---
title: Odysseus
author: Mark Cartwright
translator: Yuminsia Meldiktha 
source: https://www.worldhistory.org/trans/id/1-786/odysseus/
format: machine-readable-alternate
license: Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike (https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/)
updated: 2026-07-17
---

# Odysseus

_Ditulis oleh [Mark Cartwright](https://www.worldhistory.org/user/markzcartwright/)_
_Diterjemahkan oleh [Yuminsia Meldiktha ](https://www.worldhistory.org/user/yuminsiameldikt)_

Odysseus (nama Romawi: Ulysses) merupakan salah satu pahlawan pan-Helenik terbesar dalam [mitologi Yunani](https://www.worldhistory.org/trans/id/1-11221/mitologi-yunani/). Ia terkenal karena keberanian, kecerdasan, dan jiwa kepemimpinannya. Kepiawaian Odysseus dalam mencari jalan keluar dari berbagai persoalan serta kemampuannya berpidato memainkan peranan penting dalam kemenangan bangsa Yunani pada Perang Troya. Setelah perang itu berakhir, Odysseus menjadi tokoh utama dalam serangkaian petualangan luar biasa yang dikisahkan dalam Odyssey, perjalanan panjangnya untuk kembali ke tanah kelahirannya, Ithaka.

Dalam mitologi Yunani, Odysseus adalah putra Laertes dan Antikleia (atau Anticlea), sekaligus Raja Ithaka dan pemimpin bangsa Kephallenia. Ia menikah dengan Penelope dan memiliki seorang putra bernama Telemakhos (atau Telemachus). Sepanjang hidupnya, sang pahlawan juga berulang kali memperoleh bantuan dan perlindungan khusus dari dewi Athena. Hesiod menggambarkan Odysseus sebagai sosok yang "berpikiran sabar", sementara Homer paling sering menyebutnya sebagai "bak dewa", bahkan sebagai "setara dengan Zeus dalam kecerdikan pikirannya", serta seorang orator ulung yang kata-katanya yang meyakinkan "turun bagaikan kepingan salju pada musim dingin". Namun, Odysseus bukan hanya seorang pemikir. Ia juga seorang pejuang tangguh, dan keberanian serta kehebatannya dalam bertempur tercermin dalam julukan Homerik "penakluk segala kota". Homer juga menyatakan bahwa nama Odysseus berarti "korban permusuhan", yang tampaknya merujuk pada kebencian mendalam Poseidon terhadap sang pahlawan.

### **Persiapan Odysseus untuk Perang Troya**

Sumber pertama yang memberikan gambaran mendalam mengenai Odysseus adalah kisah Perang Troya yang ditulis Homer dalam *Iliad*, di mana sang pahlawan menjadi salah satu tokoh utamanya. Odysseus terlibat dalam sejumlah peristiwa penting dengan kecerdasan, kebijaksanaan dalam memberi nasihat, serta kelihaiannya menyusun siasat terbukti menjadi faktor yang sangat menentukan bagi kemenangan Yunani dalam perang tersebut.

Meski demikian, Odysseus nyaris tidak ikut dalam peperangan itu sama sekali. Ketika Palamedes, utusan Menelaos, datang memanggilnya, Raja Ithaka enggan meninggalkan istri dan keluarganya. Karena itu, ia berpura-pura menjadi gila. Untuk meyakinkan semua orang, ia membajak ladang dengan seekor lembu dan seekor keledai yang dipasangkan pada satu bajak, lalu menaburkan garam ke dalam alur bajakan. Namun, Palamedes tidak mudah diperdaya. Ia meletakkan Telemakhos yang masih kecil tepat di jalur bajak sehingga Odysseus terpaksa membelokkan arah bajaknya demi menghindari putranya. Tindakan itu membuktikan bahwa ia sebenarnya tidak gila.

Odysseus pula yang berhasil membujuk Akhilles, yang semula enggan berangkat, untuk bergabung dalam ekspedisi Yunani ke Troya. Ibunya, Thetis, menyembunyikan Akhilles karena mengetahui bahwa putranya telah ditakdirkan menemui ajal apabila ikut serta dalam perang. Akhilles kemudian dibesarkan oleh keluarga kerajaan Lykomedes di Pulau Skyros. Namun, Nestor, raja Pylos yang terkenal bijaksana, meramalkan bahwa bangsa Yunani hanya dapat menaklukkan kota Troya yang bertembok kokoh apabila mereka memperoleh bantuan dari Akhilles, pejuang terhebat di antara mereka.

Karena itulah Odysseus, yang terkenal licik sekaligus cerdik, diutus untuk membujuk pejuang terbesar Yunani itu agar meninggalkan istri dan putranya, lalu bertempur bersama pasukan yang dipimpin Raja Agamemnon. Menyamar sebagai saudagar kaya, Raja Ithaka menggoda Akhilles yang saat itu menyamar sebagai salah seorang putri Skyros dengan memamerkan berbagai senjata pilihan. Akhilles tidak mampu menyembunyikan ketertarikannya terhadap senjata-senjata tersebut, sehingga penyamarannya pun terbongkar dan jati dirinya terungkap. Bersama Akhilles turut bergabung pula pasukan pribadinya yang sangat disegani, yakni kaum Myrmidon dari Thessalia.

Odysseus kembali dipilih sebagai utusan, kali ini untuk membujuk Ifigeneia, putri Raja Agamemnon, agar bergabung dengan pasukan Yunani di Aulis. Saat berburu, Agamemnon tanpa sengaja membunuh seekor rusa yang dikeramatkan bagi Artemis. Menurut ramalan Kalkhas, sang peramal, hanya pengorbanan putri raja yang dapat meredakan murka sang dewi dan memungkinkan armada Yunani berlayar dengan selamat menuju Troya. Karena itu, Odysseus berangkat ke Mykenai dan meyakinkan Klytaimestra, ibu Ifigeneia, bahwa putrinya akan dinikahkan dengan Akhilles. Gembira membayangkan putrinya akan bersuamikan pahlawan termasyhur Yunani, sang ratu pun segera menyetujuinya. Namun, ketika Ifigeneia tiba di Aulis, segala persiapan untuk upacara pengorbanan telah selesai dilakukan dan ia langsung dibawa ke atas altar. Beruntung, tepat ketika Agamemnon mengayunkan pedangnya, Artemis menaruh belas kasihan kepada gadis itu. Sang dewi menggantikannya dengan seekor rusa, lalu membawa Ifigeneia ke Tauris untuk menjadi pendeta di salah satu tempat sucinya.

Setelah itu, bangsa Yunani akhirnya memperoleh angin yang bersahabat dan berhasil mendarat di Troya. Selain sebuah peristiwa kecil ketika Odysseus dan Diomedes menyergap Dolon, seorang pemuda Troya, di sebuah hutan, Odysseus tidak banyak berperan hingga tahap-tahap akhir peperangan. Setelah Akhilles gugur, timbul perselisihan mengenai siapa yang paling berhak mewarisi perlengkapan perang sang pahlawan yang termasyhur. Odysseus dan Aias Telamon sama-sama mengajukan klaim. Persoalan tersebut akhirnya diputuskan melalui pemungutan suara, dan berkat campur tangan Athena, Odysseus dianugerahi senjata serta baju zirah buatan Hefaistos.

[ ![Odysseus and the Sirens](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/2700.jpg?v=1782466825-1782466873) Odysseus dan Para Siren James Lloyd (CC BY-NC-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/2700/odysseus-and-the-sirens/ "Odysseus and the Sirens")### Peran Odysseus dalam Kemenangan Yunani

Meskipun telah kehilangan Akhilles, pejuang yang menjadi tumpuan semangat mereka, perang terus berlanjut. Pada tahap inilah bangsa Yunani mulai mengandalkan strategi yang lebih matang untuk menaklukkan tembok kokoh Troya. Sang peramal Kalkhas meramalkan bahwa kemenangan hanya dapat diraih apabila tiga syarat terpenuhi. Pertama, Neoptolemos, putra Akhilles, harus ikut bertempur. Kedua, senjata legendaris Herakles yang saat itu berada di tangan Filoktetes (Philoctetes) harus digunakan. Ketiga, bangsa Yunani harus berhasil merebut *Palladion*. Palladion adalah patung kayu suci Dewi Athena yang dipercaya jatuh dari langit dan ditemukan oleh Troas, pendiri kota Troya. Bangsa Troya meyakini bahwa patung tersebut menjadi sumber perlindungan dan kekuatan kota mereka. Oleh karena itu, jika bangsa Yunani berhasil mencurinya, mereka akan memperoleh keuntungan besar dalam peperangan.

Odysseuslah yang berhasil menuntaskan ketiga tugas sulit tersebut. Mula-mula ia kembali ke Skyros untuk membujuk Neoptolemos agar bergabung dengan pasukan Yunani. Setelah itu, ia berlayar ke Lemnos untuk menemui Filoktetes dan membawa senjata milik Herakles. Filoktetes memang masih menyimpan kemarahan karena dahulu ditinggalkan sendirian di pulau itu. Namun, segala upaya bujukan Odysseus akhirnya membuahkan hasil. Tidak lama setelah tiba di medan perang Troya, Filoktetes berhasil menewaskan Paris dengan anak panahnya yang mematikan.

Tugas ketiga yang tersisa adalah merebut *Palladion*, patung suci Athena, dari jantung kota Troya. Untuk mengetahui lokasi tepat patung tersebut, Odysseus menyamar sebagai seorang pengemis dan berhasil memasuki kota tanpa diketahui. Namun, ada satu orang yang mengenalinya, yakni Helen. Saat itu Helen telah dipaksa menikah dengan salah seorang putra Priamos dan sangat merindukan kepulangannya ke Yunani. Helen kemudian menunjukkan kepada Odysseus tempat *Palladion* disimpan. Setelah kembali ke perkemahan Yunani dengan informasi tersebut, Odysseus mengajak Diomedes untuk menjalankan misi itu. Pada malam berikutnya, keduanya kembali menyusup ke dalam kota dan berhasil membawa kabur patung suci tersebut.

Meskipun *Palladion* telah berhasil dicuri, peperangan tetap berlangsung tanpa tanda-tanda akan berakhir. Bangsa Yunani pun menyadari bahwa mereka memerlukan strategi yang jauh lebih berani jika ingin benar-benar menaklukkan Troya. Atas ilham yang diberikan oleh Athena, Odysseus mencetuskan gagasan brilian tentang kuda kayu Troya. Ia memerintahkan para tukang kayu membangun seekor kuda raksasa yang cukup besar untuk menyembunyikan sejumlah prajurit Yunani di dalamnya. Tantangan berikutnya adalah meyakinkan bangsa Troya agar membawa kuda itu masuk ke dalam kota. Odysseus memerintahkan seluruh pasukan Yunani meninggalkan perkemahan mereka dan berlayar hingga menghilang dari pandangan, kemudian berlabuh di dekat Pulau Tenedos. Di medan yang kosong hanya tersisa kuda kayu itu dan seorang prajurit bernama Sinon. Sinon berpura-pura telah diburu oleh pasukan Yunani sebagai musuh sekaligus calon korban persembahan. Setelah berhasil memperoleh kepercayaan bangsa Troya, ia mulai mengarang sebuah kisah bohong. Ia mengatakan bahwa Athena murka karena patung sucinya telah dicuri sehingga menghukum bangsa Yunani. Menurutnya, satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali restu sang dewi adalah membangun seekor kuda kayu raksasa sebagai persembahan bagi Athena, lalu meninggalkan Troya dan berlayar pulang. Bangsa Troya mempercayai cerita itu sepenuhnya. Mereka pun menyeret kuda kayu tersebut ke dalam kota dan menempatkannya di depan kuil Athena. Kecuali Laokoon dan Aineias yang tetap menaruh curiga, hampir seluruh penduduk Troya larut dalam pesta sepanjang malam untuk merayakan apa yang mereka yakini sebagai kemenangan akhir atas bangsa Yunani.

[ ![Trojan Horse](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/1365.jpg?v=1777896785) Kuda Troya Mark Cartwright (CC BY-NC-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/1365/trojan-horse/ "Trojan Horse")Ketika pesta akhirnya usai dan bangsa Troya tertidur lelap dalam pengaruh minuman keras, Sinon menyalakan isyarat bagi armada Yunani yang telah menunggu di lepas pantai. Kapal-kapal itu pun segera kembali ke pesisir Troya. Odysseus bersama para prajurit Yunani yang bersembunyi di dalam kuda kayu keluar dari persembunyian mereka, membuka gerbang kota, dan membiarkan seluruh pasukan Yunani menyerbu masuk. Kota Troya akhirnya jatuh. Kuil-kuil dijarah dan dinodai, sementara para penduduknya dibantai tanpa belas kasihan.

### Odyssey

Salah satu akibat dari tindakan kejam bangsa Yunani di Troya adalah murka para dewa. Mereka menghukum pasukan Yunani dengan mendatangkan berbagai bencana selama pelayaran pulang, sehingga banyak kapal mereka karam di tengah perjalanan. Odysseus termasuk sedikit orang yang berhasil selamat, tetapi ia baru dapat kembali ke tanah airnya setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang, penuh penyimpangan arah dan petualangan berbahaya, sebagaimana dikisahkan Homer dalam *Odyssey*.

[ ![Map of Odysseus’ 10-year Journey Home](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/15906.png?v=1784679667-1767425835) Peta Perjalanan Pulang Odysseus Selama 10 Tahun Simeon Netchev (CC BY-NC-ND) ](https://www.worldhistory.org/image/15906/map-of-odysseus-10-year-journey-home/ "Map of Odysseus’ 10-year Journey Home")Perjalanan pulang Odysseus berlangsung selama sepuluh tahun. Dalam pengembaraannya, ia singgah di banyak tempat, meskipun hanya sedikit yang menyambutnya dengan bersahabat. Persinggahan pertama adalah negeri bangsa Kikones. Di sana, di antara berbagai peristiwa yang terjadi, dewa Apollo menghadiahkan sang pahlawan dua belas kendi anggur. Tidak lama kemudian, badai besar menghantam armadanya hingga Odysseus dan kapal-kapalnya terdampar di negeri Pemakan Teratai *(Lotus Eaters)*. Tumbuhan teratai yang mereka makan membuat siapa pun melupakan kampung halamannya. Menyadari bahaya itu, Odysseus menolak keramahan mereka dan segera melanjutkan pelayarannya.

Persinggahan berikutnya adalah Pulau Cyclops, tempat tinggal para raksasa bermata satu yang hidup damai dengan menggembalakan domba-domba mereka. Namun, nasib membawa Odysseus bertemu dengan Polyphemos, seorang Cyclops pemakan manusia yang merupakan putra Poseidon, dewa laut. Sang raksasa menangkap rombongan Yunani dan mengurung mereka di dalam guanya. Tanpa membuang waktu, ia melahap dua orang sebagai santapan pembuka. Menyadari betapa genting keadaan mereka, Odysseus segera menyusun rencana pelarian yang cerdik. Ia terlebih dahulu membuat Polyphemos mabuk dengan anggur. Setelah Cyclops itu tertidur, Odysseus memerintahkan anak buahnya meruncingkan tongkat kayu zaitun milik Polyphemos, mengeraskannya di dalam api, lalu menusukkannya ke mata sang raksasa hingga buta. Dalam kemarahannya, Polyphemos berusaha menangkap para pelaut Yunani dengan meraba setiap dombanya saat keluar menuju padang rumput. Namun, Odysseus memerintahkan anak buahnya bergelantungan pada bagian bawah tubuh domba-domba itu, sementara ia sendiri berpegangan pada seekor domba jantan yang besar. Dengan cara itulah mereka berhasil meloloskan diri dan melanjutkan perjalanan.Sebelum mereka pergi, Polyphemos mengutuk Odysseus. Ia meramalkan bahwa sang pahlawan akan kehilangan seluruh anak buahnya, mengalami perjalanan pulang yang panjang dan penuh penderitaan, serta menghadapi malapetaka saat akhirnya tiba di rumah. Dengan memohon bantuan ayahnya, Poseidon, Polyphemos memastikan bahwa badai demi badai akan menghalangi perjalanan Odysseus sehingga ia baru dapat mencapai Ithaka sepuluh tahun kemudian.

Masih banyak petualangan lain yang menanti Odysseus dan pasukannya. Salah satunya terjadi di Aiolia (Aeolia), tempat Aiolos (Aeolus), dewa angin, menghadiahkan Odysseus sebuah kantong yang berisi seluruh angin, kecuali angin yang akan mengantarkannya pulang ke Ithaka. Sayangnya, rasa ingin tahu menguasai beberapa awak kapal. Ketika tanah Ithaka sudah tampak di kejauhan, mereka membuka kantong itu. Seketika seluruh angin yang terperangkap di dalamnya lepas bebas, menerjang kapal-kapal Odysseus dan menghempaskannya kembali ke Aiolia.

[ ![Odysseus Escaping Polyphemos](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/9788.jpg?v=1746754330) Odysseus Menyelamatkan Diri dari Polyphemos Mark Cartwright (CC BY-NC-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/9788/odysseus-escaping-polyphemos/ "Odysseus Escaping Polyphemos")Melanjutkan pelayarannya, Odysseus kembali mengalami serangkaian persinggahan yang membawa malapetaka. Salah satunya terjadi di Laistrygonia, tempat para raksasa yang dipimpin Antiphates menyerang rombongannya. Mereka menghujani kapal-kapal Yunani dengan batu-batu raksasa hingga menewaskan banyak awak.

### Odysseus dan Circe

Segelintir pasukan yang selamat akhirnya mencapai Pulau Aiaia (Aeaea) dengan hanya satu kapal. Pulau itu merupakan kediaman penyihir Circe (Kirke), tempat cobaan baru menanti para pengembara yang kelelahan. Sang dewi mengubah beberapa anak buah Odysseus menjadi babi. Odysseus hanya dapat mengatasi keadaan tersebut berkat bantuan [Hermes](https://www.worldhistory.org/trans/id/1-11103/hermes/). Dewa pembawa pesan itu memberinya *moly*, sejenis tumbuhan yang membuatnya kebal terhadap sihir Circe. Akan tetapi, hubungan Odysseus dan Circe berkembang dengan baik hingga keduanya menjadi sepasang kekasih. Akibatnya, Odysseus menetap di pulau itu selama satu tahun penuh. Ketika akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, Circe menyarankan agar ia terlebih dahulu mengunjungi dunia bawah dan meminta petunjuk kepada Teiresias, peramal dari Thebes, yang akan menunjukkan jalan menuju Ithaka.

Dalam perjalanan ke dunia bawah (tempat para orang mati), Odysseus bertemu dengan ibunya, Antikleia, yang telah meninggal dunia karena tidak sanggup menanggung kesedihan akibat kepergian putranya yang begitu lama. Ia juga berjumpa dengan banyak pahlawan yang telah gugur, seperti Herkules, Akhilles, dan Agamemnon. Setelah kembali ke dunia orang hidup, Circe memberikan satu nasihat terakhir kepada Odysseus. Ia memperingatkan sang pahlawan agar berhati-hati terhadap para Siren, makhluk berkepala perempuan dan bertubuh burung yang memikat setiap pelaut dengan nyanyian mereka yang begitu indah dan memesona. Karena itu, ketika kapal Odysseus melintasi pulau para Siren, ia memerintahkan seluruh awaknya menutup telinga mereka dengan lilin, sementara dirinya sendiri diikat kuat pada tiang kapal. Dengan demikian, ia dapat mendengarkan nyanyian mereka tanpa tergoda untuk menghampiri.

Setelah berhasil melewati para Siren, Odysseus dan awak kapalnya yang masih tersisa harus menghadapi perairan berbahaya di antara dua batu karang yang dihuni oleh dua monster mengerikan. Yang pertama adalah Skylla, makhluk berkaki dua belas dan berkepala enam yang gemar memangsa para pelaut. Yang kedua adalah Charybdis, monster yang tiga kali menelan air laut dan tiga kali memuntahkannya kembali sehingga menciptakan pusaran air yang mematikan. Enam orang awak kapal kembali menjadi korban, tetapi kapal Odysseus berhasil lolos dan melanjutkan pelayarannya menuju Ithaka.

### Odysseus dan Kalipso

Persinggahan singkat di Thrinikia (Thrinacia) berubah menjadi masa tinggal selama satu bulan akibat cuaca buruk, hingga persediaan makanan bangsa Yunani pun habis. Meskipun Teiresias sebelumnya telah memperingatkan agar mereka tidak menyentuh kawanan ternak milik Helios, beberapa awak kapal yang kelaparan, dipimpin oleh Eurylokhos, menyembelih beberapa ekor hewan tersebut untuk dijadikan makanan. Murka atas tindakan itu, Helios menimpakan hukuman kepada mereka dengan menyebabkan kapal Odysseus karam sesaat setelah meninggalkan Thrinikia. Hanya Odysseus yang selamat dari bencana tersebut. Setelah terombang-ambing di lautan selama sembilan hari, ia akhirnya terdampar di pesisir Pulau Ogygia.

Di pulau itu, Odysseus menghabiskan lima tahun sebagai tawanan dewi alam, Kalipso. Meskipun demikian, ia juga menikmati kehidupan bersama sang dewi, dan dari hubungan mereka lahirlah seorang putra bernama Nausithoos. Namun, patut dipuji bahwa Odysseus tetap teguh pada keinginannya untuk pulang. Bahkan ketika Kalipso menawarkan keabadian dan kemudaan abadi, ia memilih untuk kembali ke tanah airnya. Atas campur tangan para dewa, Kalipso akhirnya membantu Odysseus membangun sebuah rakit agar ia dapat kembali berlayar menuju Ithaka. Akan tetapi, Poseidon sekali lagi menunjukkan kebenciannya kepada sang pahlawan. Dewa laut itu mengirimkan badai dahsyat yang menghancurkan rakit Odysseus hingga berkeping-keping. Dalam keadaan babak belur dan tanpa sehelai pakaian, Odysseus akhirnya terdampar di Pulau Skheria, negeri bangsa Phaiakia. Di sana, ia diselamatkan oleh Nausikaa, putri Raja Alkinoos (Alcinous), yang menyambutnya dengan penuh belas kasih. Setelah kesehatan dan kekuatannya pulih kembali, Odysseus diberi salah satu kapal ajaib milik bangsa Phaiakia, kapal yang dapat berlayar sendiri tanpa memerlukan seorang nakhoda. Dengan kapal itulah Odysseus akhirnya berhasil kembali ke Ithaka. Namun, sebagaimana telah diramalkan Polyphemos, kedamaian belum menantinya di istana.

[ ![Head of Penelope](https://www.worldhistory.org/img/r/p/500x600/2683.jpg?v=1782466600-1782466839) Kepala Penelope Carole Raddato (CC BY-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/2683/head-of-penelope/ "Head of Penelope")### Odysseus Kembali ke Ithaka

Setelah sepuluh tahun meninggalkan tanah airnya, Odysseus nyaris dilupakan oleh semua orang. Hanya istrinya, Penelope, yang tetap setia menantikan kepulangan sang raja. Athena kemudian menceritakan kepada Odysseus segala sesuatu yang telah terjadi selama ia mengembara. Karena diyakini telah lama meninggal dunia, banyak bangsawan melamar Penelope. Sebanyak 108 pelamar yang berharap menjadi raja baru bahkan telah menetap di istana. Meskipun demikian, Penelope terus menunda keputusan untuk menikah lagi, tetap berpegang pada harapan bahwa suaminya masih hidup di suatu tempat.

Untuk mempercepat keadaan, para pelamar bersekongkol membunuh Telemakhos sesegera mungkin. Atas saran Athena, dan dengan kecerdikannya yang telah melegenda, Odysseus menyamar sebagai seorang pengemis lalu mendatangi istananya sendiri untuk menilai keadaan. Hanya pelayan tua bernama Eurykleia yang mengenalinya, berkat bekas luka khas di kakinya. Anjing tuanya yang setia, Argos, juga mengenali tuannya, tetapi sesaat setelah keduanya bertemu, dengan menyedihkan Argos mengembuskan napas terakhir. Setelah memperlihatkan jati dirinya kepada Telemakhos, yang baru kembali dari Pylos, Odysseus mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan para penyusup yang telah menguasai istana dan merebut kembali haknya sebagai raja. Selama masih menyamar sebagai pengemis, ia diperlakukan dengan hina oleh para pelamar dan menjadi sasaran ejekan yang kejam.

Penelope kemudian mengajukan sebuah tantangan kepada para pelamar. Siapa pun yang mampu memasang tali pada busur besar milik Odysseus dan melepaskan anak panah menembus dua belas kepala kapak yang disusun sejajar akan dipilih menjadi suaminya. Tentu saja, tidak seorang pun dari para pelamar yang mampu bahkan sekadar memasang tali busur tersebut, apalagi memanahkannya. Saat itulah sang pengemis melangkah maju. Di tengah cemoohan dan tawa penuh keraguan, ia dengan mudah memasang tali pada busur itu, lalu melepaskan sebuah anak panah yang melesat lurus menembus kedua belas kepala kapak. Sesaat kemudian, Odysseus menanggalkan penyamarannya dan memperlihatkan jati dirinya yang sebenarnya. Kepanikan pun segera melanda para pelamar. Namun, tidak ada jalan bagi mereka untuk melarikan diri. Sesuai rencana, Telemakhos telah mengunci seluruh pintu dan menyingkirkan semua senjata yang tergantung di dinding. Dengan busurnya yang mematikan, Odysseus kemudian menewaskan para pelamar satu demi satu hingga tidak seorang pun tersisa. Dengan demikian, ia berhasil merebut kembali kerajaan yang telah begitu lama dirampas darinya.

Pasangan kerajaan itu akhirnya dipersatukan kembali setelah sepuluh tahun berpisah dan tampaknya akan hidup bahagia selamanya. Namun, kisah Odysseus ternyata tidak berakhir demikian. Dalam penutup yang tragis, Odysseus yang telah lanjut usia terbunuh oleh Telegonos, putranya dari Circe. Ketika Telegonos mendarat di Ithaka, tanpa mengetahui identitas lawannya, ia membunuh ayahnya sendiri dalam sebuah pertempuran.

### Bagaimana Odysseus Digambarkan dalam Seni?

Odysseus merupakan salah satu tokoh yang paling sering muncul dalam seni [Yunani Kuno](https://www.worldhistory.org/trans/id/1-119/yunani-kuno/). Sosoknya dapat ditemukan pada berbagai karya, seperti vas, koin, patung, dan pita hias pada perisai yang berasal dari berbagai wilayah Yunani. Ia juga kerap dikenali melalui *pilos*, topi berbahan kain felt berbentuk kerucut yang menjadi ciri khasnya. Berbagai adegan yang menampilkan Odysseus menghiasi tembikar bergambar figur merah (*red-figure*) dan figur hitam (*black-figure*) dari abad ke-7 hingga abad ke-5 SM. Adegan-adegan tersebut antara lain memperlihatkan misinya membujuk Akhilles, perselisihannya dengan Aias memperebutkan perlengkapan perang Akhilles, pencurian *Palladion*, pembutaan Cyclops, saat ia terdampar di pesisir Skheria, serta pembalasannya terhadap para pelamar Penelope.

Menariknya, kisah kuda kayu Troya justru tidak banyak dijumpai dalam seni Yunani. Salah satu penggambaran yang paling terkenal terdapat pada sebuah *pithos* (tempayan besar) berhias relief tanah liat dari Mykonos yang berasal dari sekitar 670 SM. Sementara itu, salah satu representasi paling masyhur mengenai Odysseus dan para Siren terdapat pada sebuah stamnos Attika bergaya figur merah yang ditemukan di Vulci dan berasal dari sekitar 450 SM.

#### Editorial Review

This human-authored definition has been reviewed by our editorial team before publication to ensure accuracy, reliability and adherence to academic standards in accordance with our [editorial policy](https://www.worldhistory.org/static/editorial-policy/).

## Daftar Pustaka

- Carabatea, M. *Greek Mythology.* Pergamos, Peania, 2007
- [Carpenter, T.H. *Art and Myth in Ancient Greece.* Thames & Hudson, 1991.](https://www.worldhistory.org/books/0500202362/)
- [Hesiod. *Hesiod.* Loeb Classical Library, 2007.](https://www.worldhistory.org/books/0674996224/)
- [Homer. *The Iliad.* Penguin Classics, 1998.](https://www.worldhistory.org/books/0140275363/)
- Homer. *The Odyssey.* Penguin, London, 1948
- Hope Moncrieff, A.R. *Classical Mythology.* Senate, London, 1994
- [National Geographic. *National Geographic Essential Visual History of World Mythology.* National Geographic, 2008.](https://www.worldhistory.org/books/142620373X/)

## Tentang Penulis

Mark adalah seorang penulis, peneliti, sejarawan, dan editor penuh waktu. Minat khususnya meliputi seni, arsitektur, dan gagasan yang ada di semua peradaban. Mark meraih gelar MA dalam bidang Filsafat Politik dari University of York dan menjabat sebagai Direktur Penerbitan di WHE.

## Garis Waktu

- **c. 800 BCE - c. 700 BCE**: [Homer](https://www.worldhistory.org/homer/) of [Greece](https://www.worldhistory.org/greece/) writes his *[Iliad](https://www.worldhistory.org/iliad/)* and *[Odyssey](https://www.worldhistory.org/Odyssey/)*.

## Pertanyaan & Jawaban

### Apa yang paling membuat Odysseus terkenal?
Odysseus paling dikenal karena perjalanan pulangnya dari Troya ke Ithaka yang berlangsung selama sepuluh tahun, yang dikenal sebagai Odyssey. Dalam perjalanan tersebut, ia berhadapan dengan berbagai makhluk mitologi dan berhasil bertahan hidup melalui banyak petualangan berbahaya. Selain itu, Odysseus juga memainkan peran penting dalam Perang Troya. Kecemerlangan strateginya mencapai puncak melalui siasat kuda kayu Troya, yang mengantarkan bangsa Yunani meraih kemenangan.

### Bagaimana Odysseus meninggal?
Odysseus tewas di tangan Telegonos, putra yang ia miliki bersama penyihir Circe, tanpa pernah mengetahui bahwa Telegonos adalah anaknya. Ketika Telegonos mendarat di pesisir Ithaka dengan harapan dapat bertemu ayahnya untuk pertama kalinya, ia diserang oleh Odysseus. Dalam pertempuran yang terjadi kemudian, Odysseus gugur akibat luka yang ditimbulkan oleh tombak beracun milik Telegonos.

### Berapa lama Odyssey berlangsung?
Odyssey berlangsung selama sepuluh tahun, yaitu masa ketika Odysseus mengembara dalam perjalanan panjang dan penuh petualangan dari Troya menuju Ithaka.


## Tautan Eksternal

- [A map of Odysseus's journey](http://blog.oup.com/2014/06/map-odysseus-journey/)
- [The science behind the myth: Homer's "Odyssey" - Matt Kaplan](http://ed.ted.com/lessons/the-science-behind-the-myth-homer-s-odyssey-matt-kaplan)
- [Everything you need to know to read Homer's "Odyssey" - Jill Dash](https://ed.ted.com/lessons/everything-you-need-to-know-to-read-homer-s-odyssey-jill-dash)
- [In Our Time, The Odyssey](https://www.bbc.co.uk/programmes/p004y297)

## Sitasi Karya Ini

### APA
Cartwright, M. (2026, July 17). Odysseus. (Y. Meldiktha, Penerjemah). *World History Encyclopedia*. <https://www.worldhistory.org/trans/id/1-786/odysseus/>
### Chicago
Cartwright, Mark. "Odysseus." Diterjemahkan oleh Yuminsia Meldiktha. *World History Encyclopedia*, July 17, 2026. <https://www.worldhistory.org/trans/id/1-786/odysseus/>.
### MLA
Cartwright, Mark. "Odysseus." Diterjemahkan oleh Yuminsia Meldiktha. *World History Encyclopedia*, 17 Jul 2026, <https://www.worldhistory.org/trans/id/1-786/odysseus/>.

## Lisensi &amp; Hak Cipta

Dikirim oleh [Yuminsia Meldiktha](https://www.worldhistory.org/user/yuminsiameldikt/ "User Page: Yuminsia Meldiktha"), dipublikasikan pada 17 July 2026. Silakan periksa sumber aslinya untuk informasi hak cipta. Harap diperhatikan bahwa konten yang ditautkan dari halaman ini mungkin memiliki ketentuan lisensi yang berbeda.

