---
title: Periode Heian
author: Mark Cartwright
translator: Sabrina Go
source: https://www.worldhistory.org/trans/id/1-15937/periode-heian/
format: machine-readable-alternate
license: Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike (https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/)
updated: 2021-10-07
---

# Periode Heian

_Ditulis oleh [Mark Cartwright](https://www.worldhistory.org/user/markzcartwright/)_
_Diterjemahkan oleh [Sabrina Go](https://www.worldhistory.org/user/sabrinago)_

Periode Heian dalam sejarah Jepang mencakup tahun 794 sampai 1185 Masehi dan menjadi saksi perkembangan hebat kebudayaan Jepang mulai dari kesusatraan dan seni lukis. Pemerintahan dan administrasi didominasi oleh klan Fujiwara yang pada akhirnya disaingi oleh klan Minamoto dan klan Taira. Periode ini dinamai sesuai dengan ibu kotanya, Heiankyo, ditutup dengan Perang Genpei di mana klan Minamoto menjadi pemenang dan pemimpin mereka Yoritomo mendirikan keshogunan Kamakura.

### Dari Nara ke Heiankyo

Selama Periode Nara (710-794 Masehi) istana kekaisaran Jepang diwarnai dengan konfilk internal yang dimotivasi oleh para artistokrat yang saling berseteru demi keuntungan dan jabatan dan pengaruh yang berlebihan atas peraturan dari sekte-sekte Buddhis yang kuilnya tersebar di ibu kota. Pada akhirnya, situasi ini menyebabkan Kaisar Kammu (memerintah 781-806 Masehi) memindahkan ibu kota dari Nara ke (sementara) Nagaokakyo dan kemudian ke Heiankyo di tahun 794 Masehi untuk memulai kembali dari awal dan membebaskan pemerintahan dari korupsi dan pengaruh Buddhis. Hal ini menandai dimulainya Periode Heian yang berlangsung hinga abad ke-12 Masehi.

Ibu kota yang baru, Heiankyo, yang artinya ‘ibu kota kedamaian dan tenteram’, ditata dalam rencana jaringan biasa. Kota ini memiliki jalan tengah yang lebar yang membagi bagian timur dan barat. Arsitekturnya bergaya Tiongkok dengan sebagian besar bangunan administrasi publik memiliki pilar-pilar merah yang menyangga genting berwarna hijau. Para aristokrat memiliki istana dengan taman-taman yang ditata dengan hati-hati dan sebuah taman hiburan yang luas dibangun di sebelah selatan istana (Daidairi). Tidak ada kuil Buddha yang diizinkan di dalam bagian pusat kota dan tempat tinggal para seniman berkembang dengan adanya bengkel-bengkel untuk para seniman, pandai besi dan perajin tembikar.

Tidak ada bangunan Periode Heian dari ibu kota yang tersisa hari ini kecuali Shishin-den (Aula Penonton) yang terbakar habis namun dengan cermat direkonstruksi ulang dan Daigoku-den (Aula Negara) yang mengalami nasib sama dan dibangun kembali dalam skala yang lebih kecil di Kuil Heian. Sejak abad ke-11 Masehi nama tidak resmi ibu kota yang hanya berarti ‘ibu kota’ diresmikan: Kyoto. Kyoto tetap menjadi ibu kota Jepang selama ribuan tahun.

### Pemerintahan Heian

Kyoto adalah pusat pemerintahan yang terdiri dari kaisar, para menteri tinggi, dewan negara dan delapan kementrian yang, dengan bantuan birokrasi besar-besaran, menguasai lebih dari 7.000.000 orang yang tersebar di lebih dari 68 provinsi, masing-masing diperintah oleh gubermur daerah dan kemudian dibagi-bagi lagi menjadi delapan atau Sembilan distrik. Dalam Jepang yang lebih luas, nasib rakyat jelata tidak sebaik kaum bangsawan di istana yang mementingkan estetika. Sebagian besar masyarakat Jepang menggarap tanah, baik untuk dirinya sendiri atau tanah milik orang lain, dan mereka dibebani dengan adanya bandit dan pajak yang besar. Pemberontakan seperti yang terjadi di Kanto di bawah pimpinan Taira no Masakado antara tahun 935 dan 940 Masehi merupakan hal biasa.

[ ![Model of Kyoto](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/6582.jpg?v=1673096523) Model Kota Kyoto Wikiwikiyarou (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/6582/model-of-kyoto/ "Model of Kyoto")Aturan dalam pendistribusian tanah publik yang sudah dicetuskan di abad-abad sebelumnya berakhir pada abad ke-10 Masehi, dan hasilnya adalah proporsi tanah yang dimiliki oleh pribadi perlahan meningkat. Pada abad ke-12 Masehi 50% tanah dimiliki oleh pribadi (shoen) dan kebanyakan dari ini semua, diberi dispensasi khusus lewat bantuan atau karena alasan religius, dibebaskan dari pajak. Situasi ini mengakibatkan masalah serius pada keuangan negara. Pemilik tanah yang kaya dapat mengklaim kembali tanah baru dan mengembangkannya, sehingga makin memperkaya diri sendiri dan memperlebar jarak antara yang kaya dan miskin. Ada juga dampak politik praktis yang disebabkan karena para pemilik tanah besar menjadi semakin jauh dari tanah yang mereka miliki, kebanyakan dari mereka menetap di istana di Heiankyo. Ini artinya tanah mereka dikelola oleh bawahan yang berusaha untuk meningkatkan kekuasaan mereka, dan sebaliknya, para bangsawan dan kaisar menjadi semakin terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebagian besar hubungan antara rakyat biasa dengan otoritas pusat terbatas pada membayar pajak pada pemungut pajak lokal dan bersinggungan dengan polisi metropolitan yang tidak hanya menjaga ketertiban umum tapi juga menghukum pelaku kriminal.

Bahkan di istana, kaisar, meskipun masih penting dan masih dianggap agung, menjadi terpinggirkan oleh para birokrat yang berkuasa yang semuanya datang dari satu keluarga: klan Fujiwara. Tokoh-tokoh sperti Michinaga (966-1028 Masehi) tidak hanya mendominasi lembaga pembuat kebijakan dan pemerintahan seperti kantor perbendaharaan rumah tangga (*kurando-dokoro*) tapi juga berhasil menikahkan putri-putrinya dengan kaisar. Yang lebih melemahkan posisi kerajaan adalah fakta bahwa banyak kaisar yang naik takhta di usia kanak-kanak dan kemudian diatur oleh seorang wali (*Sessho*), biasanya seorang perwakilan dari keluarga Fujiwara. Ketika kaisar mencapai usia dewasa, ia masih dinasihati oleh pejabat yang lain lagi, *Kampaku*, yang memastikan klan Fujiwara masih memiliki kekuasaan dalam politik istana. Untuk menjamin situasi ini berlangsung, kaisar-kaisar baru dinominasikan bukan berdasarkan kelahirannya tapi berdasarkan sponsornya dan didorong atau dipaksa untuk turun takhta ketika berusia tiga puluhan demi penerus yang lebih muda. Sebagai contoh, Fujiwara Yoshifusa mendudukkan cucunya yang berusia tujuh tahun di takhta pada tahun 858 Masehi dan menjadi walinya. Banyak negarawan dari klan Fujiwara bertindak sebagai wali untuk tiga atau empat kaisar selama karir mereka.

Dominasi klan Fujiwara tidaklah total dan bukannya tanpa saingan. Kaisar Shirakawa (memerintah 1073-1087 Masehi) berusaha untuk menegaskan kebebasannya dari klan Fujiwara dengan turun takhta di tahun 1087 Masehi dan membiarkan putranya Horikawa berkuasa di bawah pengawasannya. Strategi kaisar ‘pensiun’, masih tetap memerintah, menjadi dikenal sebagai ‘pemerintahan tertutup’ (insei) sebab biasanya kaisar berada di dalam biara. Hal ini menambah roda lain ke dalam mesin pemerintahan yang sudah rumit.

Kembali ke provinsi-provinsi, pialang kekuasaan baru bermunculan. Dibiarkan beroperasi sendiri dan disulut oleh darah dari bangsawan kecil yang tercipta dari proses pemangkasan dinasti (ketika kaisar atau aristokrat memiliki terlalu banyak anak, anak-anak ini dihapus dari daftar warisan), dua kelompok penting berkembang, klan Minamoto (atau Genji) dan klan Taira (atau Heike). Dengan pasukan samurai pribadi, mereka menjadi instrumen penting di tangan anggota klan Fujiwara yang bersaing dalam perebutan kekuasaan internal yang akhirnya pecah di tahun 1156 Masehi dikenal sebagai Pemberontakan Hogen dan Pemberontakan Heiji di tahun 1160 Masehi.

[ ![Battles of the Genpei War](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/6496.jpg?v=1670946845) Perang Genpei Ash Crow (CC BY-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/6496/battles-of-the-genpei-war/ "Battles of the Genpei War")Klan Taira yang dipimpin oleh Taira no Kiyomori, akhirnya menyapu bersih semua lawan dan mendominasi pemerintahan selama dua decade. Akan tetapi, dalam Perang Genpei (1180-1185), klan Minamoto kembali memperoleh kemenangan dan di akhir perang, Pertempuran Dannoura, Pemimpin klan Taira, Tomamori dan kaisar muda, Antoku, melakukan bunuh diri. Tidak lama setelahnya, pemimpin klan Minamoto, Yoritomo, diberi gelar shogun oleh kaisar dan pemerintahannya mengawal Periode Kamakura (1185-1333 Masehi), juga dikenal sebagai keshogunan Kamakura, ketika pemerintahan Jepang didominasi oleh militer.

### Agama Heian

Untuk urusan agama, agama Buddha masih mendominasi, dibantu oleh biksu cendekiawan seperti Kukai (774-835 Masehi) dan Saicho (767-822 Masehi), yang masing-masing mendirikan sekte Buddhis Shingon dan Tendai. Mereka membawa ide-ide baru, praktik-praktik baru, dan teks, yang terkenal adalah *Sutra Teratai (Hokke-kyo)* dari kunjungan mereka ke Tiongkok, yang berisi pesan baru bahwa terdapat banyak cara berbeda namun sama sahnya untuk mendapat pencerahan. Ada juga Amida (Amitabha), Buddha dari Tanah Murni Buddhisme, yang bisa membantu para pengikutnya dalam jalan yang sulit ini.

Penyebaran agama Buddha dibantu oleh sokongan pemerintah, meskipun, kaisar mewaspadai kekuatan yang tidak semestinya di antara para pendeta Buddha sehingga mengangkat kepala biara dan mengurung para biksu di dalam biara mereka. Sekte-sekte Buddhis menjadi entitas politik yang kuat dan meski para biksu dilarang membawa senjata dan membunuh, mereka bisa membayar biksu-biksu muda dan tentara bayaran untuk melakukan pertarungan untuk mereka dalam rangka memenangkan kekuasaan dan pengaruh dalam kemelut para bangsawan, pengelola tanah, tentara pribadi dan kerajaan, kaisar dan mantan kaisar, bajak laut, dan klan-klan yang bertikai yang mengganggu politik Heian.

[ ![Sutra Inscribed Tablet](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/6543.jpg?v=1772482456) Prasasti Bertuliskan Sutra James Blake Wiener (CC BY-NC-SA) ](https://www.worldhistory.org/image/6543/sutra-inscribed-tablet/ "Sutra Inscribed Tablet")Prinsip-prinsip Konfusianisme dan Tao juga masih berpengaruh dalam administrasi yang tersentralisasi, serta kepercayaan Shinto dan animisme berlanjut, seperti sebelumnya, memegang kekuasaan atas masyarakat umum, sementara kuil Shinto seperti Kuil Agung Ise tetap menjadi tempat ziarah yang penting. Semua kepercayaan ini dipraktikan berdampingan, seringkali oleh individu yang sama, dari kaisar hingga petani yang sederhana.

### Hubungan dengan Tiongkok

Setelah kedutaan besar Jepang yang terakhir di istana Tang di tahun 838 Masehi, tidak ada lagi hubungan diplomatik formal dengan Tiongkok sebab Jepang agak mengisolasi diri tanpa perlu mempertahankan perbatasan atau pergi untuk menaklukkan wilayah. Namun demikian, perdagangan yang bersifat sporadis dan pertukaran budaya dengan Tiongkok tetap berlanjut seperti sebelumnya. Barang-barang yang diimpor dari Tiongkok antara lain obat-obatan, kain sutra, keramik, senjata, baju zirah dan alat musik, sementara Jepang mengirim mutiara, debu emas, amber, sutra mentah dan barang-barang bersepuh emas.

Biksu, cendekiawan, musisi dan seniman dikirim untuk melihat apa yang bisa mereka pelajari dari budaya yang lebih maju di Tiongkok dan membawa balik ide-ide baru dalam segala hal dari lukisan hingga obat-obatan. Para pelajar juga pergi, banyak yang menghabiskan bertahun-tahun memperlajari praktik administrasi Tiongkok dan membawa pulang pengetahuan mereka ke istana. Buku-buku juga berdatangan, sebah katalog yang bertanggal 891 Masehi berisi lebih dari 1700 judul Tiongkok diadakan di Jepang yang mencakup sejarah, puisi, protokol istana, obat-obatan, hukum dan Konfusianisme klasik. Tetap saja, terlepas adanya pertukaran ini, kurangnya misi reguler antara dua negara ini dari abad ke-19 berarti berkurangnya pengaruh budaya Tiongkok dalam Periode Heian, yang artinya budaya Jepang mulai menemukan jati dirinya untuk berkembang.

### Kebudayaan Heian

Periode Heian dicatat karena pencapaian budayanya, setidaknya di istana kekaisaran. Hal ini mencakup diciptakannya tulisan Jepang (kana) menggunakan aksara Tiongkok, kebanyakan secara fonetis, yang menghasilkan terciptanya novel pertama di dunia, *Hikayat Genji* oleh Murasaki Shikibu (sekitar tahun 1020 Maseshi), dan beberapa buku harian (*nikki*) terkenal yang ditulis oleh wanita-wanita istana, termasuk *Buku Bantal* oleh Sei Shonagon yang dirampungkannya sekitar tahun 1002 Masehi. Karya terkenal lain dari periode ini adalah *Buku Harian Izumi Shikibu*, *Kagero Nikki* karya Fujiwara Michitsuna dan *Kisah Keberuntungan Mekar* oleh Akazome Emon.

[ ![Tale of Genji Illustration](https://www.worldhistory.org/img/r/p/750x750/6492.jpg?v=1599455703) Ilustrasi Hikayat Genji Unknown Artist (Public Domain) ](https://www.worldhistory.org/image/6492/tale-of-genji-illustration/ "Tale of Genji Illustration")Berkembangnya karya tulis para wanita ini sebagian besar karena klan Fujiwara yang memastikan wanita-wanita istana yang mereka sponsori dikelilingi oleh kelompok yang menarik dan terdidik agar mendapatkan perhatian kaisar dan mengamankan monopoli mereka dalam urusan-urusan negara. Para pria juga kelihatannya tidak tertarik dengan buku harian yang remeh dan komentar-komentar tentang kehidupan dalam istana, mengakibatkan terbukanya ruang bagi para penulis wanita yang secara kolektif menciptakan genre sastra baru yang mengamati sifat fana kehidupan, yang dirangkum dalam frase *mono no aware* (kesedihan atau penderitaan berbagai hal). Para pria yang menulis sejarah melakukannya secara anonim atau bahkan berpura-pura sebagai wanita seperti Ki no Tsurayuki dalam memoar perjalanannya *Tosa Nikki*.

Para pria juga menulis puisi dan antologi pertama puisi Jepang yang dipesan oleh kerajaan, *Kokinshu* (‘Kumpulan dari Masa Lalu dan Sekarang’) terbit di tahun 905 Masehi. Ini adalah koleksi puisi oleh pria dan wanita yang dikumpulkan oleh Ki no Tsurayuki, yang terkenal dengan pernyataan, “Benih dari puisi Jepang berada di dalam hati manusia” (Ebrey, 199).

Di samping sastra, periode ini juga menghasilkan produksi pakaian yang sangat indah di istana kekaisaran, menggunakan sutra dan kain brokat Tiongkok. Seni visual diwakili oleh lukisan pada sekat ruangan, gulungan lukisan dan tulisan yang rumit (*e-maki*) dan kaligrafi. Reputasi seorang aristokrat dibangun tidak hanya dari posisinya di istana atau dalam administrasi tapi juga dari apresiasinya terhadap hal-hal semacam ini dan kemampuannya untuk menggubah puisi, memainkan musik, menari, dan ahli dalam permainan papan seperti go, dan kemahiran memanah.

Pelukis dan pematung terus menggunakan Buddhisme sebagai inspirasi untuk menghasilkan patung-patung kayu (dicat atau dibiarkan alami), lukisan para cendekiawan, lonceng perunggu bersepuh emas, patung Buddha dari batu potong, cermin perunggu yang dihias, dan wadah-wadah berpernis tempat menyimpan sutra yang semuanya membantu menyebarkan gambaran sekte baru di Jepang. Demikian besarnya permintaan untuk seni hingga untuk pertama kalinya kelas seniman professional muncul, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh biksu-biksu cendekia. Melukis juga menjadi kegiatan menghabiskan waktu luang bagi para aristokrat.

Secara bertahap, pendekatan gaya Jepang yang lebih menyeluruh melebarkan jangkauannya dalam hal seni. Gaya Jepang, *Yamato-e*, berkembang terutama dalam seni lukis, yang membedakan dengan karya bergaya Tiongkok. Gaya ini memiliki ciri garis-garis yang lebih bersudut, penggunaan warna-warna yang lebih cerah dan detail dekoratif yang lebih besar. Potret tokoh-tokoh istana yang bagaikan aslinya seperti yang dibuat oleh Fujiwara Takanobu, ilustrasi-ilustrasi yang terinspirasi oleh kesusastraan Jepang dan lanskap menjadi populer, membuka jalan untuk karya-karya yang lebih besar untuk datang pada periode abad pertengahan.

 This content was made possible with generous support from the [Great Britain Sasakawa Foundation](http://www.gbsf.org.uk/?utm_source=ancient.eu&utm_medium=link&utm_campaign=ancient.eu).

#### Editorial Review

This human-authored definition has been reviewed by our editorial team before publication to ensure accuracy, reliability and adherence to academic standards in accordance with our [editorial policy](https://www.worldhistory.org/static/editorial-policy/).

## Daftar Pustaka

- [Beasley, W.G. *The Japanese Experience A Short History of Japan.* University of California, 1999.](https://www.worldhistory.org/books/B000ORKKBI/)
- [Ebrey, P.B. *Pre-Modern East Asia.* Cengage Learning, 2013.](https://www.worldhistory.org/books/1133606512/)
- [Henshall, K. *Historical Dictionary of Japan to 1945.* Scarecrow Press, 2013.](https://www.worldhistory.org/books/0810878712/)
- [Mason, R.H.P. *A History of Japan.* Tuttle Publishing, 1997.](https://www.worldhistory.org/books/080482097X/)
- [Tsuda, N. *A History of Japanese Art.* Tuttle Publishing, 2009.](https://www.worldhistory.org/books/4805310316/)
- [Whitney Hall, J. *The Cambridge History of Japan, Vol. 2.* Cambridge University Press, 1999.](https://www.worldhistory.org/books/0521223539/)

## Tentang Penulis

Mark adalah seorang penulis, peneliti, sejarawan, dan editor penuh waktu. Minat khususnya meliputi seni, arsitektur, dan gagasan yang ada di semua peradaban. Mark meraih gelar MA dalam bidang Filsafat Politik dari University of York dan menjabat sebagai Direktur Penerbitan di WHE.

## Garis Waktu

- **767 CE - 822 CE**: Life of [Saicho](https://www.worldhistory.org/Saicho/), founder of Tendai [Buddhism](https://www.worldhistory.org/buddhism/) in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **774 CE - 835 CE**: Life of the monk [Kukai](https://www.worldhistory.org/Kukai/) (aka Kobo Daishi), founder of Shingon [Buddhism](https://www.worldhistory.org/buddhism/) in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **781 CE - 806 CE**: Reign of [Emperor Kammu](https://www.worldhistory.org/Emperor_Kammu/) in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **c. 793 CE - 864 CE**: Life of [Ennin](https://www.worldhistory.org/Ennin/), the [Buddhist](https://www.worldhistory.org/buddhism/) scholar-monk and abbot of [Enryakuji](https://www.worldhistory.org/Enryakuji/), who brought many esoteric teachings from [China](https://www.worldhistory.org/china/) to [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).n
- **794 CE**: [Emperor Kammu](https://www.worldhistory.org/Emperor_Kammu/) moves the Japanese capital to [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto).
- **794 CE**: [Emperor Kammu](https://www.worldhistory.org/Emperor_Kammu/) builds the [Shinto](https://www.worldhistory.org/Shinto/) Herano shrine at [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto).
- **794 CE - 1185 CE**: The [Heian Period](https://www.worldhistory.org/Heian_Period/) in [ancient Japan](https://www.worldhistory.org/Ancient_Japan/).
- **826 CE**: A five-storey pagoda is added to the [To-ji](https://www.worldhistory.org/To-ji/) [temple](https://www.worldhistory.org/temple/) complex in [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto).
- **838 CE**: Last Japanese embassy to [China](https://www.worldhistory.org/china/) during the [Heian Period](https://www.worldhistory.org/Heian_Period/).
- **845 CE - 903 CE**: Life of the deified scholar and court official Sugawara no Michizane, aka [Tenjin](https://www.worldhistory.org/Tenjin/).
- **849 CE**: [Ennin](https://www.worldhistory.org/Ennin/) leads the first imperial-sponsored esoteric ritual at [Enryakuji](https://www.worldhistory.org/Enryakuji/), [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **854 CE**: [Ennin](https://www.worldhistory.org/Ennin/) becomes the abbot of [Enryakuji](https://www.worldhistory.org/Enryakuji/), [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto), [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **859 CE**: The Iwashimizu shrine is built and dedicated to the [Shinto](https://www.worldhistory.org/Shinto/) [god](https://www.worldhistory.org/God/) [Hachiman](https://www.worldhistory.org/Hachiman/) in [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto).
- **866 CE**: [Fujiwara](https://www.worldhistory.org/Fujiwara_Clan/) no Yoshifusa becomes the first Japanese regent not of royal blood.
- **874 CE**: The [Buddhist](https://www.worldhistory.org/buddhism/) [Daigoji](https://www.worldhistory.org/Daigoji/) [temple](https://www.worldhistory.org/temple/) is founded by Shobo at [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto).
- **887 CE - 897 CE**: Reign of [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/)'s Emperor Uda
- **897 CE - 930 CE**: Reign of [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/)'s Emperor Daigo.
- **899 CE**: Sugawara no Michizane ([Tenjin](https://www.worldhistory.org/Tenjin/)) is made Minister of the Right. The [Fujiwara](https://www.worldhistory.org/Fujiwara_Clan/) leader Tokihira is made Minister of the Left.
- **901 CE**: Sugawara no Michizane ([Tenjin](https://www.worldhistory.org/Tenjin/)) is exiled to Dazaifu, Kyushu.
- **905 CE**: The Kokinshu anthology of Japanese poetry is compiled.
- **905 CE**: The Kokinshu anthology of poems is compiled in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/) by Ki no Tsurayuki.
- **c. 951 CE**: The five-storey pagoda is built at [Daigoji](https://www.worldhistory.org/Daigoji/), [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto).
- **987 CE**: Sugawara no Michizane is officially deified and given the title [Tenjin](https://www.worldhistory.org/Tenjin/).
- **995 CE**: [Fujiwara](https://www.worldhistory.org/Fujiwara_Clan/) no Michinaga becomes the [Fujiwara clan](https://www.worldhistory.org/Fujiwara_Clan/) leader in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **c. 1002 CE**: Sei Shonagon completes [The Pillow Book](https://www.worldhistory.org/The_Pillow_Book/), a Japanese classic describing court life during the [Heian Period](https://www.worldhistory.org/Heian_Period/).
- **c. 1004 CE**: Japanese poet [Izumi Shikibu](https://www.worldhistory.org/Izumi_Shikibu/) writes her 'Izumi Shikibu Diary'.
- **c. 1020 CE**: The [Tale of Genji](https://www.worldhistory.org/Tale_of_Genji/) is completed by Murasaki Shikibu in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **1052 CE**: The [Buddhist](https://www.worldhistory.org/buddhism/) [temple](https://www.worldhistory.org/temple/) site [Byodo-in](https://www.worldhistory.org/Byodo-in/) is founded in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/) by [Fujiwara](https://www.worldhistory.org/Fujiwara_Clan/) no Yorimichi.
- **1073 CE - 1087 CE**: Reign of Emperor Shirakawa in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **1073 CE - 1087 CE**: Reign of [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/)'s Emperor Shirakawa.
- **1115 CE**: The [Buddhist](https://www.worldhistory.org/buddhism/) [Daigoji](https://www.worldhistory.org/Daigoji/) [temple](https://www.worldhistory.org/temple/) complex at [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto) is significantly expanded.
- **1156 CE**: Hogen Disturbance in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **1160 CE**: Heiji Disturbance in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **1164 CE**: The [Buddhist](https://www.worldhistory.org/buddhism/) [Sanjusangendo](https://www.worldhistory.org/Sanjusangendo/) [temple](https://www.worldhistory.org/temple/) is founded at [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto), [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/).
- **1180 CE**: Taira forces defeat an army led by Minamoto no Yorimasa.
- **1180 CE - 1185 CE**: The [Genpei War](https://www.worldhistory.org/Genpei_War/) in [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/) between the Taira and Minamoto clans.
- **1181 CE**: Taira forces defeat an army led by Minamoto no Yukie.
- **1183 CE**: Japanese emperor Go-Shirakawa officially recognises the authority of Minamoto no Yoritomo in the Kanto region.
- **1183 CE**: Kiso Yoshinaka defeats a large Taira army at Kurikara in Etchu and occupies the Japanese capital [Heiankyo](https://www.worldhistory.org/Heiankyo/) (Kyoto).
- **1183 CE - 1198 CE**: Reign of [Japan](https://www.worldhistory.org/disambiguation/Japan/)'s Emperor Go-Toba.
- **1185 CE**: [Battle](https://www.worldhistory.org/disambiguation/battle/) of Dannoura where the Minamoto defeat the rival Taira. The young emperor Antoku drowns.

## Tautan Eksternal

- [Heian Period (794–1185) | Essay | The Metropolitan Museum of Art | Heilbrunn Timeline of Art History](https://www.metmuseum.org/toah/hd/heia/hd_heia.htm)

## Sitasi Karya Ini

### APA
Cartwright, M. (2021, October 07). Periode Heian. (S. Go, Penerjemah). *World History Encyclopedia*. <https://www.worldhistory.org/trans/id/1-15937/periode-heian/>
### Chicago
Cartwright, Mark. "Periode Heian." Diterjemahkan oleh Sabrina Go. *World History Encyclopedia*, October 07, 2021. <https://www.worldhistory.org/trans/id/1-15937/periode-heian/>.
### MLA
Cartwright, Mark. "Periode Heian." Diterjemahkan oleh Sabrina Go. *World History Encyclopedia*, 07 Oct 2021, <https://www.worldhistory.org/trans/id/1-15937/periode-heian/>.

## Lisensi &amp; Hak Cipta

Dikirim oleh [Sabrina Go](https://www.worldhistory.org/user/sabrinago/ "User Page: Sabrina Go"), dipublikasikan pada 07 October 2021. Silakan periksa sumber aslinya untuk informasi hak cipta. Harap diperhatikan bahwa konten yang ditautkan dari halaman ini mungkin memiliki ketentuan lisensi yang berbeda.

