjemahkan oleh Callysta Pasaribu. *World History Encyclopedia*, 09 Oct 2026, <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-2879/pakaian-di-era-victoria/>.

## Lisensi &amp; Hak Cipta

Dikirim oleh [Callysta Pasaribu](https://www.worldhistory.org/user/callysta.pasari/ "User Page: Callysta Pasaribu"), dipublikasikan pada 09 October 2026. Silakan periksa sumber aslinya untuk informasi hak cipta. Harap diperhatikan bahwa konten yang ditautkan dari halaman ini mungkin memiliki ketentuan lisensi yang berbeda.

