---
title: Pakaian di Era Elizabeth
author: Mark Cartwright
translator: Janet Estherina
source: https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1577/pakaian-di-era-elizabeth/
format: machine-readable-alternate
license: Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike (https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/)
updated: 2026-09-02
---

# Pakaian di Era Elizabeth

_Ditulis oleh [Mark Cartwright](https://www.worldhistory.org/user/markzcartwright/)_
_Diterjemahkan oleh [Janet Estherina](https://www.worldhistory.org/user/janetestherina)_

Pakaian di era Elizabeth (1558-1603 M) menjadi jauh lebih berwarna, rumit, dan mencolok dari masa-masa sebelumnya. Ratu Elizabeth I (berkuasa 1558-1603 M) sendiri merupakan pengikut mode yang setia, dan istana serta bangsawannya juga mengikutinya. Pakaian adalah penunjuk penting status sehingga yang mampu membiayainya berhati-hati untuk mengenakan warna dan bahan yang tepat dan gaya terbaru dari Eropa benua. Brokat tebal, stoking, jaket pendek yang ketat, gaun panjang mengembang berhias mutiara dan permata, celana selutut, kerah renda kaku dari linen, dan topi berbulu merupakan unsur-unsur utama dari pakaian orang-orang kaya. Sementara itu, orang biasa berusaha untuk mengikuti tren baru sebisa yang mereka mampu menggunakan bahan-bahan yang lebih murah, tetapi mereka yang mencoba untuk berpakaian melampaui posisi mereka harus waspada terhadap otoritas yang akan mendenda mereka dan menyita barang yang melanggar.

### Catatan Sejarah

Merekonstruksi apa yang secara pasti dikenakan orang-orang dan kapannya memiliki masalah tersendiri. Kain, tentunya, tidak mampu bertahan pada waktu terbaik. Ada sedikit contoh langka yang tersisa seperti kemeja dan celana wol milik seorang pria yang meninggal jatuh ke rawa gambut di Kepulauan Shetland. Tetapi, barang seperti ini jarang dan sedikit ada. Selain kerusakan oleh waktu, orang di era Elizabeth biasanya memperbaiki, memotong dan menggunakan ulang pakaian untuk memperpanjang umur mereka sebanyak mungkin. Pakaian yang paling jelek biasanya digunakan sebagai kain lap. Akibatnya, pengetahuan kita soal pakaian era Elizabeth biasanya datang dari sumber-sumber tidak langsung seperti deskripsi tertulis, hukum kemewahan, dan penggambaran dalam seni.

[ ![George Clifford, Earl of Cumberland](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/12435.jpg?v=1734530526) George Clifford, Earl of Cumberland Nicholas Hilliard (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/12435/george-clifford-earl-of-cumberland/ "George Clifford, Earl of Cumberland")Untungnya, rekaman visual untuk era Elizabeth sangat kaya dalam segi potret sehingga untuk orang-orang kelas atas ada banyak informasi untuk pakaian yang dikenakan setidaknya untuk acara khusus. Ilustrasi dari buku-buku kontemporer juga adalah sumber berharga lainnya, terutama untuk orang-orang yang lebih miskin. Bagi mata modern, pakaian era Elizabeth terlihat kaku dan berat, tetapi juga harus diingat bahwa di Inggris pada abad ke-16 dan dengan tidak adanya pemanas ruangan yang cukup dimanapun, cara terbaik untuk tetap hangat adalah dengan pakaian.

### Perdagangan Kain

Pertambahan populasi Inggris di abad ke-16 mendorong perkembangan serupa di industri kain dan busana. Wol adalah bahan utama dan ada empat domba untuk setiap orang di Inggris pada 1550-an Masehi. Pada saat yang bersamaan, meningkatnya kontak dengan Eropa Utara juga menyebabkan penyebaran ide-ide dan gaya baru, menghasilkan permintaan untuk warna yang lebih cerah dan bahan yang lebih ringan. Kain yang belum diolah dan diwarnai sebelumnya adalah ekspor Inggris yang paling penting, terutama ke Antwerp. Tetapi, inflasi dan disrupsi terhadap perdagangan internasional yang disebabkan oleh Perang Inggris-Spanyol menyebabkan penurunan di paruh kedua abad ke-16 M.

Pembuatan pakaian untuk pasar domestik menjadi lebih rumit dengan lebih banyaknya penggunaan mesin-mesin kecil untuk membantu beberapa tahapan dalam prosesnya, seperti *Dutch loom* dan mesin rajut *stocking-frame*. Kain wol, felt, dan worsted yang dulunya merupakan bahan pokok tergantikan dengan bahan-bahan yang lebih ringan, terutama katun, linen, fustian (katun dan linen), dan terkadang sutra - dan bahkan kualitas dan tekstur bahan-bahan tradisional menjadi lebih halus. Pemintal benang, penenun, dan tukang celup bekerja secara terpisah dan biasanya di rumah mereka. Pada saat itu belum ada pabrik, bahkan jika pekerja adalah semi-profesional dan beberapa rumah tangga yang berbeda mungkin memproduksi untuk satu pedagang skala besar, yang disebut *clothier*.

[ ![Elizabeth I Armada Portrait](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/12284.jpg?v=1774567748-1739980188) Potret Armada Elizabeth I George Gower (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/12284/elizabeth-i-armada-portrait/ "Elizabeth I Armada Portrait")Perbatasan Wales, Gloucestershire, Wiltshire dan Hampshire sudah lama memiliki reputasi sebagai tempat terbaik untuk pembuatan kain Inggris. Saat era Elizabeth terus berjalan, wilayah-wilayah seperti Anglia Timur dan Kent menerima imigran (terutama dari Belanda dan Italia) dengan keterampilan pembuatan kain, yang banyak meningkatkan kualitas produksi lokal. Pembuatan kain bahan campuran, yang lebih ringan ketimbang kain tradisional Inggris, meningkatkan permintaan baru, dan, karena bahan tersebut lebih cepat rusak, meningkatkan penjualan dalam jangka panjang. Jenis-jenis kain baru, atau ‘*new draperies*’ dikenal dengan banyak nama seperti *bays*, *says*, *serges*, *perpetuanas*, *shaloons*, dan *grosgraines*.

### Kaum Bangsawan

**Pakaian Pria**

Untuk pria, baju dalam linen (kemeja dan celana panjang) sering dibordir dan diberi hiasan renda. Pakaian luar dibuat dari semua bahan yang disebutkan di atas. Pilihan kain lainnya yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan karena harganya adalah beludru, damask (kain yang ditenun secara terperinci dari bahan yang beragam), dan sutra. Celana berukuran selutut (‘*Venetian breeches*’) atau sepaha (*trunkhose*), dan sering mengembang di paha atas dan pinggul; versi berikutnya memiliki kantong. Celana sering memiliki penutup kemaluan berbantalan di area selakangan. Terkadang dalam proporsi yang mengagumkan (tetapi tidak sebesar saat masa pemerintahan Henry VIII, 1509-1547), penutup kemaluannya bisa dilepaskan dengan kancing atau tali jika diperlukan. Pada akhir abad, benda ini digantikan dengan bukaan celana kancing atau tali.

Pakaian atas paling umum untuk pria adalah jaket pendek, kaku, dan ketat yang terbuat dari wol, kulit, atau kain tebal yang disebut doublet. Seperti sekarang, perubahan kecil menjadi tanda dari mode seperti keliman bawah doublet, yang awalnya lurus tetapi berkembang menjadi bentuk V dalam yang menunjuk ke bawah di depan. Beberapa doublet memiliki fitur yang aneh yang disebut peascod – bantalan lebih di bagian perut yang meniru baju zirah tetapi malah membuat pemakainya terlihat angkuh seperti burung merak. Bantalan-bantalan seperti ini, yang disebut ‘*bombast*’, dibuat dari wol, kapas, atau rambut kuda dan digunakan di bagian lain untuk membuat bentuk-bentuk modis pada pakaian luar. Kerah dan manset yang bisa dilepas juga sangat modis dan dibuat dari linen kaku atau renda. Selama abad terus berjalan renda ini menjadi semakin ganjil dan dan perlu ditopang kawat.

[ ![Robert Dudley, Earl of Leicester](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/12303.jpg?v=1734530532) Robert Dudley, Earl of Leicester Steven van der Meulen (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/12303/robert-dudley-earl-of-leicester/ "Robert Dudley, Earl of Leicester")*Doublet* bisa saja memiliki lengan yang bisa dilepas dan ditutup dengan kait, tali, atau kancing. Bahunya bisa memiliki sayap dan hiasan yang digantungkan di bagian pinggang yang disebut ‘*pickadills*’. Saat cuaca dingin, jaket tanpa lengan yang disebut jerkin bisa dikenakan di atas *doublet*, dan, diatasnya lagi, mantel dengan panjang, potongan, dan bahan yang beragam. Jubah berbentuk setengah lingkaran juga dapat dikenakan. Celana dan pakaian atas sering memiliki potongan vertikal di beberapa tempat sehingga pakaian dalam atau lapisan dalam dapat menonjol sebagai hiasan.

Kulit adalah bahan yang populer untuk beberapa pakaian luar, sabuk, sarung tangan, topi, dan sepatu. Kulit terkadang dihias dengan ukiran. Sepatu untuk pria biasanya berujung kotak dan tanpa hak. Alas kaki yang lebih awal berbentuk selop, tetapi gesper dan tali menjadi populer di akhir era Elizabeth. Para punggawa sering mengenakan sepatu selop mewah yang terbuat dari sutra atau beludru. Sepatu bot kulit dikenakan saat menunggang kuda.

Warna-warna sering dikontraskan dalam pakaian yang sama. Semua warna berasal dari pewarna alami, sehingga warna-warna yang umum untuk kaum bangsawan adalah merah, biru, kuning, hijau, abu-abu, dan cokelat. Karena pewarna alami sering memudar dengan cepat (walaupun pakaian luar sangat jarang dicuci dan biasanya hanya disisir), memakai warna paling terang menunjukkan bahwa orang tersebut memakai pakaian yang paling baru. Beberapa pewarna mahal untuk dibuat, seperti merah terang dan hitam, sehingga warna-warna ini adalah penanda kekayaan dan status lainnya. Kancing, biasanya berukuran kecil dan banyak jumlahnya, juga adalah penanda kekayaan lainnya, dengan yang paling murah terbuat dari kayu, tulang, atau tanduk dan yang lebih mewah terbuat dari emas, perak, atau timah. Begitu juga, sebagai ganti dari kancing pakaian bisa juga ditutup atau dipasang dengan mengikat pita melalui lubang-lubang yang berpasangan. Pita ini disebut ‘points’ dan ujungnya bisa dihias dengan potongan logam. Sebagai ganti kantong, pria dan wanita mengenakan ikat pinggang dimana tergantung dompet, pisau, dan pedang tipis untuk pria dan cermin, perlengkapan dandan, dan kipas untuk wanita.

[ ![Elizabethan Lady in Farthingale Dress.](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/12438.png?v=1758489065) Perempuan Era Elizabeth dalam Gaun Farthingale Unknown Artist (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/12438/elizabethan-lady-in-farthingale-dress/ "Elizabethan Lady in Farthingale Dress.")**Pakaian Wanita**

Perempuan bangsawan sering mengenakan gaun panjang yang tidak banyak berubah sejak Abad Pertengahan. Gaun *kirtle* pas di badan dan sangat panjang sehingga kaki pemakainya nyaris tertutup. Pakaian lainnya dikenakan di atas ini. Rok menggantung secara bebas pada awal pemerintahan Elizabeth, tetapi setelah itu berkembang tren untuk rok kaku berbentuk lonceng atau silinder. Bentuk ini dibuat dengan rangkaian lingkaran dalam baju luar atau pakaian dalam. Struktur kedua dikenal sebagai ‘*wheeled farthingale*’ dan ini memiliki gulungan berbantalan di sekitar pinggang untuk mendorong pakaian luar sehingga kain gaun tersebut jatuh tegak lurus.

Pilihan lain dari *kirtle* adalah mengenakan rangkaian rok ringan (*petticoats*) yang digabungkan dengan atasan (‘*bodice*’) yang biasanya busana kaku yang dibuat dari wol dan menonjolkan lingkar pinggang yang kecil. *Bodice* menopang atau bahkan mengekang tubuh bagian atas, dan dibuat kaku dengan memasukkan potongan tipis tulang insang ikan paus, kayu, dan logam. *Bodice* yang lebih mewah ditutup menggunakan kancing atau kait. Terkadang kayu penopang yang disebut ‘*busk*’ dipasang di bagian depan *bodice* dan ditahan di tempatnya dengan pita di tengah bagian dada (yang masih bertahan sampai sekarang di beberapa pakaian dalam). *Bodice* bisa dipasang di depan, samping, atau belakang. Seperti keliman rompi pria, garis leher gaun wanita juga beragam dalam potongannya. Pada pertengahan abad ke-16, potongan garis leher rendah, kemudian naik sejalan dengan waktu dan lalu turun lagi pada akhir abad. Perempuan bangsawan mengenakan lengan baju pada *bodice* mereka bila dikenakan sebagai pakaian luar.

Alternatif ketiga adalah mengenakan gaun yang pada intinya adalah rok dan *bodice* yang disambung dan dikenakan di atas pakaian dalam. Ini adalah pakaian paling mewah pada era Elizabeth dan biasanya dikenakan dengan lengan baju palsu dan dihias dengan mutiara, permata, dan brokat emas.

[ ![The Egerton Sisters](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/12437.jpg?v=1739980875-1739980891) Kakak Beradik Egerton Unknown Artist (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/12437/the-egerton-sisters/ "The Egerton Sisters")Anak-anak orang kaya biasanya berpakaian seolah mereka adalah orang dewasa kecil. Ditambah, anak laki-laki sampai umur lima atau enam tahun sering berpakaian seperti anak perempuan dengan banyak renda dan brokat.

### Orang Biasa

Orang-orang biasa mengenakan pakaian yang mirip dengan kaum bangsawan tetapi dibuat dengan lebih sederhana dan dengan bahan yang lebih murah. Para pekerja tentunya tidak mengenakan pakaian yang membatasi ketika mengerjakan tugas-tugas harian mereka. Bahan-bahan seperti linen yang lebih murah, kanvas linen, kanvas rami, dan lockram (dari rami kasar) digunakan untuk pakaian kerja sehari-hari yang perlu awet untuk dikenakan dan menghadapi kerusakan. Untuk alasan ini, keliman terkadang dibuat dari bahan yang lebih tahan lama supaya bisa lebih awet menghadapi kerusakan dan mudah diganti bila diperlukan untuk memperpanjang umur pakaian tersebut. Celemek dari kain tebal atau kulit juga dikenakan untuk melindungi pakaian. Untuk pakaian khusus, bahan mewah yang masih terjangkau adalah satin (kurang lebih sepuluh kali lebih murah daripada damask). Karena beberapa pewarna mahal, nuansa abu-abu dan cokelat adalah warna paling umum untuk pakaian kelas pekerja.

Penjual keliling dan pedagang lokal dapat menjual pakaian sederhana seperti stoking dan pakaian dalam. Untuk pakaian luar yang lebih rumit, penjahit khusus bisa membuat pakaian tersebut sesuai permintaan. Stoking longgar tetap populer dengan pria, walaupun bangsawan modis lebih menyukai celana pendek. Stoking pendek yang diikat dengan sabuk atau pita di lutut populer di semua kalangan. Perempuan kelas bawah terkadang memakai atasan tanpa lengan yang dipasang dengan tali, sesuatu yang tidak dikenakan oleh perempuan kelas atas. Topi wol atau linen juga sering dipakai, bahkan di dalam ruangan. Topi untuk orang kaya terkadang dibuat dari bulu (terutama berang-berang), sementara orang biasa memakai jerami, felt, atau kulit. Sepatu sama seperti yang disebutkan di atas tetapi pekerja terkadang memakai bot selutut dari kulit.

Sutra, pita, dan renda adalah barang mewah, tetapi bisa dengan mudah ditambahkan sedikit-sedikit pada pakaian biasa untuk membuatnya lebih menarik. Ini dilakukan terutama karena orang Inggris mengikuti tren mode dari Prancis dan Italia dimana orang kelas atas lebih menyukai pakaian yang mencolok. Tren untuk hiasan rumit menurun ke semua kelas.

### Mengendalikan Mode

Elizabeth adalah penguasa terakhir yang memberlakukan hukum kemewahan (khususnya di tahun 1559 dan 1597) untuk membatasi pengeluaran berlebihan untuk pakaian dan memastikan bahwa hanya kaum elit saja yang memakai baju terbaik. Ada kekhawatiran nyata bahwa laki-laki muda khususnya, menghabiskan terlalu banyak warisannya berusaha untuk mengikuti mode yang ditetapkan oleh orang-orang yang lebih kaya di masyarakat. Akibatnya, ada peraturan ketat yang mengatur siapa yang bisa mengenakan jenis pakaian, bahan, dan warna tertentu. Ada alasan lain untuk membatasi apa yang dipakai, antara lain pandangan agama Protestan yang meminta pakaian yang lebih sederhana, dan fakta bahwa pakaian yang lebih mewah dan indah biasanya datang dari luar negeri, sehingga berakibat buruk pada penjualan produk lokal yang lebih sederhana.

Contoh dari pembatasan antara lain: hanya earl dan yang berpangkat yang lebih tinggi yang dapat memakai kain emas, hanya keluarga kerajaan yang dapat memakai warna ungu, hanya orang-orang yang termasuk dalam peerage dan keluarganya dapat mengenakan pakaian wol yang dibuat di luar negeri. Pelayan dari orang-orang lebih rendah dari gentleman tidak dapat mengenakan bulu jenis apapun, dan orang-orang biasa tidak dapat mengenakan stoking yang dibuat dari bahan yang lebih mahal dari harga tertentu per yard. Siapapun yang tertangkap melanggar aturan ini dapat didenda dan pakaiannya akan disita. Namun, keberadaan hukum ini menggambarkan bahwa banyak orang pada era Elizabeth dari semua kalangan yang rela membayar harga seberapapun untuk memakai gaya terbaik pada masa itu.

#### Editorial Review

This human-authored article has been reviewed by our editorial team before publication to ensure accuracy, reliability and adherence to academic standards in accordance with our [editorial policy](https://www.worldhistory.org/static/editorial-policy/).

## Daftar Pustaka

- [Elton, G.R. *England Under the Tudors.* Routledge, 2018.](https://www.worldhistory.org/books/1138602744/)
- [Guy, John. *Tudor England.* Oxford University Press, 1988.](https://www.worldhistory.org/books/0198730888/)
- [Miller, John. *Early Modern Britain, 1450-1750.* Cambridge University Press, 2017.](https://www.worldhistory.org/books/1107650135/)
- [Morrill, John. *The Oxford Illustrated History of Tudor & Stuart Britain.* Oxford University Press, 1996.](https://www.worldhistory.org/books/019820325X/)
- [Singman, Jeffrey, L. *Daily Life in Elizabethan England.* Greenwood, 1995.](https://www.worldhistory.org/books/031329335X/)
- [Wagner, John A. *Historical Dictionary of the Elizabethan World.* Greenwood, 1999.](https://www.worldhistory.org/books/1573562009/)

## Tentang Penulis

Mark adalah seorang penulis, peneliti, sejarawan, dan editor penuh waktu. Minat khususnya meliputi seni, arsitektur, dan gagasan yang ada di semua peradaban. Mark meraih gelar MA dalam bidang Filsafat Politik dari University of York dan menjabat sebagai Direktur Penerbitan di WHE.

## Tautan Eksternal

- [Elizabeth I: fashion and beauty](https://www.rmg.co.uk/stories/topics/elizabeth-i-fashion-beauty)
- [1590-1599 | Fashion History Timeline](https://fashionhistory.fitnyc.edu/1590-1599/)

## Sitasi Karya Ini

### APA
Cartwright, M. (2026, September 02). Pakaian di Era Elizabeth. (J. Estherina, Penerjemah). *World History Encyclopedia*. <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1577/pakaian-di-era-elizabeth/>
### Chicago
Cartwright, Mark. "Pakaian di Era Elizabeth." Diterjemahkan oleh Janet Estherina. *World History Encyclopedia*, September 02, 2026. <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1577/pakaian-di-era-elizabeth/>.
### MLA
Cartwright, Mark. "Pakaian di Era Elizabeth." Diterjemahkan oleh Janet Estherina. *World History Encyclopedia*, 02 Sep 2026, <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1577/pakaian-di-era-elizabeth/>.

## Lisensi &amp; Hak Cipta

Dikirim oleh [Janet Estherina](https://www.worldhistory.org/user/janetestherina/ "User Page: Janet Estherina"), dipublikasikan pada 02 September 2026. Silakan periksa sumber aslinya untuk informasi hak cipta. Harap diperhatikan bahwa konten yang ditautkan dari halaman ini mungkin memiliki ketentuan lisensi yang berbeda.

