---
title: Kertas Pada Masa Tiongkok Kuno
author: Mark Cartwright
translator: Asih Nurul
source: https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1120/kertas-pada-masa-tiongkok-kuno/
format: machine-readable-alternate
license: Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike (https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/)
updated: 2026-08-27
---

# Kertas Pada Masa Tiongkok Kuno

_Ditulis oleh [Mark Cartwright](https://www.worldhistory.org/user/markzcartwright/)_
_Diterjemahkan oleh [Asih Nurul](https://www.worldhistory.org/user/asihnurul)_

Penggunaan kertas dan percetakan secara luas menjadi salah satu ciri khas budaya tiongkok kuno yang membedakan itu dari peradaban kuno lainnya. Secara tradisional, kertas telah ditemukan pada awal abad ke-2 Masehi, namun ada bukti yang menunjukkan bahwa kertas sudah ada jauh lebih awal sebelum itu. Sebagai bahan yang lebih murah dan yang lebih praktis daripada bambu, kayu, atau sutra, kertas membantu menyebarkan karya sastra dan meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, selain itu digunakan juga untuk banyak keperluan lain dari bahan topi hingga bahan kemasan. Bahan tersebut dibuat semakin halus selama berabad-abad, diperdagangkan di berebagai wilayah di Asia, dan digunakan sebagai bahan mata uang pertama sejak awal ke-12 Masehi.

[ ![Yuan Dynasty Bank Note & Plate](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/7286.jpg?v=1778373977) Uang kertas dan piring Dinasti Yuan PHGCOM (CC BY-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/7286/yuan-dynasty-bank-note--plate/ "Yuan Dynasty Bank Note & Plate")### Penemuan Kertas

Terdapat banyak bukti penemuan arkeologis mengenai jenis-jenis kertas primitif dari abad ke-2 Masehi di Cina, yang sebagian besar dibuat menggunakan serat rami. Hal ini dipercayai bahwa penemuan bentuk awal kertas ini terjadi secara tidak disengaja, ketika pakaian yang terbuat dari rami dibiarkan terlalu lama setelah dicuci, sehingga menghasilkan endapan di air yang kemuadian di press menjadi bahan baru yang berguna. Secara tradisional, penemuan kertas telah lama diperkirakan terjadi pada tahun 105 Masehi. Cai Lun, kepala pusat produksi kerajaan di Luoyang, dianggap sebagai tokoh yang menciptakan kertas menggunakan serat-serat tumbuhan yang direndam kemudian di press, kemudian di keringkan menjadi lembaran di atas bingkai atau saringan kayu. Bilah bambu, papan kayu atau sutra yang mahal telah digunakan selama berabad-abad sebagai media untuk menulis, tetapi setelah dilakukan banyak upaya, akhirnya ditemukan alternatif yang lebih ringan dan murah yaitu dalam bentuk gulungan kertas.

Seiring berjalannya waktu, berbagai jenis serat diuji coba untuk membuat kertas sehingga pada akhir periode dinasti Han (206-220 Masehi), kualitas kertas mengalami peningkatan pesat. Bahan serat dari berbagai tumbuhan seperti batang rumput, berbagai jenis sayuran, serat rami, kulit pohon, dan bahkan kain bekas digunakan dan dicampurkan dalam upaya uji coba untuk menemukan bahan paling murah namun bisa menghasilkan kertas yang berkualitas tinggi. Rotan menggantikan serat rami sebagai bahan utama pembuatan kertas dan menjadi bahan paling banyak digunakan selama berabad-abad hingga akhirnya digantikan oleh serat bambu menjadi bahan baku utama sejak abad ke-8 Masehi. Salah satu penyebab rotan tidak lagi digunakan adalah tingginya permintaan kertas sehingga tanaman yang pertumbuhannya lambat tersebut hampir punah di beberapa wilayah di Cina. Bambu memiliki pertumbuhan yang lebih cepat daripada rami dan pilihan yang jauh lebih murah. Sejak Dinasti Song (960-1279 Masehi) teknik pembuatan kertas semakin berkembang dan bahan utamanya beralih ke kulit pohon murbei yang direbus. Kertas buatan Cina memiliki kualitas yang sangat tinggi sehingga diperdagangkan ke berbagai negara melalui [Jalur Sutra](https://www.worldhistory.org/trans/id/1-466/jalur-sutra/).

Lembaran kertas tersedia dalam berbagai warna dan ukuran. Bahan, teknik, dan preferensi yang berbeda-beda tiap daerah, ada berbagai tulisan yang membahas itu, tulisan yang paling awal di tulis oleh Su I-chien (957-995 M). Kertas khusus dengan tekstur, motif, atau warna dipergunakan untuk seni dan kaligrafi. Jenis kertas tersebut dibuat menggunakan nasi, jerami gandum, kulit kayu cendana, batang kembang sepatu, dan bahkan rumput laut.

[ ![Paper-making Process](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/1241.gif?v=1755095404) Proses Pembuatan kertas è± (CC BY-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/1241/paper-making-process/ "Paper-making Process")Orang-orang Cina pada masa itu cenderung merahasiakan keterampilan mereka membuat kertas, sebagaimana mereka merahasiakan merahasiakan teknik pembuatan sutra. Namun, rahasia jarang ada yang tetap menjadi rahasia selamanya. Di dunia luar, atau setidaknya di Cina bagian barat, memerlukan pengetahuan dalam produksi kertas di abad ke-8 Masehi (atau emungkinan bisa lebih awal). Pemicunya adalah ketika sekelompok pembuat kertas ditangkap oleh para penakluk Arab setelah Pertempuran Talas. Tak lama kemudian, Baghdad menjadi pusat produksi utama kertas, dan Eropa pada waktu itu akhirnya juga memproduksi kertas yang berkualitas tinggi.

### Kegunaan Kertas

Penemuan kertas telah banyak membantu penyebaran literatur dan literasi, membuat buku lebih murah dan lebih praktis untuk digunakan. Pemerintah menyediakan ribuan kertas setiap bulan untuk para cendekiawan. Selain itu, perpaduan dari kuas, tinta, dan kertas menjadikan seni lukis dan kaligrafi sebagai bidang seni yang paling penting di Cina selama 2 generasi berikutnya. Dengan penemuan teknik cetak blok, di Cina atau Korea sekitar di tahun ke-8 Masehi, permintaan untuk kertas melonjak, khususnya dari ilmuan budha dan kui-kuil. Di tahun ke-10 Masehi, ketika kebangkitan kembali Neo-Konfusianisme, pencetakan karya-karya klasik Konfusianisme melonjak pesat. Dengan ditemukannya teknik mencetak huruf/karakter yang bisa dipindah san sisusun, dari tahun ke-11 atau ke-12 Masehi, kertas perlu dibuat lebih tebal agar menahan balok-balok huruf logam yang berat, tetapi dua penemuan - mesin cetak dan kertas - merevolusi komunikasi dan tetap menjadi sarana utama untuk mengirim dan mengumpulkan informasi hingga akhirnya diterima oleh komputer.

Kertas sangat bernilai di masa Tiongkok kuno, yang mana itu digunakan untuk membayar atribut dan pajak ke negara selama dinasti Tang (618-907 M). Tang juga menerapkan aturan kode warna di penggunan kertas, kertas putih dikhususkan untuk dokumen resmi, kuning untuk kepentingan pemerintahan, dan biru untuk komunikasi dengan kuil-kuil Tao.

Disamping dari kegunaannya untuk tulisan dan buku, kertas digunakan untuk memproduksi topografi dan peta militer sejak dari dinasti Han. Digambar dengan skala yang cukup akurat, mereka menyertakan kode warna dan simbol untuk menunjukkan berbagai fitur lokal dan menampilkan area-area tertentu yang diperbesar. Kegunaan lainnya dari kertas yaitu sebagai kemasan untuk barang-barang yang cepat rusak, seperti obat-obatan dan kertas pembungkus, terutama untuk bungkusan teh. Kertas juga telah banyak digunakan untuk membuat topi, setelah dibuat kaku, kertas dapat digunakan sebagai pelindung tubuh, dan jika dibuat tipis, kertas bisa digunakan untuk penutup jendela. Ada pula sekat, lembaran, tirai, pakaian, dan bahkan uang yang terbuat dari kertas.

### Uang Kertas

Seiring meningkatnya perdagangan, sistem barter atau menukar satu barang dengan barang lainnya telah digantikan menggunakan sistem dimana suatu komoditas tertentu mulai digunakan sebagai alat pembayaran umum. Di Cina gulungan sutra atau batangan emas dapat digunakan sebagai alat pembayaran untuk semua jenis barang. Untuk transaksi dalam jumlah yang kecil, mereka menggunakan koin logam, Awalnya, koin-koin tersebut berbentuk seperti alat-alat, kemudian bentuknya berkembang menjadi koin-koin kecil yang lebih praktis. Seiring perdagangan berkembang dan jumlah orang yang terlibat di dalamnya semakin banyak, dibutuhkan metode pembayaran yang lebik praktis. Masalah lain dari penggunaan koin adalah banyaknya jumlah tembaga yang dibutuhkan untuk membuat koin dalam jumlah yang cukup guna memenuhi kebutuhan perekonomian.

Unag kertas pertama kali muncul pada masa Dinasti Tang. Perkembangannya bermula dari kebiasaan para pedagang yang mengandalkan dokumen kertas dalam transaksi mereka. Terutama bagi para pedagang teh, karena teh merupakan salah satu komoditas yang paling laris di Cina. Para pedagang enggan membawa batangan logam yang berhaga ke kas negara sehingga mereka lebih memilih tanda penerimanya sebagai gantinya. Dokumen-dokumen tersebut memungkinkan seorang pedagang untuk melakukan atau menerima pembayaran di kas negara mana pun di daerah setempat, sehingga dokumen tersebut kemudian dikenal sebagai 'uang terbang'. Bentuk pertama uang kertas ini tidak sepenuhnya berhasil. Untuk transaksi dalam jumlah yang lebih besar, para pedagang lebih memilih keamanan yang lebih terjamin dari batangan perak. Meskipun demikian, gagasan ini cukup baik dan uang kertas kembali digunakan di abad ke-11 dan 12 Masehi.

Pada abad ke-11 Masehi di provinsi Szechwan, penggunaan uang besi yang berat membuat orang-orang kaya harus menyimpan uang mereka di tempat penyimpanan milik negara agar lebih aman. Sekitar tahun 1023 Masehi, pemerintah dinasti Song menerbitkan sertifikat kertas untuk menunjukkan jumlah uang yang mereka simpan. Sertifikan tersebut bisa juga digunakan dalam transaksi tanpa memindahkan koin secara fisik. Pada abad ke-12 Masehi, para pedagang di seluruh Cina kembali menggunakan tanda terima kertas untuk transaksi mereka sebagai pengganti kantong-kantong koin yang berat. Hal tersebut kemudian mendorong perkembangan uang kertas sekitar tahun 1120 Masehi, ketika pemerintah Cina memberlakukan monopoli atas penerbitan hak terima tersebut. Dengan demikian, Cina menciptakan uang kertas pertama di dunia. Pada tahun 1260 Masehi, uang kertas berkembang menjadi uang kertas modern yang kita kenal sekarang, dapat disimpan selama yang diinginkan, digunakan untuk melakukan pembelian di seluruh negeri, dan kapan saja bisa ditukarkan dengan emas dan perak.

Pedagang dan penjelajah Venesia, Marco Polo memberikan salah satu catatan paling awal mengenai uang kertas Cina setelah melakukan perjalanan di Asia di tahun ke-13 Masehi:

> Uang kertas ini disahkan dengan bentuk dan tata cara yang sama ketatnya seolah-olah uang tersebut benar-benar terbuat dari emas atau perak murni. Setiap lembar uang ditandatangani oleh oleh sejumlah pejabat yang ditunjuk secara khusus dan juga dibubuhi cap mereka. Setelah semua pejabat menyelesaikan prosesnya, pejabat utama mencelupkan stempel kerajaan yang berada di bawah wewenangnya ke dalam tinta merah, lalu membubuhkannya pada lembar kertas tersebut. Dengan demikian, bentuk stempel kerajaan akan tercetak pada uang kertas itu. (dalam Ebrey, halaman 156-157)

Namun, uang kertas masih memiliki sejumlah masalah. Meskipun ada berbagai tindakan pencegahan yang seperti yang dijelaskan oleh Marco Polo, uang kertas sama mudahnya untuk dipalsukan halnya seperti koin. Masalah terbesarnya muncul dengan inflasi yang tinggi. Inflasi tersebut begitu parah hingga uang kertas dengan cepat kehilangan nilainya dan hampir menghilang sepenuhnya dari peredaran. Uang kertas sempat digunakan kembali pada masa Dinasti Ming (1368-1644 M), tetapi lagi-lagi mengalami kegagalan. Peredaran luas uang kertas yang dapat dipercaya baru benar-benar terwujud pada tahun 1866 Masehi ketika uang tersebut diterbitkan oleh Hong Kong dan Bank Shanghai.

#### Editorial Review

This human-authored article has been reviewed by our editorial team before publication to ensure accuracy, reliability and adherence to academic standards in accordance with our [editorial policy](https://www.worldhistory.org/static/editorial-policy/).

## Daftar Pustaka

- [Dawson, R. *The Chinese Experience.* Phoenix Press - Orion, 2017.](https://www.worldhistory.org/books/1898800499/)
- [Dillon, M. *China.* Routledge, 1998.](https://www.worldhistory.org/books/0700704396/)
- [Ebrey, P.B. *East Asia.* Wadsworth Publishing, 2013.](https://www.worldhistory.org/books/1133606474/)
- Pickering, J. "The History of Paper Money in China." *Journal of the American Oriental Society*, Vol. 1, No. 2 (1844), pp. 136-142.
- Ten Grotenhuis, E. "Stories of Silk and Paper." *World Literature Today,*, Vol. 80, No. 4 (Jul. - Aug., 2006), pp. 10-12.
- Tsuen-Hsuin Tsien. "Raw Materials for Old Papermaking in China." *Journal of the American Oriental Society*, Vol. 93, No. 4 (Oct. - Dec., 1973), pp. 510-519.

## Tentang Penulis

Mark adalah seorang penulis, peneliti, sejarawan, dan editor penuh waktu. Minat khususnya meliputi seni, arsitektur, dan gagasan yang ada di semua peradaban. Mark meraih gelar MA dalam bidang Filsafat Politik dari University of York dan menjabat sebagai Direktur Penerbitan di WHE.

## Pertanyaan & Jawaban

### 


### 


### 


### 



## Tautan Eksternal

- [China: Make Your Own Paper - Timothy S. Y. Lam Museum of Anthropology](https://lammuseum.wfu.edu/2020/05/china-make-your-own-paper/)
- [Did You Know? The Importance of Paper Making Technology in Cultural Exchange along the Silk Roads | Silk Roads Programme](https://en.unesco.org/silkroad/content/did-you-know-importance-paper-making-technology-cultural-exchange-along-silk-roads)

## Sitasi Karya Ini

### APA
Cartwright, M. (2026, August 27). Kertas Pada Masa Tiongkok Kuno. (A. Nurul, Penerjemah). *World History Encyclopedia*. <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1120/kertas-pada-masa-tiongkok-kuno/>
### Chicago
Cartwright, Mark. "Kertas Pada Masa Tiongkok Kuno." Diterjemahkan oleh Asih Nurul. *World History Encyclopedia*, August 27, 2026. <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1120/kertas-pada-masa-tiongkok-kuno/>.
### MLA
Cartwright, Mark. "Kertas Pada Masa Tiongkok Kuno." Diterjemahkan oleh Asih Nurul. *World History Encyclopedia*, 27 Aug 2026, <https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1120/kertas-pada-masa-tiongkok-kuno/>.

## Lisensi &amp; Hak Cipta

Dikirim oleh [Asih Nurul](https://www.worldhistory.org/user/asihnurul/ "User Page: Asih Nurul"), dipublikasikan pada 27 August 2026. Silakan periksa sumber aslinya untuk informasi hak cipta. Harap diperhatikan bahwa konten yang ditautkan dari halaman ini mungkin memiliki ketentuan lisensi yang berbeda.

